Satu jam kemudian, Asha dan Febby duduk berdampingan di sofa sembari menghela napas panjang secara bersamaan, melempar tatapan kosong ke langit-langit langit kamar yang mendadak terasa begitu sunyi. Asha melirik ke samping.
"Kamu kenapa?"
Febby mengembuskan napas penuh nostalgia, bibirnya tersenyum miris. "Ya... setelah bertahun-tahun, mendengar nama Devan Pramudya disebut lagi tiba-tiba membuatku merindukan masa muda kita..."
Asha tetap bungkam, merapatkan jemarinya yang mendadak dingin.
Febby menoleh, menatapnya dengan tatapan intens dan menyelidik. "Kalau kamu sendiri?"
Asha menurunkan pandangannya, mengunci bibir rapat-rapat dan menolak untuk bersuara.
Febby menyenggol lengan Asha dengan sikunya, mencoba memecah keheningan yang menyiksa.
"Jangan berlagak mati rasa begitu, deh. Satu sekolah juga tahu dulu kamu tergila-gila pada Devan, dan dia jelas-jelas memperlakukanmu berbeda dari siswi lain. Kalau saja dia tidak pindah ke luar negeri tepat setelah kelulusan SMA, kalian berdua pasti sudah menikah dan punya anak sekarang."
Asha menarik kedua lutut ke dadanya, menyembunyikan wajahnya di sana sebelum menguap lelah, mencoba mengusir sesak.
"Kamu sendiri yang bilang 'kalau'. Kalau dia tidak ke luar negeri, kalau keluargaku tidak bangkrut, kalau aku tidak berakhir menjadi jalang simpanan Gavin Elgaza..."
"Stop, stop, stop," potong Febby cepat, tidak tahan mendengar nada merendahkan diri dari sahabatnya. "Kamu dan Gavin itu sama-sama orang dewasa. Di zaman sekarang, kita menyebutnya hubungan yang saling menguntungkan. Berhenti berpikiran konservatif dan buang jauh-jauh omongan bodoh yang menyiksa dirimu sendiri itu! Lagi pula, berita pertunangannya baru keluar hari ini, kamu kan tidak tahu apa-apa sebelumnya."
Febby adalah sahabat terdekat Asha sejak masa SMA, satu-satunya orang yang memegang rahasia kelam tentang hubungannya dengan Gavin.
Asha menatap kosong ke arah dinding di depannya, dadanya terasa berdenyut nyeri, mendadak merasa sangat letih oleh kenyataan.
"Tapi dia memberiku uang setiap bulan, Feb. Hubungan kami murni karena transaksi menjijikkan itu."
"Memangnya pacaran zaman sekarang tidak pakai uang? Yang kalian lakukan wajar seperti orang pacaran jaman sekarang. Dia membelanjakan uangnya untukmu, dan menidurimu, enak saja jika semuanya gratis! Anggap saja kamu sedang berpacaran dengan pria kaya yang pelit komitmen," cerca Febby berapi-api.
Asha memaksakan diri tersenyum getir. "...Terima kasih, itu sangat menghibur."
Febby terkekeh sambil menepuk pundak Asha dengan sayang.
"Nah, begitu dong. Lagipula, kalian sudah putus sekarang. Kebetulan Devan juga sudah pulang, kamu bisa melangkah maju... maksudku, menjemput kembali kebahagiaanmu yang sempat terenggut."
Asha bangkit berdiri dengan senyum tipis yang dipaksakan. "Sudah larut, ayo mandi lalu tidur."
Febby menatap punggung sahabatnya yang tampak rapuh, ingin mengatakan sesuatu tetapi memilih menelan kembali kata-katanya.
Dia tahu betul, Asha sangat memikirkan masa lalunya selama tiga tahun menjadi pemuas nafsu Gavin. Namun, di luar penghiburan sederhana ini, tidak ada lagi yang bisa dia lakukan untuk meringankan beban itu.
Gadis yang dulunya adalah seorang pewaris kaya yang bersinar, dimanjakan bagai putri raja, dan tidak pernah mengenal yang namanya rasa sakit, kini telah lama menundukkan kepalanya pada cambuk realitas yang kejam.
Asha telah melewati banyak penderitaan yang berdarah-darah selama bertahun-tahun ini hanya untuk membersihkan utang menggunung yang ditinggalkan oleh kebangkrutan tragis ayahnya.
Namun untunglah, sekarang utang-utang itu sudah hampir lunas seluruhnya.
Asha berbaring di tempat tidur. Tubuhnya jelas-jelas sangat lelah akibat permainan kasar Gavin beberapa jam lalu, namun sepasang matanya menolak terpejam.
Biasanya, pada malam yang persis seperti ini setiap minggunya, Gavin akan menguras habis seluruh energinya hingga ia akan langsung tumbang begitu sampai di rumah, tertidur lelap hingga tengah hari keesokan harinya.
Namun malam ini, nama Gavin Elgaza dan Devan Pramudya menjelma bagai dua iblis kecil di dalam benaknya, terus-menerus berbenturan, mengobarkan perang di kepalanya, dan memicu rasa sakit yang luar biasa.
Merasa frustrasi, Asha akhirnya duduk tegak. Mengingat sikap ambigu, liar, dan penuh amarah Gavin sebelum pria itu melangkah pergi tadi, ia memutuskan untuk menegaskan garis batas secara formal, jelas, dan tertulis. Hubungan ini harus benar-benar mati.
Ia mengambil ponsel dari atas nakas, merangkai sebuah pesan teks dengan jemari yang sedikit gemetar. Setelah merenung cukup lama, ia menekan tombol kirim.
Sungguh ironis! Mereka tidak pernah memiliki selembar kontrak tertulis pun selama bersama, namun perpisahan mereka justru harus dibuat begitu formal.
Ini adalah caranya untuk menutup lembaran cerita penuh gairah dan dosa selama tiga tahun ini secara permanen.
Setelah melakukan semua itu, ia meletakkan ponselnya kembali dan masuk ke dalam selimut, mencoba memejamkan mata di tengah hampa yang mendera.
Gavin baru membaca pesan teks dari Asha keesokan paginya.
Ia mengangkat tangan untuk menerima cangkir kopi yang dibawakan oleh pelayan dengan gerakan anggun, lalu melayangkan lirikan sedingin es ke layar ponselnya yang menyala.
Asha: [Tuan Gavin, terima kasih atas perhatian dan kebaikan Anda selama bertahun-tahun ini. Kata-kata tidak akan mampu mengungkapkan rasa terima kasih saya. Saya mendoakan kesuksesan dalam setiap urusan Anda dan kesehatan yang sempurna. Saya juga mendoakan kebahagiaan serta keharmonisan bagi Anda dan calon istri Anda, semoga lancar hingga hari pernikahan.]
Gavin menyeringai sarkas, rahangnya mengeras sesaat sebelum ia meletakkan ponselnya dengan posisi layar menghadap ke bawah di atas meja makan—mengabaikannya begitu saja seolah pesan itu hanyalah sampah tak berarti.
Di hadapannya, Ayu Sekar—ibu Gavin—bersuara memecah keheningan, "Karena pernikahanmu dengan Valerie sudah diatur, kamu harus meluangkan lebih banyak waktu bersamanya. Segera bangun kedekatan kalian agar pernikahan bisa dipercepat."
Suara Gavin terdengar sangat datar, dingin, dan tanpa emosi. "Pernikahan ini murni transaksi bisnis, apakah masih ada urgensi untuk membangun perasaan yang tidak berguna?"
Ayu Sekar tertegun, tahu betul bahwa putranya tidak menyukai perjodohan ini, namun ia tidak peduli.
Dengan nada tajam dan penuh penekanan, sang ibu mengingatkan, "Papamu sebentar lagi akan membawa wanita jalang itu dan anak haramnya kembali ke Indonesia! Jika kamu tidak bergerak cepat, mereka akan memanfaatkan celah ini untuk merebut posisimu di perusahaan. Meskipun keluarga Maheswari tidak sekuat kita, mereka tetap bisa menjadi tameng yang kokoh untuk menyokong posisimu. Jika Papamu nekat memasukkan anak haram itu ke dalam jajaran direksi, dia harus berpikir dua kali jika ada kekuatan besar keluarga Valerie di belakangmu!"
Gavin tidak mendebat, ia hanya menyahut malas dengan nada meremehkan, "Asalkan Mama bahagia."
Ayu Sekar merapatkan birbunya, menatap putranya tajam. "Gavin, jujurlah pada Mama. Apakah alasanmu menolak menikahi Valerie karena wanita simpananmu itu?”
Sang ibu tahu bahwa selama tiga tahun terakhir, Gavin selalu mendatangi suatu tempat setiap akhir pekan dan menyembunyikan seorang wanita di sana untuk memuaskan hasratnya.
Di usia putranya saat ini, memiliki pelampiasan nafsu adalah hal yang sangat wajar, dan dia tidak pernah mencampuri urusan ranjang itu sebelumnya. Namun sekarang, situasinya sudah berbeda.
Jika w************n itu berani mengancam kestabilan pernikahan bisnis antara keluarga Elgaza dan Maheswari, dia tidak akan segan-segan menyingkirkannya!
"Mama terlalu banyak berpikir,"
Gavin bangkit berdiri, mengancingkan jasnya dengan gerakan lambat yang berwibawa.
"Dia hanya wanita biasa, tidak akan pernah memiliki kapasitas atau pun harga diri untuk memengaruhi keputusan bisnisku. Seperti yang kubilang, asalkan Mama bahagia, tidak ada bedanya bagiku apakah wanita yang mendampingiku bernama Valerie Maheswari atau wanita lain."
Setelah mengucapkan kalimat dingin itu, ia berbalik dan melangkah lebar meninggalkan ruangan, menyisakan aura intimidasi yang pekat.
Ayu Sekar mencengkeram kain taplak meja dengan sangat erat hingga jemarinya memutih, wajahnya yang biasanya anggun tampak bergetar menahan amarah yang bergejolak.
Dia tidak akan pernah memberikan celah sekecil apa pun bagi wanita simpanan itu maupun anak haram suaminya untuk menghancurkan apa yang menjadi miliknya!
***
Asha terbangun oleh jeritan alarm yang memekakkan telinga pada Senin pagi.
Ia mengambil setelan blazer formal dari dalam lemari pakaian lalu mengenakannya dengan terburu-buru. Setelah memoleskan makeup tipis untuk menyamarkan lingkaran hitam dan rona pucat di bawah matanya, ia melangkah keluar kamar.
Suara Febby terdengar dari arah dapur, sibuk dengan peralatan masak. "Aku sudah membuat sarapan, makan sedikit sebelum pergi."
Asha membungkuk untuk mengenakan heels-nya, mengabaikan rasa perih yang menjalar di tubuhnya. "Tidak usah, aku sudah sangat terlambat."
"Kalau begitu bawa ini dan makan di jalan..."
Namun, begitu Febby melangkah keluar dari dapur dengan kotak makan di tangannya, Asha sudah menutup pintu depan dengan tergesa-gesa.
“Dasar keras kepala!” gerutu Febby yang hanya bisa menggigit roti lapisnya sendiri dengan kesal sebelum berbalik untuk merapikan ruangan.
Asha bekerja di sebuah agensi penerjemahan ternama. Minggu lalu, perusahaan menerima proyek penerjemahan bahasa Spanyol berskala besar, dan klien tersebut secara spesifik meminta jasanya setelah melalui review jejak rekam kerja Asha yang bersih dan profesional.
Manajer agensi berkali-kali menegaskan bahwa ini adalah klien eksekutif kelas atas yang sangat penting, dan Asha dilarang keras melakukan kesalahan sekecil apa pun jika tidak ingin kariernya hancur.
Ketika Asha tiba di lokasi pertemuan yang telah ditentukan di sebuah kawasan elit, jarum jam baru menunjukkan pukul 08.45—lima menit lebih awal dari jadwal.
Ia mengembuskan napas lega, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang memburu.
Sembari berdiri di tepi jalan, Asha menatap bekas kemerahan yang mencolok di pergelangan tangannya. Mengingat kembali bagaimana kasarnya cengkeraman Gavin malam itu, ia meringis pelan lalu melangkah masuk ke dalam apotek terdekat untuk membeli salep pereda nyeri. Beberapa bagian intim di tubuhnya juga masih terasa cukup ngilu akibat gairah brutal pria itu.
Tepat setelah ia mengantongi obat tersebut dan kembali keluar ke trotoar, sebuah mobil Porsche putih mewah mendadak melaju kencang, mengerem mendadak, dan berhenti tepat di depannya dengan suara berdecit nyaring.
Seorang wanita dengan wajah yang sangat cantik, memancarkan aura anggun dan berkelas, membuka pintu kemudi. Ia melangkah keluar dengan percaya diri, lalu melemparkan senyuman yang sangat lembut dan menawan ke arahnya. "Anda pasti Asha Kirana."
Asha menatapnya, pupil matanya seketika berkontraksi hebat saat fokusnya mendadak hilang selama satu detik. Jantungnya mencelos bebas.
Wanita itu mengulurkan tangannya yang putih mulus dengan senyum yang kian mengembang. "Halo, saya Valerie Maheswari."
Detik itu, bumi seolah berhenti berputar bagi Asha. Tentu saja ia langsung mengenali wajah menawan itu. Baru beberapa jam yang lalu, seluruh platform media digital dipenuhi oleh foto-foto mesra wanita ini bersama Gavin Elgaza sebagai pasangan paling serasi tahun ini.
Asha sekuat tenaga mengumpulkan kembali kesadarannya yang sempat runtuh, menahan gejolak di dadanya, lalu dengan perlahan menyambut uluran tangan wanita itu dengan jemari yang dingin. "Halo, Bu Valerie."
Valerie tersenyum menawan, matanya berbinar seduktif dan penuh kepuasan. "Asha, ternyata Anda aslinya jauh lebih cantik daripada foto yang tertera di berkas resume. Saya tahu saya tidak salah memilih orang untuk urusan penting ini."
Asha terpaksa menarik sudut bibirnya, membentuk senyuman kaku yang terasa sangat menyiksa, benar-benar kehilangan kata-kata untuk merespons.
Dadanya mendadak terasa dihantam godam besar. Jika sejak awal ia tahu bahwa klien penting yang dimaksud oleh agensinya adalah tunangan resmi Gavin Elgaza—pria yang baru saja menidurinya dengan brutal semalam—ia tidak akan pernah sudi mengambil pekerjaan ini meski harus merangkak atau dibayar dengan harga setinggi langit sekali pun.