Garda menemukan mereka di kanal-kanal Pulau Singgah, dan kali ini ia tidak sendiri.
Kota itu dibangun di atas air seperti seluruh Nusakirana, tapi lebih padat — kanal-kanal sempit di antara rumah-rumah bertingkat, jembatan kayu rendah, dan sampan yang berebut jalan. Reza, Larasati, dan Jumena bergerak melalui kanal kembali ke teluk tempat pinisi bersembunyi, membawa pelunasan kedua yang dijanjikan Bunda Sari sebagai imbalan persekutuan mereka. Tapi di tikungan kanal sempit, sebuah sampan memotong jalan mereka, dan Garda berdiri di haluannya, simpul melilit lengannya, dua pemburu lain di belakangnya.
"Aku menawarkan jalan mudah di pulau tenun," kata Garda, tersenyum. "Kau memilih jalan sulit. Sekarang aku tutup semua jalan." Ia mengangkat segulung tali. "Aku punya hadiah untukmu. Simpul atas namamu, Reza Wirasena. Utang yang katanya kau buat di pasar tadi pagi."
"Aku tidak mengikat utang apa pun," kata Reza.
"Tentu tidak. Ini palsu. Tapi Balai yang mencatat, dan Balai bilang ini asli." Garda meletakkan jari di simpul palsu itu. "Begini cara kerjanya: aku menariknya. Karena ia atas namamu, tubuhmu yang membayar — di mana pun kau berada. Aku menguras tenagamu dari jauh, dan kau akan terlalu lemah untuk berlayar, terlalu lemah untuk apa pun. Lalu Balai menyita Simpul Akhir saat kau terkapar. Bersih. Tanpa kekerasan." Senyumnya melebar. "Aku bilang Balai tidak suka kotor."
Garda menarik.
Reza merasakannya menghantam — tarikan pada simpul atas namanya, tubuhnya mulai dikuras dari jarak jauh. Lututnya menekuk. Tapi di tengah rasa kosong yang menyergap, sesuatu yang dikatakan Bunda Sari kembali padanya, dan sesuatu yang lebih tua — pelajaran kakeknya yang ia hampir lupa. Simpul tak pernah bisa dihapus. Hanya dialihkan, dilunasi, atau dibiarkan mencekik.
Dialihkan.
Garda menarik utang palsu atas nama Reza. Tapi sebuah utang palsu tetap utang — ia punya bentuk, punya simpul, punya dua ujung. Dan Reza, yang lemah dalam menarik tapi cekatan dalam membaca, melihat bentuknya. Ia tak punya tenaga untuk melawan tarikan. Tapi ia tak perlu melawan. Ia hanya perlu mengalihkan ujung yang lain.
Dengan jari gemetar, Reza menyentuh tali raminya sendiri, mencari simpul kosong — simpul yang sudah dilunasi, rata, tak terpakai. Lalu, alih-alih menahan tarikan Garda, ia menyambungnya. Ia mengalihkan utang palsu itu dari namanya ke simpul kosong, lalu — inilah yang membuat Garda terkesiap — ia membalik aliran tarikan kembali ke sumbernya. Utang palsu yang dibuat Garda tidak punya pemilik sejati. Saat Reza mengalihkannya dan membaliknya, tarikan Garda tak punya tempat berlabuh kecuali kembali pada yang membuatnya.
Garda menjerit. Tarikannya sendiri berbalik menghantamnya, menguras tenaganya, dan ia terhuyung di haluan sampannya, simpul di lengannya berasap. Tali yang ia pegang — simpul palsu itu — mengeras, lalu pecah, dan tetes demi tetes cairan gelap menetes darinya. Simpul yang berdarah: tanda utang palsu yang dipaksa balik pada pembuatnya.
"Kau—" Garda terengah, wajahnya pucat. "Tidak mungkin. Kau terlalu lemah untuk menarik—"
"Aku tidak menarik," kata Reza, berdiri tegak meski seluruh tubuhnya bergetar. "Aku mengalihkan. Itu hukumnya, Garda. Kau menghabiskan hidupmu menarik, menarik, menarik — dan kau lupa sistem ini punya tiga jalan, bukan satu. Kakekku mengajariku saat aku berumur tujuh tahun."
Tapi kemenangan tak pernah bersih. Pemburu kedua melempar, dan sebatang besi pemberat tali menghantam Jumena di bahu saat lelaki itu mendorong Larasati ke balik karung untuk melindunginya. Jumena tumbang, darah merembes — yang kini tampak hitam di mata Reza yang kehilangan merah — membasahi geladak sampan.
"Jumena!" Reza menangkapnya. Luka di bahu, dalam tapi tidak fatal. Jumena meringis, mencengkeram lengan Reza.
"Pergi," desis Jumena. "Aku tahan mereka. Bawa adikmu—"
"Aku tidak meninggalkan orang yang berutang padaku begitu saja," kata Reza, dan ia mendorong sampan mereka ke kanal samping yang sempit, mengayuh sekuat sisa tenaganya, meninggalkan Garda yang terkapar dan pemburu yang ragu mengejar ke gang yang tak mereka kenal.
Mereka berlindung di gudang kosong di tepi kanal. Reza membalut luka Jumena dengan kain robekan bajunya. Larasati memegang lampu, tangannya gemetar. Dan dalam keremangan, Jumena bicara, suaranya tegang karena sakit, tapi ada hal lain di matanya — rasa bersalah yang sudah lama dipendam.
"Nak," katanya. "Aku harus jujur padamu. Sebelum lebih jauh." Ia menarik napas. "Aku bukan sekadar nakhoda yang ditolong kakekmu di badai. Kakekmu mencariku, dulu, sengaja. Karena aku tahu sesuatu. Karena aku ada di sana, dua puluh lima tahun lalu, saat semuanya dimulai." Ia menatap Reza. "Aku awak kapal yang membawa kakekmu ke Pulau Singgah malam ia menyembunyikan bukti dari Balai. Aku tahu apa itu Simpul Akhir, Nak. Dan aku tahu siapa Patih."
Reza membeku. "Kau tahu? Sejak awal? Kenapa kau diam—"
"Karena kakekmu menyuruhku diam," kata Jumena, suaranya pecah. "Sampai kau siap. Sampai kau cukup paham hukum tali untuk tidak terbunuh oleh kebenaran. Dan setelah melihat apa yang baru kau lakukan pada Garda—" ia menyeringai pahit lewat rasa sakitnya, "—kurasa kau sudah siap."