Pulau Singgah adalah jantung dagang Nusakirana, dan tidak ada yang membuatnya jelas selain Pasar Janji. Di sini simpul bukan rahasia keluarga yang dijaga — di sini ia komoditas, ditumpuk di lapak, ditawar dengan suara keras, ditukar seperti rempah. Penyimpul-pialang berdiri di balik meja kayu memamerkan tali-tali bersimpul: utang seorang petani, suara seorang penyanyi, lima tahun kekuatan seorang pandai besi, semua dijual pada penawar tertinggi. Reza berjalan melewatinya dengan perut mual. Ini yang ditakuti kakeknya, mungkin — dunia tempat janji manusia jadi barang dagangan.
Di sinilah, kata simpul warisannya, jejak kakek bercabang. Ada utang yang menunggu di Pasar Janji. Tapi tak seperti Nyai Imbang yang menjaga utangnya dengan hormat, di sini utang sudah berpindah tangan berkali-kali, terjual dan terbeli, dan Reza harus menelusurinya lewat para pialang.
Ia diberi nama satu pialang oleh seorang pedagang yang ia tagih dengan halus: Bunda Sari, yang menguasai sudut pasar tempat utang-utang tua diperdagangkan. Reza menemukannya di kedai kopi yang dikelilingi gulungan tali dan lontar catatan — perempuan paruh baya dengan cincin di setiap jari dan mata yang menghitung nilai segala sesuatu, termasuk Reza, dalam sekali pandang.
"Wirasena," katanya, mengisap pipa rokoknya. "Marga yang sedang naik daun di catatan Balai. Duduk, Nak. Kau mau membeli kembali jejak kakekmu."
"Aku mau menariknya," koreksi Reza. "Itu utang keluargaku."
"Dulu." Bunda Sari menyeringai. "Utang berpindah, Nak. Salah satu utang-budi padamu, yang kakekmu tinggalkan di pulau ini, sudah terjual tiga kali. Sekarang ada di tanganku. Aku membelinya murah dari seseorang yang tak tahu nilainya. Kau mau menariknya? Kau harus membelinya dariku dulu."
Reza menahan amarah. Hukum pukasta memang memperbolehkan pengalihan — utang bisa dijual ke nama lain. Tapi ada yang tidak beres. "Tunjukkan tali itu."
Bunda Sari menyodorkan segulung tali bersimpul. Reza menyentuhnya untuk membaca — dan di sinilah ia berbuat ceroboh, didorong tergesa dan tenggat yang berdetak. Ia tak memeriksa apakah membaca ini menuntut bayaran. Ia hanya menyentuh, memejam, dan masuk ke dalam simpul untuk memastikan ini benar milik kakeknya.
Simpul itu menjepit balik.
Ini bukan utang biasa. Ini simpul-perangkap — dirancang agar siapa pun yang membacanya tanpa izin membayar di tempat. Dan harganya bukan tenaga, bukan warna. Reza merasakannya seketika: sebuah lubang terbuka di benaknya, dan sesuatu jatuh ke dalamnya. Sebuah kenangan. Ia mencari-cari, panik — dan menemukan ada ruang kosong tempat dulu ada sesuatu. Wajah ibunya. Ia tahu ibunya bernama Sekar. Ia tahu ibunya meninggal saat Larasati lahir. Tapi wajahnya — bagaimana ibunya tersenyum, bagaimana suaranya menyanyikan tembang di malam hujan — lenyap. Hitam. Dibayarkan ke dalam simpul.
Reza menarik tangannya, terengah, mata berair. "Apa yang kau—"
"Pelajaran," kata Bunda Sari tenang, tidak tampak menyesal sedikit pun. "Jangan pernah membaca simpul orang lain tanpa membayar dulu. Aku memasang perangkap pada semua barangku. Pencuri kehilangan ingatan termanis mereka. Itu mengusir pencuri lebih baik dari anjing." Ia memiringkan kepala, mengamati air mata Reza dengan minat dingin. "Kau kehilangan apa? Wajah seseorang, kelihatannya. Wajah seorang perempuan, dari caramu menangis."
Reza ingin mencekiknya. Tapi ia juga, di tengah kemarahan, melihat sesuatu: perempuan ini berbahaya, licik, kejam dalam dagangnya — tapi ia tahu segalanya tentang utang lama di kepulauan ini. Dan ia membenci Balai. Reza melihatnya saat nama Balai disebut tadi — kerutan di sudut mulutnya, kebencian lama.
"Kau benci Balai," kata Reza, menyeka matanya, mengubah arah. "Kenapa?"
Untuk sesaat topeng Bunda Sari retak. "Balai membuat pasar ini," katanya pelan, "lalu mengambil sembilan dari setiap sepuluh keping yang lewat. Mereka menyebutnya pajak janji. Aku menyebutnya rampok. Setiap pialang di sini bekerja untuk Balai, suka atau tidak. Mereka memegang simpul kami semua." Ia menyandar. "Kau membawa Simpul Akhir Wirasena. Aku tahu itu — seisi pasar tahu, sejak Garda datang menyebar kabar. Dan aku tahu satu hal yang tidak kau tahu: Simpul Akhir itu tidak masuk akal."
Reza menahan napas. "Apa maksudmu."
"Maksudku," kata Bunda Sari, mencondong, suaranya turun jadi bisik, "aku berdagang utang tiga puluh tahun. Aku tahu bentuk setiap jenis utang — utang dagang, utang darah, utang budi, utang nyawa. Dan Simpul Akhir yang katanya milik margamu? Bentuknya salah. Simpulnya terbalik. Tali seperti itu tidak dibuat oleh orang yang berutang." Ia menatap Reza lurus. "Ia dibuat oleh orang yang diutangi. Seseorang membalik tali itu, Nak. Membuatnya tampak seperti margamu yang berutang. Padahal aslinya, kalau kubaca bentuknya benar... margamu yang dihutangi."
Reza duduk diam, dunia berputar. Kata-kata kakeknya lewat Larasati menggema: Balai bohong.
"Aku bisa bantu kau membuktikannya," kata Bunda Sari, dan senyumnya kembali, tajam dan penuh perhitungan. "Dengan satu syarat. Kalau kau jatuhkan Balai, aku ambil bagian. Pasar ini jadi milikku. Kau urus keluargamu, aku urus tahta." Ia menjulurkan tangan penuh cincin. "Setuju, anak muara?"
Reza menatap tangan itu — tangan yang baru saja merampok wajah ibunya dari ingatannya. Tapi ia juga menatap tenggat yang berdetak, adiknya yang mulai lupa namanya, dan rahasia yang akhirnya mulai terbuka. Ia menjabat tangan Bunda Sari. "Setuju. Tapi kalau kau mengkhianatiku, aku akan mencari simpulmu sendiri. Dan aku tidak akan selembut kakekku."