Mereka berlayar dari Pulau Sukacita sebelum matahari tinggi, Garda tertinggal mengurus tarikan kosongnya yang gagal. Reza duduk di buritan, mengerjap berkali-kali, mencoba membiasakan diri pada dunia tanpa merah. Laut yang biru tetap biru. Langit tetap. Tapi karang yang dulu kemerahan kini kelabu, dan ia tahu darahnya sendiri akan selamanya tampak seperti tinta hitam. Sepotong dirinya, dibayarkan dan hilang.
Larasati duduk di sampingnya, menggenggam tangannya. "Sakit, Kak?"
"Tidak sakit," kata Reza. Bohong, tapi bukan bohong soal tubuh. "Cuma... aneh. Seperti melupakan warna sebuah benda yang kausukai." Ia memaksa senyum. "Kakek bilang penyimpul tua kehilangan banyak hal. Sekarang aku mengerti maksudnya."
Sebelum berlayar, Nyai Imbang memberi Reza lebih dari pelunasan. Ia memberinya petunjuk.
"Kakekmu tidak berkeliling tujuh pulau untuk berdagang," kata perempuan tua itu di pintu balai tenun, jari-jarinya mencengkeram lengan Reza erat. "Ia mencari sesuatu. Atau menyembunyikan sesuatu. Aku tak pernah tahu yang mana. Tapi tahun ia menolongku, ia bicara dalam tidurnya — aku merawatnya saat ia demam. Ia menyebut satu nama, berulang-ulang, seperti orang menyesali. 'Patih.' Dan ia bilang: 'Aku tak akan biarkan mereka menemukan Patih.'"
Patih. Reza tidak tahu siapa. Tapi nama itu kini ikut berlayar bersamanya, mengganjal seperti kerikil di sepatu.
Malam turun di laut terbuka. Jumena menambatkan pinisi di balik atol karang untuk beristirahat. Mereka makan ikan bakar dan ubi, dan untuk pertama kalinya sejak kakek meninggal, ada sesuatu yang menyerupai damai. Jumena bercerita tentang badai yang nyaris membunuhnya, tentang laut yang menyala saat malam tertentu, tentang pulau-pulau yang katanya bergerak. Larasati tertawa. Reza membiarkan dirinya, sejenak, lupa pada gerhana yang mendekat.
Lalu di tengah malam, Reza terbangun karena tubuh kosong di sampingnya.
Larasati berdiri di haluan, kaku, menatap air gelap. Bibirnya bergerak, tapi suara yang keluar bukan suaranya — lebih dalam, lebih tua, banyak suara sekaligus, seolah laut sendiri bicara lewat tenggorokan anak sebelas tahun.
"Las!" Reza melompat bangun.
Di bawah haluan, di air gelap, sesuatu bersinar samar — simpul mati, terjerat di karang dasar, mengeras selama puluhan tahun. Dan Larasati membungkuk ke arahnya, tangan terjulur, seolah hendak menariknya keluar dari air. Tapi menarik simpul mati bukan seperti menarik simpul hidup. Simpul hidup memberi tenaga. Simpul mati tidak punya tenaga untuk diberi — yang ia punya hanya gema, suara, dan bila ditarik, gema itu mengisi sang penarik. Merasuki.
"Larasati, jangan!" Reza menangkap bahu adiknya, menariknya mundur dari tepi. Tubuh anak itu dingin seperti es. "Lepaskan! Lepaskan suaranya!"
Mata Larasati berputar, putih. Suara-suara dari mulutnya mengeras: "...Patih menyimpannya... Patih tahu... Balai membalik tali... bukan Wirasena yang berutang..." Lalu, lebih pelan, seperti tangisan, suaranya sendiri tercekik di bawah suara-suara itu: "Kak, aku nggak bisa keluar—"
Reza melakukan satu-satunya yang ia tahu. Ia memeluk adiknya erat, menempelkan mulutnya ke telinga Larasati, dan berbisik — bukan kata ajaib, hanya namanya, dan nama-nama yang ia kenal: "Kau Larasati Wirasena. Ibumu Sekar. Kakekmu Wirananta. Aku Reza. Kau punya sampan biru. Kau benci ubi rebus. Kau tertawa kalau aku bersin. Kembali. Kembali padaku."
Perlahan, suara-suara itu surut. Tubuh Larasati menghangat. Ia jatuh dalam pelukan Reza, terisak, suaranya — suaranya sendiri — kembali, tapi serak, seperti orang yang berteriak sehari penuh.
"Aku dengar mereka," bisiknya di antara isak. "Semua simpul mati di laut ini. Mereka tahu Kakek, Kak. Mereka tahu rahasianya. Dan kalau aku dengar terlalu lama, aku lupa... aku lupa siapa aku."
Reza memegangnya sampai pagi. Jumena, yang terbangun dan menyaksikan semuanya, duduk diam di kemudi dengan wajah pucat.
Saat fajar, Jumena bicara pelan agar Larasati yang tertidur tak mendengar. "Aku pernah dengar tentang anak-anak seperti dia," katanya. "Juru-dengar. Balai memburu mereka selama berabad. Tapi bukan untuk dipelihara. Untuk dipakai. Mereka mengikat juru-dengar ke prasasti-utang besar, memaksanya membaca utang-utang mati yang tak bisa dibaca penyimpul biasa, sampai—" ia berhenti.
"Sampai apa," kata Reza, sudah tahu jawabannya.
"Sampai anak itu tidak ingat namanya sendiri. Lalu mereka membuang cangkangnya." Jumena menatap Reza. "Itu yang mereka mau dari adikmu, Nak. Bukan menyita marga Wirasena. Itu cuma alasan. Mereka mau telinganya. Dan setiap kali ia mendengar, mereka satu langkah lebih dekat — karena tiap kali ia mendengar, sepotong dirinya hilang. Hari ini suaranya serak. Besok mungkin ingatan. Pukasta tidak pernah memberi gratis. Bahkan padanya."
Reza memandang adiknya yang tidur, dada kecilnya naik turun, dan untuk pertama kalinya rencana di kepalanya terasa terlalu kecil untuk badai yang ia hadapi. Ia harus melunasi utang. Ia harus menjaga adiknya tidak mendengar. Dan dua hal itu, ia mulai sadar, mungkin tidak bisa terjadi bersamaan.