Pulau Sukacita muncul dari kabut pagi sebagai garis hijau yang dijahit emas — emas dari benang. Bahkan dari laut, Reza bisa melihat kain-kain raksasa terbentang di lereng bukit, dijemur di antara rumah panggung, berkilau dalam warna yang tak ada namanya. Ini pulau para penenun, tempat utang tidak diikat pada tali rami, melainkan ditenun ke dalam motif kain — perjanjian yang dipakai, dipajang, diwariskan.
Mereka mendarat di teluk kecil, menyembunyikan pinisi di balik tanjung dari kapal pemburu yang sempat mereka kecoh dalam gugusan karang semalam. Tapi Reza tahu itu hanya menunda. Kapal hitam itu akan menemukan mereka.
Jejak kakeknya membawa Reza ke rumah panjang seorang perempuan tua bernama Nyai Imbang, perajin tenun paling dihormati di pulau itu. Reza mengenalnya dari simpul warisannya: dua puluh tahun lalu, kakek meminjamkan Nyai Imbang sesuatu yang sangat berharga di masa paceklik — Reza tak tahu apa — dan perempuan itu mengikat utang-budi yang belum pernah ditarik.
Nyai Imbang menerimanya di balai tenun yang dipenuhi alat tenun bukan mesin, benang bergelantungan seperti hujan beku. Ia tua, buta sebelah, tapi jari-jarinya bergerak di benang dengan kepastian orang yang melihat dengan sentuhan.
"Cucu Wirasena," katanya, menyentuh wajah Reza dengan jari yang dingin dan kapalan. "Ya. Tulang pipimu seperti dia. Aku menunggu seseorang datang menarik utangku. Aku tidak menyangka sebocah ini."
"Aku tidak datang untuk menarik, Nyai," kata Reza. "Aku datang minta tolong. Aku harus melunasi utang besar. Setiap pelunasan yang bisa kukumpulkan dari jejak kakekku."
Nyai Imbang diam lama, jari-jarinya terus di benang. "Utangku padanya tidak diikat di tali," katanya akhirnya. "Ia kutenun. Di kain yang kuselesaikan tahun ia menolongku. Kain itu kupajang di balai pusaka pulau ini, di antara ratusan kain perjanjian lain. Bila kau bisa menemukannya, membaca motifnya, dan menariknya dengan benar — pelunasannya milikmu." Ia memiringkan kepala. "Tapi membaca simpul tenun tidak gratis, Nak. Tali rami menuntut tubuh. Tenun menuntut mata."
Reza menelan ludah. Ia sudah mendengar ini. Setiap medium pukasta menuntut bayaran berbeda. Tali menuntut tenaga. Tenun menuntut warna — sepenggal penglihatan, satu warna yang takkan pernah ia lihat lagi.
Balai pusaka adalah rumah panjang gelap tanpa jendela, diterangi celah atap, tempat ratusan kain perjanjian tergantung dari balok seperti bendera arwah. Setiap kain adalah utang, janji, ikatan, ditenun dengan benang yang masih menyimpan tenaga pembuatnya. Reza berjalan di antaranya dengan Larasati di sisinya, sementara Jumena berjaga di pintu.
"Mana yang Kakek punya?" bisik Larasati.
"Aku harus membacanya satu-satu." Reza menyentuh kain pertama. Sebuah motif kapal dan gelombang. Ia memejam, membaca: utang seorang nelayan pada saudaranya. Bukan ini. Kain kedua: motif burung. Utang seorang ibu pada bidan. Bukan. Setiap bacaan menggetarkan kepalanya, tapi belum menuntut bayaran — membaca selintas berbeda dari menarik.
Di kain kedua puluh tiga, jarinya menyentuh motif yang membuat napasnya tertahan: sebuah pohon ketapang dengan akar mencengkeram karang — lambang marga Wirasena. Inilah kain Nyai Imbang.
"Ketemu," bisiknya.
Tapi saat itulah cahaya di pintu balai meredup. Sesosok bayangan berdiri di ambang, jangkung, dengan tali bersimpul melilit kedua lengannya seperti senjata. Pemburu-simpul. Ia melepas tudungnya: lelaki muda, mungkin dua puluh lima, dengan wajah tampan yang dingin dan senyum orang yang yakin menang.
"Garda," katanya, seolah memperkenalkan diri pada Reza adalah kebaikan hati. "Balai mengirimku. Bukan untuk membunuhmu — Balai tidak suka kotor. Hanya untuk memastikan kau gagal. Dan kau akan gagal, anak muara. Mulai dari kain itu." Ia mengangkat tangan, dan simpul-simpul di lengannya menyala. "Aku menariknya lebih dulu, kuhabiskan tenaganya, lalu kain itu jadi kosong. Pelunasanmu jadi abu."
Reza bergerak tanpa berpikir. Ia tak bisa menarik secepat Garda — tubuhnya terlalu lemah. Tapi ia tahu satu hal yang Garda tidak: ia tahu motif kain ini, dan ia tahu menarik utang tenun butuh dibaca dengan benar dulu, atau tenaga itu bisa berbalik melukai penariknya.
"Las, tutup mata!" teriaknya, dan ia menyentuh kain Wirasena, memejam, dan menarik.
Dunia meledak warna. Tenaga Nyai Imbang — dua puluh tahun terima kasih, kuat dan hangat — mengalir masuk lewat ujung jarinya, mengisi dadanya seperti matahari. Dan harganya datang seketika: warna merah lenyap dari penglihatannya. Selamanya. Darah di tangannya yang tergores benang kini tampak hitam. Bibir Larasati yang memekik tampak kelabu. Sebagian dunia memudar, dan Reza tahu ia takkan pernah melihat senja jingga lagi.
Tapi ia menariknya lebih dulu. Saat Garda melepas tarikannya pada kain itu, tak ada apa-apa tersisa — Reza sudah menguras pelunasannya, mengikatnya ke simpul warisannya sendiri. Garda terhuyung, tarikan kosongnya berbalik menamparnya, dan ia jatuh berlutut, marah.
"Lari," kata Reza pada Larasati dan Jumena, suaranya bergetar, kakinya nyaris tak menahannya. Sepotong pelunasan tersimpan di tali warisannya — yang pertama dari banyak. Tujuh pulau, dan ia sudah membayar dengan warna merah.
Di belakang, Garda bangkit, menyeka darah dari bibirnya. "Kau membayar penglihatan untuk satu kain," serunya, suaranya menggema di balai pusaka. "Hitung berapa yang tersisa darimu setelah tujuh pulau, anak muara! Aku tinggal menunggu sampai tidak ada lagi yang bisa kau bayar!"