Tidak ada nakhoda di Muara Kemilau yang mau membawa anak Wirasena. Berita menyebar di pasar terapung secepat air pasang: Balai sedang mengincar marga itu, dan siapa pun yang menolong mereka bisa ikut tercatat berutang. Reza mengetuk pintu demi pintu, perahu demi perahu, selama dua hari penuh. Setiap orang menggeleng, sebagian dengan kasihan, sebagian dengan takut, semua dengan kata tidak.
Semua kecuali satu.
Jumena menambatkan pinisinya — kapal layar bercadik dengan lambung yang sudah ditambal sana-sini — di dermaga terjauh, tempat orang menambatkan kapal yang tak ingin dilihat. Lelaki itu berusia empat puluhan, kulitnya legam terbakar matahari sepuluh musim pelayaran, dengan tato simpul memudar di lengannya dan tatapan orang yang sudah lama berutang dan lelah lari darinya.
"Pergi," katanya bahkan sebelum Reza membuka mulut. "Aku tahu siapa kau. Aku tidak mau urusan dengan Balai."
"Aku tidak datang untuk Balai," kata Reza, dan ia menarik gulungan tali raminya. Ia sudah memeriksa simpul-simpul warisan keluarganya semalaman, mencocokkan nama. Satu menyala saat ia mendekati Jumena. "Aku datang untuk ini."
Jumena menatap tali itu, dan wajahnya berubah. Ia tahu apa yang dilihatnya.
"Sepuluh tahun lalu," kata Reza pelan, membaca dari simpul, "kau berlayar dalam badai di Selat Genting. Kapalmu pecah. Kau dan empat awakmu terdampar di karang Wirasena. Kakekku menemukan kalian, memberi air, makanan, dan tumpangan pulang. Sebagai gantinya, kau mengikat janji: satu pelayaran, kapan pun ia minta, ke mana pun ia mau. Kau berutang satu pelayaran pada marga Wirasena, Jumena. Dan kakekku tidak pernah menariknya."
Jumena terdiam lama. Ombak menampar tiang dermaga. Akhirnya ia tertawa, pahit dan rendah. "Orang tua itu. Aku pikir ia mati membawa simpul itu."
"Ia mati. Aku ahli warisnya." Reza meletakkan jari di simpul, tidak menarik, hanya menyentuh — peringatan halus. "Aku bisa menariknya sekarang, paksa. Tapi aku tidak mau. Aku menawarkan: bawa aku berlayar mengelilingi tujuh pulau, antar aku ke mana saja jejak kakekku berakhir, dan utangmu lunas. Dengan hormat. Tanpa kuhabiskan satu pun tenagamu lewat tali. Kau bayar dengan tanganmu di kemudi, bukan dengan tubuhmu."
Itu tawaran yang lebih murah hati dari yang harus ia berikan, dan Jumena tahu itu. Penyimpul lain akan menarik simpulnya kering, mengambil tenaga sepuluh tahun. Reza menawarkan kerja jujur sebagai gantinya.
"Kenapa?" tanya Jumena, curiga. "Kenapa tidak kau tarik saja?"
"Karena aku butuh nakhoda yang kuat di laut, bukan yang lemas di lantai kapalnya," kata Reza jujur. "Dan karena kakekku menolongmu tanpa menariknya selama sepuluh tahun. Aku tidak mau jadi yang pertama mengkhianati niatnya."
Jumena memandangnya lama, lalu meludah ke laut — tanda setuju, di kalangan pelaut. "Kau bicara seperti kakekmu. Itu bisa jadi pujian atau kutukan, belum kutahu yang mana." Ia mengangkat dagu ke pinisinya. "Subuh besok. Air pasang. Jangan terlambat. Dan jangan bawa beban yang tidak perlu."
Beban yang tidak perlu, ternyata, punya pendapat sendiri.
Reza menyuruh Larasati tinggal pada tetangga tua yang ia percaya, dengan uang sisa dan janji ia akan kembali. Ia berangkat subuh dengan hati berat tapi lega — setidaknya adiknya aman, jauh dari laut, jauh dari pemburu.
Pinisi sudah setengah hari di laut, daratan tinggal garis tipis di belakang, ketika Reza mendengar suara batuk dari balik tumpukan karung di palka.
Larasati keluar, rambutnya kusut, wajahnya mendongak menantang. "Aku nggak mau ditinggal lagi."
"Larasati—" Reza menahan amarah dan takut yang bercampur. "Aku menitipkanmu supaya kau aman!"
"Aman dari apa?" Anak itu balas keras, suaranya pecah. "Kalau Kakak gagal, aku ikut disita. Aman cuma kalau kita sama-sama. Lagian—" ia menunduk, "—simpul-simpul mati itu, mereka makin ramai kalau aku sendirian. Cuma diam kalau ada Kakak."
Jumena menatap dari kemudi, alisnya naik. "Anak ini mendengar simpul mati?"
Reza menegang. Rahasia terbesarnya, terlontar di geladak.
"Tenang," kata Jumena, membaca wajahnya. "Rahasiamu lebih aman di kapal ini daripada di pasar mana pun. Aku punya cukup rahasia sendiri untuk tahu cara menyimpannya." Tapi tatapannya pada Larasati berubah — lebih waspada, dan sedikit, sangat sedikit, takut. Bakat seperti itu membawa nasib, dan jarang nasib baik.
Reza memandang adiknya, lalu garis daratan yang menghilang. Sudah terlambat untuk berbalik tanpa membuang waktu yang tak ia punya. "Kau tidak meninggalkan sampan," katanya akhirnya, suaranya keras tapi tangannya lembut saat menarik selimut ke pundak adiknya. "Dan kau bersamaku setiap saat. Berjanji."
"Janji." Larasati tersenyum kecil. Lalu senyumnya pudar, dan ia menoleh ke buritan, menatap laut kosong di belakang mereka. "Kak. Ada kapal di belakang. Jauh. Tapi simpul-simpulnya... mereka tajam. Lapar."
Reza menyipit ke cakrawala. Untuk waktu lama tak ada apa-apa. Lalu, di garis antara laut dan langit, sebuah layar muncul — gelap, ramping, dirancang untuk kecepatan, bukan dagang. Ia mengejar arah mereka, dan ia tidak bersembunyi.
"Pemburu-simpul," gumam Jumena, wajahnya mengeras. Ia memutar kemudi, mencari angin. "Sudah kuduga Balai tidak akan membiarkanmu pergi sendirian. Pegangan, Nak. Tujuh pulau dimulai dengan satu lomba — dan kita belum sampai pulau pertama."