Balai Pukasta cabang muara berdiri di atas tiang-tiang ulin sebesar batang kelapa, bangunan terbesar di Muara Kemilau, dengan dinding papan yang dipernis hitam dan atap genteng yang dibawa dari pulau jauh — kemewahan yang tak dimiliki rumah mana pun. Reza datang pagi-pagi, sengaja, supaya tidak ada banyak orang melihat anak Wirasena masuk ke sarang yang menelan marganya.
Di dalam, udara dingin dan berbau lilin lebah. Dinding-dindingnya digantungi ribuan tali bersimpul, tertata dalam laci-laci kayu berlabel, masing-masing utang seseorang di muara ini. Reza pernah membayangkan tempat ini sejak kecil. Ia tak menyangka akan masuk sebagai orang yang berutang paling besar di antara semuanya.
Maharsi menerimanya di ruang catat, di belakang meja panjang yang dipenuhi lontar. Tapi ia tidak sendiri. Di sisinya duduk seorang lelaki tua berjubah biru paling pekat, dengan simpul-perak di lengan yang jauh lebih rumit dari milik Maharsi — tanda pangkat tinggi. Wajahnya keriput dan tenang, dan saat ia menatap Reza, pemuda itu merasa seperti dibaca seperti tali.
"Tuan Janaka," Maharsi memperkenalkan, "Penyimpul Madya, datang dari Balai pusat di Pulau Singgah. Beliau kebetulan singgah untuk urusan lain."
Reza tidak percaya pada kata 'kebetulan'. Seorang penyimpul tinggi tidak menyeberang lautan untuk seorang anak melarat kecuali ada yang sangat berharga di sini.
"Duduk, Nak," kata Janaka, suaranya lembut seperti pasir. "Kau membawa Simpul Akhir?"
"Aku tidak sebodoh itu."
Janaka tersenyum. "Bagus. Berarti kau anak yang berpikir. Itu akan menyelamatkanmu, atau membunuhmu lebih lambat." Ia menautkan jari-jarinya. "Kami ingin menawarkan jalan. Balai bukan tanpa belas. Lunasi sebagian utang itu — sepertujuh, katakanlah — sebelum gerhana, dan kami pertimbangkan menunda penyitaan satu putaran musim. Cukup waktu untukmu mengumpulkan sisanya."
"Sepertujuh," ulang Reza. Ia tahu permainan ini. "Berapa nilai sepertujuh dari utang tujuh generasi?"
Maharsi menggeser selembar lontar. Reza membacanya. Angkanya bukan dalam emas — Balai tak peduli emas. Angkanya dalam tenaga, suara, ingatan, langkah, tahun-tahun hidup. Sepertujuh saja menuntut lebih dari yang dimiliki seluruh kampung air bila digabung. Itu syarat yang dirancang untuk gagal.
"Ini mustahil," kata Reza pelan. "Kalian tahu itu mustahil."
"Tidak mustahil," kata Janaka. "Hanya mahal. Dan kau punya satu aset yang bisa membayarnya seketika." Matanya bergeser, sangat halus, ke arah pintu — ke arah luar, tempat Larasati menunggu di sampan. "Adikmu mendengar simpul mati. Kabar itu sampai ke pusat. Bakat seperti itu berharga bagi Balai — sangat berharga. Serahkan ia menjadi juru-dengar Balai, dan utang marga Wirasena kami hapus. Bukan ditunda. Dihapus."
Ruangan jadi sangat sunyi. Reza merasakan darah berdesir di telinganya.
"Simpul tidak bisa dihapus," katanya, mengutip hukum yang ia pelajari sejak kecil. "Hanya dialihkan, dilunasi, atau dibiarkan mencekik. Kau berbohong di mejamu sendiri, Tuan."
Untuk sekejap, sangat sekejap, sesuatu berkelebat di mata Janaka — terkejut, lalu hati-hati. Anak ini tahu lebih banyak dari yang ia kira.
"Pintar," kata Janaka akhirnya, dan kelembutannya berubah jadi sesuatu yang lebih dingin. "Ya. Tidak bisa dihapus. Tapi bisa dialihkan — ke nama lain. Serahkan adikmu, kami alihkan utang marga ke namanya seorang. Ia membayar untuk kalian semua dengan bakatnya seumur hidup. Kau dan generasi sesudahmu bebas."
Reza berdiri. Tangannya gemetar, tapi bukan karena takut. "Aku tidak pernah, dalam hidupku, mengikat utang atas nama anak kecil. Ayahku tidak. Kakekku tidak. Itu satu-satunya yang masih membuat marga Wirasena layak disebut marga." Ia menatap Janaka lurus. "Aku tidak akan menjual adikku. Bukan padamu, bukan pada siapa pun. Aku akan melunasi utang ini dengan caraku."
Janaka menyandar di kursinya, mengamatinya seperti orang mengamati badai yang belum tahu apakah akan jadi besar. "Caramu," ulangnya. "Dan apa caramu, Reza Wirasena yang tak punya kapal, tak punya marga, tak punya apa-apa selain tali warisan dan keras kepala?"
Reza tidak menjawab. Tapi di kepalanya, sebuah rencana sudah mulai terjalin.
Kakeknya seorang penyimpul keliling di masa mudanya. Sebelum marga jatuh, sebelum ia mengubur diri di muara ini, kakek mengarungi tujuh pulau Nusakirana, mengikat dan menerima utang-budi dari ratusan orang. Janji yang dibuat, lalu ditinggalkan. Tenaga yang dipinjamkan, lalu dilupakan. Di tujuh pulau itu, tersebar simpul-simpul yang berutang pada nama Wirasena — utang-budi lama yang belum ditarik, masih hidup, masih menunggu. Bila Reza bisa menelusuri jejak kakeknya, menemukan setiap orang yang pernah berutang pada keluarganya, dan menarik atau mengalihkan simpul-simpul itu... mungkin, mungkin, ia bisa mengumpulkan cukup untuk melunasi sepertujuh. Lalu sepertujuh lagi. Lalu seterusnya.
Dan di sepanjang jalan itu, ia akan mencari tahu mengapa kakeknya berkata Balai berbohong.
"Empat puluh hari," kata Reza, di ambang pintu, mengembalikan kata-kata Maharsi. "Aku akan kembali sebelum gerhana. Dengan pelunasan. Dan adikku tetap bersamaku."
Ia keluar ke cahaya pagi, ke bau ikan dan air payau dan rumahnya yang mengapung. Larasati menunggu di sampan, memandangnya cemas. Reza tersenyum, sesuatu yang terasa asing di wajahnya akhir-akhir ini.
"Kita pergi berlayar, Las," katanya. "Mencari jejak Kakek."
Larasati memandangnya, lalu memandang ke balik bahu kakaknya, ke jendela Balai di lantai atas, tempat sosok Janaka berdiri mengawasi mereka pergi. "Kak," bisiknya, "orang tua itu... simpul-simpul di sekelilingnya. Banyak sekali yang mati. Dan semuanya menyebut nama Kakek."
Reza tak menjawab. Tapi ia mendayung lebih cepat, menjauh dari bayangan bangunan hitam itu, sementara di benaknya tenggat empat puluh hari mulai berdetak seperti jantung tali kelabu di dadanya.