Mereka memakamkan kakek di pulau karang kecil tempat marga Wirasena selalu mengubur orang tuanya, di bawah pohon ketapang yang akarnya mencengkeram batu seperti jari raksasa. Tak banyak yang datang. Marga yang dulu disegani kini tinggal dua anak yatim dan reputasi yang nyaris habis. Reza tidak menangis di depan orang. Ia menangis nanti, sendirian, saat mendayung pulang dengan Larasati tertidur di pangkuannya.
Tiga hari ia menunggu, seperti pesan kakek. Tiga hari ia tidak menyentuh lantai dapur. Tapi pada malam ketiga, saat bulan separuh dan Larasati sudah lelap, ia mencungkil papan lantai dengan parang tumpul.
Di bawahnya, terkubur dalam pasir lembap, ada sebuah peti kayu cendana sebesar bantal, diikat tali yang sudah menghitam karena usia. Reza mengangkatnya. Lebih berat dari yang seharusnya. Dan saat tangannya menyentuh kayu, seluruh simpul di tali raminya — yang tergantung di pinggangnya — menyala serentak, lalu meredup, seakan tunduk pada sesuatu di dalam peti.
Ia membukanya.
Tidak ada emas. Tidak ada perhiasan. Hanya kain tenun tua yang membungkus satu benda: segulung tali yang tak seperti tali mana pun yang pernah Reza lihat. Warnanya bukan cokelat rami atau putih kapas, melainkan kelabu seperti abu basah, dan ia berdenyut. Bukan denyut pelan seperti simpul biasa. Ini berdenyut seperti jantung — kuat, teratur, dan terlalu hidup untuk benda mati.
Di sepanjang tali itu terikat simpul demi simpul, ratusan, rapat, rumit, sebuah jalinan yang membuat kepala Reza pening hanya dengan menatapnya. Dan di tengahnya, terikat satu simpul induk sebesar kepalan tangan, dari mana semua simpul lain seperti berakar.
Reza meletakkan jarinya di atasnya, kebiasaan penyimpul, untuk membaca.
Dan tali itu berbicara — bukan dengan suara, tapi dengan beban. Sebuah nama mengalir masuk ke benaknya, bukan satu, melainkan banyak, daftar panjang yang ia kenal semua: nama buyutnya, nama kakeknya, nama ayahnya, nama ibunya yang sudah lama tiada. Namanya sendiri. Dan di paling bawah, nama Larasati.
Seluruh marga Wirasena. Terikat dalam satu simpul.
Reza menarik tangannya seakan tersengat. Jantungnya berdebar. Ia pernah mendengar legenda tentang ini, dongeng yang ditakuti penyimpul: Simpul Akhir. Utang yang begitu besar sehingga tak ditanggung satu orang, melainkan satu garis keturunan. Utang yang tak bisa dibayar dengan satu hari kerja atau satu hari suara. Utang yang, bila gagal dilunasi, tidak menyita tenaga — melainkan jiwa. Seluruhnya. Selamanya.
Kakeknya menyimpan ini. Bertahun-tahun. Di bawah lantai tempat mereka makan, tidur, tertawa.
Di luar, anjing-anjing kampung air mulai menggonggong serempak. Lalu berhenti, semuanya, seketika, seolah dibungkam.
Reza membungkus tali kelabu itu kembali ke dalam kain, jantungnya dingin. Ia tahu suara langkah di atas titian kayu sebelum ia melihat siapa yang datang.
Mereka datang bertiga. Berpakaian biru tua dengan jahitan benang perak yang membentuk pola simpul di lengan — seragam yang dikenal setiap orang di Nusakirana dan ditakuti sama banyaknya. Balai Pukasta. Lembaga utang tua yang menguasai perdagangan simpul di seluruh tujuh pulau. Pemimpin mereka, perempuan tinggi berwajah datar dengan rambut diikat ketat, melangkah masuk tanpa mengetuk.
"Reza Wirasena," katanya. Suaranya tenang, terlatih, seperti orang yang sudah menagih ribuan kali. "Aku Penyimpul Maharsi, juru-catat Balai cabang muara. Turut berduka atas kakekmu." Ia tidak terdengar berduka sama sekali. "Dan turut menagih."
"Kalian cepat," kata Reza, menempatkan tubuhnya di antara perempuan itu dan pintu kamar tempat Larasati tidur.
"Simpul Akhir berdenyut saat pemiliknya mati dan ahli warisnya menyentuhnya. Kami merasakannya dari seberang muara." Maharsi melirik peti terbuka di lantai. "Kau sudah membukanya. Bagus. Berarti aku tak perlu menjelaskan apa yang kau pegang."
"Jelaskan saja," kata Reza dingin. "Aku ingin dengar versimu."
Maharsi tersenyum tipis. "Kakekmu, dan kakek dari kakeknya, berutang pada Balai Pukasta. Utang yang sangat tua dan sangat besar, lebih tua dari kau dan aku. Selama generasi, marga Wirasena membayar bunganya saja — dengan kerja, dengan tenaga, dengan ingatan — tapi pokoknya tak pernah lunas. Kakekmu memilih melarikan diri dari kewajibannya. Ia menyembunyikan Simpul Akhir, berpikir bila Balai tak bisa menyentuhnya, utang itu membeku." Ia menggeleng pelan, hampir kasihan. "Utang tidak membeku, Nak. Utang menunggu. Dan sekarang ia jatuh tempo padamu."
Reza memaksa suaranya tetap rata. "Berapa tenggatnya?"
"Gerhana berikutnya. Gerhana kecil — empat puluh hari dari malam ini." Maharsi mengeluarkan dari lengannya selembar daun lontar bertulis, menyodorkannya. "Bila Simpul Akhir tidak lunas saat bayangan menutup bulan, ia akan ditarik secara penuh. Bukan oleh aku. Oleh Balai. Dan ketika Simpul Akhir ditarik penuh, ia tidak mengambil sehari kerja atau sepenggal suara." Matanya menyapu pintu kamar Larasati. "Ia mengambil seluruh marga. Setiap Wirasena yang masih bernapas akan menjadi pelayan-jiwa — terikat, tanpa nama, tanpa kehendak, sampai mati dan setelahnya. Termasuk adikmu."
Di balik pintu, sangat pelan, Reza mendengar Larasati menahan napas. Anak itu sudah bangun. Sudah mendengar semuanya.
"Empat puluh hari," ulang Reza, tenggorokannya kering. "Untuk melunasi utang yang butuh tujuh generasi."
"Itu bukan urusanku," kata Maharsi, sudah berbalik ke pintu. "Aku hanya juru-catat. Aku mencatat yang lunas dan yang gagal." Di ambang pintu, ia berhenti. "Sebagian besar gagal."
Lalu ia pergi, ketiganya, langkah mereka di titian kayu serempak seperti satu tubuh.
Reza berdiri lama dalam gelap, memegang tali kelabu yang berdenyut di tangannya seperti jantung kedua. Pintu kamar terbuka pelan. Larasati berdiri di sana, selimut di pundak, mata besarnya basah.
"Aku dengar simpul itu juga, Kak," bisiknya. "Yang di peti. Dia tidak seperti yang lain."
"Apa katanya?"
Larasati menelan ludah. "Dia bilang Balai bohong."