Awan kelabu yang pekat menghiasi langit-langit Desa Goseong, disertai gemuruh guntur silih berganti dengan hembusan angin dingin menerpa kulit, seolah ikut berduka atas nasib desa tersebut. Su Yeon berdiri di depan pintu rumah mereka, menatap punggung Yeonseo yang sedang sibuk mengasah parang dengan gurat wajah kaku yang tak tergoyahkan.
"Kau mau ke mana, Su Yeon?" tanya Yeonseo tanpa menoleh. Suara gesekan batu asah dan logam terdengar ngilu, sanggup membuat bulu kiduk siapa pun merinding.
"Aku... aku hanya mau ke pasar sebentar, mencari bahan makanan sebelum hujan turun," jawab Su Yeon pelan, jemarinya meremas ujung gaunnya yang mulai lembap.
Yeonseo berhenti mengasah. Ia menoleh, menatap kakaknya dengan mata yang seolah bisa menembus kebohongan. "Jangan lakukan hal bodoh. Pria itu tidak punya hati. Jangan mengemis padanya."
Su Yeon tidak menjawab. Ia menelan ludah, berusaha meyakinkan diri untuk tidak terpengaruh. Perlahan ia berjalan melewati Yeonseo, mengabaikan tatapan intimidasi yang berfungsi sebagai peringatan sekaligus rasa takut yang membuat lututnya lemas.
Langkahnya sedikit terburu-buru tanpa sekali pun menoleh ke belakang, hingga suara asahan parang kembarannya tak lagi terdengar.
Dengan payung tua yang warnanya sudah memudar seolah termakan oleh waktu, ia berjalan menuju ke arah vila tua di puncak bukit yang kini disewa oleh Soo Won sebagai kantor sementara. Ia bisa tahu tempat itu setelah sempat mampir sebentar ke rumah Pak Kades untuk mencari tahu keberadaan pria bernama Lee Soo Won itu berada.
Hujan mulai turun deras saat Su Yeon tiba; pakaiannya basah kuyup. Napasnya tersengal dan tubuhnya menggigil di depan pintu besar itu. Ia menggosok lengannya sendiri, berusaha mencari kehangatan yang hilang.
Saat pintu terbuka, Soo Won berdiri di sana. Ia mematung saat melihat sosok yang tampak begitu rapuh dan kacau di tengah badai yang mengamuk.
"Su Yeon? Apa yang kau lakukan di sini?" Soo Won segera menariknya masuk, memberikan handuk kering yang tergantung di dekat pintu.
"Tuan... tolong," isak Su Yeon, ia berlutut di atas lantai marmer yang dingin. Membuatnya terlihat begitu menyedihkan. "Jangan ambil rumah kami. Adikku... Yeonseo, dia akan hancur jika bengkel itu diratakan. Itu adalah dunianya. Ambillah apa saja, tapi jangan tempat itu."
Soo Won menatap Su Yeon dengan perasaan campur aduk. Kelembutan gadis ini menyentuh sisi hatinya yang selama ini terkunci oleh logika bisnis.
Ia membungkuk, memegang bahu Su Yeon untuk membantunya berdiri. "Berdirilah, jangan seperti ini, Su Yeon. Aku tidak bisa menjanjikan segalanya, tapi aku akan mencoba bicara dengan dewan direksi..."
Jarak mereka sangat dekat, hingga membuat Su Yeon bisa mencium aroma parfum maskulin yang membuat harapannya tumbuh kembali. Salah satu tangan Soo Won terangkat dan menghapus air mata di pipi Su Yeon, namun momen kedekatan itu lenyap saat tiba-tiba pintu depan terbanting terbuka dengan bunyi dentuman mematikan.
Yeonseo berdiri di sana dengan napas memburu. Rambutnya lepek, bajunya kotor oleh lumpur, dan matanya berkilat penuh amarah sekaligus rasa sakit yang luar biasa, dadanya sesak. Ia melihat tangan Soo Won masih bersandar di bahu kakaknya.
"Jadi, ini caramu menyelamatkan rumah kita, Kak?" suara Yeonseo bergetar. Bukan karena kedinginan, melainkan jauh lebih dingin dan menyakitkan daripada air hujan yang menetes dari tubuhnya.
"Yeon-ah, ini tidak seperti yang kau lihat! Aku hanya—" Su Yeon mencoba mendekat.
"Kau merendahkan dirimu di depan pria yang ingin menghancurkan hidup kita!" potong Yeonseo. Ia menatap Soo Won dengan kebencian yang mendalam, lalu beralih ke Su Yeon. "Aku bekerja sampai tanganku berdarah agar kau bisa tetap bersih, Kak. Tapi hari ini, kau justru mengotori diri sendiri lebih dari oli mana pun di tanganku."
Yeonseo melemparkan parang yang dibawanya ke lantai, menimbulkan suara dentang yang memilukan. Napas Su Yeon tercekat, tangannya bergetar menyentuh dadanya sendiri seolah sesuatu gejolak batin yang dipendam Yeonseo selama ini yang tidak ia ketahui menggerogotinya perlahan-lahan. Ia meremas gaunnya hingga kain itu kusut dalam kepalan tangannya.
"Mulai sekarang, jangan sebut aku adikmu lagi. Karena adik seorang pengkhianat sudah mati di jembatan kemarin," desis Yeonseo sebelum ia berlari kembali menembus hujan deras.
Su Yeon jatuh pingsan di pelukan Soo Won yang panik, sementara di luar sana, Yeonseo berlari tanpa arah, membiarkan air hujan menyamarkan air mata yang akhirnya tumpah. Aroma parfum Soo Won yang terbawa angin dari dalam vila kini terasa seperti racun yang membakar paru-parunya.