Malam di vila puncak bukit terasa sangat sunyi; derak kayu bakar di perapian menjadi satu-satunya penghangat. Detak jam dinding seolah menghitung mundur kehancuran Goseong. Di lantai dua, Su Yeon masih terlelap di atas sofa dalam pengaruh obat penenang setelah insiden pingsan akibat di bawah tekanan mental dan hujan deras yang membuatnya kedinginan.
Sementara itu, sesosok bayangan bergerak lincah di lantai bawah. Yeonseo tidak bisa hanya diam menunggu pagi, meskipun dirinya membenci kenaifan kembarannya , jauh di dalam lubuk hati, masih ada percik perlindungan yang tersisa.
Ia telah menyelinap melalui jendela dapur, membiarkan kebencian pada Soo Won menjadi bahan bakar keberaniannya. Ia harus membawa kakaknya pulang, apa pun risikonya.
Namun, saat melewati ruang kerja Soo Won yang pintunya sedikit terbuka, matanya tertuju pada sebuah map biru di atas meja kerja kayu yang megah. Di sana, tertulis nama yang membuatnya membeku: “Proyek Goseong - Warisan Tersembunyi.”
Dengan tangan bergetar, Yeonseo perlahan membukanya. Di dalamnya bukan hanya berisi peta konstruksi, melainkan foto-foto lama yang tampak diambil secara sembunyi-sembunyi puluhan tahun lalu. Foto seorang wanita yang sangat mirip dengannya, 'ibunya' sedang berdiri di depan sebuah bengkel tua mereka. Ada juga coretan merah melingkari area bawah tanah bengkel tersebut dengan keterangan: “Deposit Intan Mentah / Unsur Langka.”
"Jadi ini alasan sebenarnya?" desis Yeonseo. "Bukan kemajuan desa, tapi perampokan."
"Itu hanya setengah dari kebenarannya."
Yeonseo tersentak dan berbalik cepat, tangannya refleks meraih gunting kertas di meja sebagai senjata. Soo Won berdiri di ambang pintu, masih mengenakan kemeja yang sama, namun wajahnya tampak sepuluh tahun lebih tua karena guratan kelelahan.
"Keluar dari sini, atau aku akan—"
"Aku tidak akan memanggil sekuriti, Yeonseo," potong Soo Won dengan nada tenang yang membuat bulu kuduk Yeonseo merinding.
Ia perlaham melangkah masuk dengan santai seolah sedang mencoba menenangkan hewan liar, tidak mempedulikan ancaman ujung tajam gunting di genggaman Yeonseo yang tertuju ke arahnya.
"Aku baru saja menemukan dokumen itu sendiri. Ayahku menyembunyikan alasan ini dariku selama bertahun-tahun. Dia tidak hanya menginginkan lahan itu. Dia ingin menghapus bukti bahwa ibumu pernah memiliki hak atas separuh saham perusahaan kami."
Yeonseo tertegun, tangannya yang memegang gunting perlahan turun di sisi tubuhnya. "Saham? Ibuku?"
"Ibumu dan ayahku dulu membangun fondasi perusahaan ini bersama di Goseong. Ayahku mengkhianatinya, mencuri risetnya, dan mengusirnya ke desa ini dalam kemiskinan," suara Soo Won bergetar, tangannya mengepal erat dengan gerakan gelisah.
"Goseong adalah dosa besar ayahku yang ingin ia kubur selamanya di bawah beton hotel mewah." Ia bahkan tak sanggup untuk menatap mata Yeonseo.
Keheningan yang berat menyelimuti mereka. Aroma parfum maskulin Soo Won yang biasanya dibenci Yeonseo kini bercampur bau aroma kertas tua yang berdebu. Untuk pertama kalinya, mereka tidak berdiri sebagai musuh, melainkan sebagai dua orang yang sama-sama dikhianati oleh masa lalu.
"Kenapa kau memberitahuku?" tanya Yeonseo dengan nada curiga. Genggamannya pada gunting kembali mengerat, enggan dilepaskan.
"Karena aku tidak ingin menjadi seperti dia," jawab Soo Won mantap, menatap tepat ke mata tajam Yeonseo. "Bantu aku menemukan sisa dokumen aslinya di gudang arsip lama ayahku di kota, dan aku akan membantumu menyelamatkan Goseong. Kita punya waktu kurang dari empat puluh delapan jam sebelum buldoser itu meratakan segalanya."
Yeonseo menatap map di tangannya, lalu beralih menatap pria di depannya. Ini adalah kerja sama dengan iblis, pikirnya.
Tapi jika iblis ini menawarkan kunci untuk menyelamatkan Desa Goseong, membalas dendam ibunya, dan membuktikan kepada penduduk desa bahwa ia bukan sekadar penggertak, ia akan mengambilnya tanpa pikir panjang.
Dengan tekad yang tertanam kuat di dalam dirinya, ia siap menghadapi rintangan apa pun di depan sana.
"Satu syarat," ujar Yeonseo dengan nada dingin. "Biarkan Su Yeon tetap di sini sampai dia aman. Dan jangan beritahu dia tentang ini. Dia terlalu lembut untuk melihat betapa kotornya dunia kita."
Soo Won mengangguk pelan. "Kesepakatan tercapai, Yeonseo."