Sudah hampir setengah jam Axel merendam tubuhnya di air tanpa melakukan apapun sesuai dengan rencana sebelumnya yang bermaksud ingin berenang. Setengah tidak yakin, Axel menduga mungkin saja Damian juga sedang mencari keberadaannya, karena dia sama sekali tidak berpamitan akan pergi kemana sedari pagi. Dan ketika malam tiba, ia berakhir di kolam renang lantai teratas apartemen Damian.
Kemarin malam, Summer sama sekali tidak muncul. Gadis itu hanya membaca pesannya tanpa membalas. Seharusnya Axel sudah mengerti, kalau itu adalah isyarat penolakan Summer yang tidak ingin menemuinya. Namun biarpun begitu, Axel masih menunggu.
Mengeluarkan desahan panjang, Axel bersandar pada pinggiran kolam yang terbuat dari kaca tembus pandang. Beberapa kali ia menenggelamkan kepalanya ke dalam air, menahan napas selama yang ia mampu, lalu muncul lagi ke permukaan dengan rambut basah yang jatuh menutupi dahi. Cara itu biasanya berhasil mengosongkan isi kepalanya. Malam ini tidak. Begitu telinganya kembali menangkap suara angin yang menyapu lantai teratas, semua hal yang berusaha ia tenggelamkan justru naik ke permukaan lebih dulu daripada dirinya sendiri.
Empat hari. Axel menghitungnya bukan seperti orang menghitung hari, melainkan seperti orang menghitung hutang yang bunganya bertambah setiap kali matahari terbenam. Hari pertama, ia masih yakin semuanya bisa diselesaikan hanya dengan satu kali percakapan. Hari kedua, ia mulai mengirim pesan. Hari ketiga, pesannya bahkan tidak terkirim sama sekali. Dan malam kemarin, entah karena apa, satu pesannya berhasil masuk—dibaca, lalu ditinggalkan begitu saja seperti selebaran yang dijejalkan orang asing di lampu merah.
Yang membuat Axel muak bukan penolakan itu. Melainkan kenyataan bahwa ia tahu persis kalimat mana yang membuat keadaan menjadi sekacau ini. Bukan perempuan asing di kamar hotel itu, bukan Kenny dan John, bukan alkohol yang membuat lidahnya bergerak lebih cepat daripada kepalanya. Melainkan kalimatnya sendiri; aku tahu apa saja yang kau lakukan di masa lalu. Ia melemparkannya untuk membela diri, dan baru menyadari beberapa detik setelahnya, bahwa ia sedang melempar batu ke arah satu-satunya orang yang malam itu berdiri di pihaknya.
“Kalau kau berniat menenggelamkan dirimu sendiri, setidaknya beri tahu aku lebih dulu.”
Axel tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang datang. Damian meletakkan dua helai handuk di atas kursi, menggulung ujung celananya, lalu duduk di pinggir kolam dan membiarkan kedua kakinya menggantung di dalam air.
“Aku sudah mencarimu sejak siang,” lanjut Damian. “Kau tidak menyentuh makananmu, tidak mengangkat teleponku, dan sekarang aku menemukanmu berendam di sini seperti sayuran yang sedang direbus.”
“Aku sedang berpikir.”
“Kau sedang bersembunyi.” Damian mengoreksi dengan nada datar, seperti seseorang yang sedang membacakan hasil laboratorium. “Ada perbedaan besar di antara keduanya, Axel. Orang yang berpikir biasanya keluar dari kolam dengan sebuah keputusan. Kau sudah tiga jam berada di dalam sana, dan yang kau dapatkan hanya kulit jari yang berkerut.”
Axel mendengus. Ia mendorong tubuhnya ke pinggiran kolam, bersandar di samping kaki sepupunya, lalu memandangi langit yang tidak menampakkan satu bintang pun. “Kakaknya melarangku menemuinya. Dexter tidak bisa berbuat apa-apa. Dan Summer sendiri tidak membuka satu pintu pun untukku.”
“Lalu kau memutuskan menunggu.”
“Aku memutuskan memberinya waktu.”
“Itu kalimat yang bagus.” Damian menggerakkan kakinya, membuat air beriak sampai ke dada Axel. “Sayangnya, ‘memberi waktu’ adalah kalimat yang paling sering dipakai orang untuk membungkus rasa takut mendengar kata tidak. Kau tidak sedang memberinya waktu, Axel. Kau sedang menunggu seseorang datang menyelamatkanmu, supaya kau tidak perlu berdiri di depan gadis itu dan mengakui bahwa kau yang salah.”
“Kenny dan John menawarkan diri untuk ikut menjelaskan,” kata Axel, mengalihkan pembicaraan. “Mereka bilang mereka bersedia berlutut kalau perlu.”
“Dan kau menolaknya.”
“Tentu saja aku menolaknya. Kalau aku membawa dua orang untuk membersihkan kekacauan yang kubuat sendiri, itu namanya bukan minta maaf. Itu namanya membawa saksi.”
“Nah.” Damian menepuk permukaan air dengan telapak tangannya, sekali, seperti orang yang baru saja menemukan barang yang lama ia cari. “Kau tahu persis apa yang benar. Kau hanya belum berniat mengerjakannya.”
Axel memejamkan mata. Ia ingin membantah, tapi tidak menemukan satu pun bahan yang cukup kuat untuk dijadikan bantahan. Damian memang selalu memiliki kemampuan menjengkelkan untuk menyebutkan isi kepala orang lain dengan suara yang terdengar seperti sedang membicarakan cuaca.
“Kau tahu apa yang paling menyedihkan?” kata Axel akhirnya. “Aku bahkan tidak tahu apa yang akan kukatakan seandainya dia benar-benar berdiri di hadapanku sekarang. Aku sudah menyusunnya berkali-kali di dalam kepalaku, dan setiap kali sampai di bagian permintaan maaf, semuanya terdengar seperti alasan.”
“Kalau begitu jangan disusun.” Damian mengangkat bahu. “Orang tidak pernah menyusun kalimat untuk seseorang yang benar-benar ia inginkan. Mereka hanya menyusun kalimat untuk seseorang yang ingin mereka menangkan.”
Ponsel Axel bergetar di atas kursi, bergeser sedikit karena getarannya sendiri. Damian meraihnya, melirik layarnya, lalu melemparkannya pelan ke arah Axel yang buru-buru mengangkat kedua tangan dari air.
“Kalau ponselku jatuh ke kolam, kau yang menggantinya.”
“Dexter,” kata Damian, sama sekali tidak merasa bersalah. “Angkatlah. Sepertinya dia bukan tipe orang yang mau menelepon dua kali.”
***
Axel keluar dari kolam dengan air yang menetes deras dari celana renangnya. Ia menyampirkan handuk ke bahu, menekan tombol hijau, lalu menempelkan ponsel ke telinganya.
“Kuharap kau meneleponku untuk kabar baik, Dex.”
“Aku meneleponmu untuk kabar yang aku sendiri tidak tahu masuk ke kategori mana.” Suara Dexter terdengar seperti biasa; tenang, malas, dan sedikit geli, seperti orang yang sedang menikmati kursi paling depan di sebuah pertunjukan. “Kemarin malam, Summer keluar dari kamarnya.”
Axel berhenti mengeringkan rambutnya. “Lalu?”
“Dia berdandan, Axel. Memakai lipstik, memakai mantel, dan berjalan sampai ke pintu depan. Phoebe menangkapnya tepat di sana. Mereka bertengkar sebentar, lalu Summer digiring kembali ke kamarnya seperti tahanan yang gagal kabur di menit terakhir.”
Ada beberapa detik ketika Axel tidak mendengar apa pun selain suara air yang menetes dari ujung rambutnya ke lantai keramik. Kalimat Dexter membutuhkan waktu lebih lama dari biasanya untuk sampai ke bagian kepalanya yang bisa memahami sesuatu.
Summer berjalan sampai ke pintu.
Selama empat hari ini, Axel menyusun sebuah cerita di dalam kepalanya sendiri, dan cerita itu selalu memiliki bentuk yang sama; Summer membencinya, Summer tidak ingin melihatnya, Summer sudah selesai dengannya. Ia bahkan sudah merasa nyaman berada di dalam cerita itu, karena cerita itu tidak menuntutnya melakukan apa pun kecuali merendam diri di dalam air, dan merasa kasihan pada dirinya sendiri.
Ternyata gadis itu sudah memakai mantelnya. Ternyata gadis itu sudah berdiri di depan pintu. Ternyata satu-satunya alasan mereka tidak bertemu malam itu bukan karena Summer tidak mau, melainkan karena ada orang lain yang berdiri di antara pintu dan dirinya.
“Kau masih di sana?” tanya Dexter.
“Kenapa kau baru memberitahuku sekarang?”
“Karena aku menunggu sampai aku yakin kau tidak akan melakukan sesuatu yang bodoh setelah mendengarnya.” Terdengar Dexter menarik napas. “Dan sekarang, dari caramu diam, aku cukup yakin perhitunganku meleset.”
“Perhitunganmu memang meleset.” Axel meraih kausnya dari punggung kursi. “Aku akan ke sana.”
“Sekarang? Ini sudah hampir jam sembilan malam.”
“Kalau aku menunggu sampai besok pagi, akan ada satu hari lagi yang harus kutebus. Aku sudah punya empat, Dex. Aku tidak berniat menambahnya.”
Dexter terdiam sejenak. Ketika ia berbicara lagi, nada malasnya berkurang banyak. “Phoebe ada di rumah. Dia tidak akan mengizinkanmu masuk, dan aku tidak akan berpura-pura menjadi orang yang membantumu di hadapan wanita itu, karena aku masih ingin hidup dengan tenang.”
“Aku tidak meminta bantuanmu.”
“Aku tahu.” Dexter menghela napas. “Rumahnya yang paling ujung di deretan itu. Pagarnya putih, ada pohon jeruk kecil di halamannya.”
“Aku tahu rumahnya.”
“Tentu saja kau tahu.” Dexter tertawa pendek. “Satu hal, Axel. Kalau kau ke sana malam ini, jangan datang untuk membela diri. Datanglah untuk mendengarkan. Gadis itu sudah cukup lelah menjadi pihak yang selalu harus mengerti.”
Sambungan telepon terputus.
Axel menurunkan ponsel dari telinganya. Damian masih duduk di pinggir kolam, menatapnya dengan sebelah alis terangkat, sudah mengetahui jawabannya bahkan sebelum ia mengajukan pertanyaan.
“Kunci mobilku ada di laci meja dekat pintu,” kata Damian akhirnya. “Jangan menabrak apa pun. Dan Axel—” Damian menoleh, “—keringkan dulu rambutmu. Kau akan terlihat jauh lebih menyedihkan dari yang seharusnya, kalau kau berdiri di depan rumah orang dengan kepala basah.”
Axel sudah setengah berlari menuju pintu. “Tidak ada waktu untuk itu.”
Jalanan malam itu lengang. Axel mengemudi dengan kaus yang menempel di punggungnya karena rambutnya masih meneteskan air, dan untuk pertama kalinya sejak empat hari terakhir, kepalanya terasa ringan—bukan karena masalahnya selesai, melainkan karena akhirnya ia bergerak ke suatu arah.
Di persimpangan terakhir sebelum perumahan itu, lampu merah menahannya selama satu setengah menit. Axel menggunakan waktu itu untuk menyadari satu hal yang sejak tadi ia hindari; kemungkinan besar Summer tidak akan mau menemuinya. Kemungkinan besar yang membuka pintu justru Phoebe, dan wanita itu sudah memperingatkannya dengan sangat jelas di depan cafe tempo hari.
Lampu berubah hijau. Axel menginjak pedal gas.
Kalau ia harus berdiri di depan pagar itu sampai pagi, ia akan berdiri di sana sampai pagi.
***
Summer sedang berbaring memunggungi pintu, ketika untuk kesekian kalinya Phoebe menyembulkan kepala ke dalam kamarnya.
Di atas nakas, sepiring nasi goreng yang dibuatkan kakaknya tiga jam lalu sudah kehilangan seluruh uapnya. Summer menghabiskan tiga sendok pertama hanya supaya Phoebe berhenti berdiri di ambang pintu, lalu berhenti karena ternyata makanan tidak terasa seperti apa pun ketika kepalanya sedang sepenuh ini.
Tiga buku baru yang ia beli minggu lalu tergeletak di lantai, terbuka pada halaman yang sama sejak sore tadi. Summer sudah membaca paragraf pembuka salah satu buku itu sebanyak sebelas kali, dan tetap tidak bisa mengingat siapa nama tokohnya. Membaca selalu berhasil menenangkan dirinya yang gelisah. Kali ini, kalimat-kalimat itu hanya lewat di depan matanya seperti pemandangan dari jendela kereta.
Akhirnya Summer menyerah. Ia mematikan lampu kamar, lalu memeluk boneka beruang tua yang dibelikan Phoebe untuknya bertahun-tahun lalu—boneka yang sudah kehilangan satu matanya, dan salah satu telinganya menipis karena terlalu sering digenggam. Kegelapan membuat kakaknya berhenti mengecek. Kegelapan juga membuat Summer berhenti berpura-pura baik-baik saja.
Ia tidak menangis malam ini. Itu satu kemajuan, pikirnya. Meskipun ia tidak yakin apakah berhenti menangis berarti perasaannya membaik, atau justru berarti perasaannya sudah terlalu lelah untuk bekerja.
Di dalam kepalanya, kalimat Axel malam itu terus berputar seperti lagu yang tidak bisa dimatikan. Aku tahu apa saja yang kau lakukan di masa lalu. Yang membuatnya sakit bukan karena kalimat itu bohong. Justru karena kalimat itu tidak sepenuhnya bohong. Summer memang pernah jatuh cinta dengan mudah, memang pernah berpindah secepat orang berpindah saluran televisi, dan selama bertahun-tahun ia tidak pernah merasa perlu meminta maaf kepada siapa pun untuk hal itu.
Baru sekarang, ketika untuk pertama kalinya ia benar-benar bersungguh-sungguh, ada seseorang yang menggunakan seluruh masa lalunya sebagai alasan untuk tidak mempercayainya.
Summer mempererat pelukannya pada boneka beruang itu. Ia berjanji pada dirinya sendiri, malam ini ia akan tidur lebih cepat, dan besok ia akan kembali ke kampus seperti orang yang tidak sedang menanggung apa-apa. Ia sudah berlatih tersenyum di depan cermin sore tadi, dan hasilnya cukup meyakinkan untuk membohongi siapa pun yang tidak mengenalnya dengan baik.
Kemudian ia mendengarnya.
Suara mesin mobil yang berhenti di depan rumah. Suara pintu mobil yang ditutup—tidak terlalu keras, tapi cukup untuk terdengar di jalan perumahan yang sudah sepi sejak pukul delapan. Lalu suara langkah di atas kerikil halaman, yang berhenti tepat di balik pagar.
Dan sebuah suara yang tidak perlu ia dengar dua kali untuk bisa dikenali.
“Summer!”
Tubuh Summer menegang di atas kasur. Ia tidak bergerak sedikit pun, seolah-olah diam bisa membuat dirinya lenyap.
“Summer, aku tahu kau ada di dalam!”
Dari celah gorden, cahaya lampu teras rumah sebelah menyala. Summer bisa membayangkan tetangganya yang sudah pensiun itu mengintip dari balik jendela, mencatat semuanya untuk diceritakan besok pagi kepada siapa pun yang kebetulan lewat di depan rumahnya.
Dan dari lantai bawah, terdengar langkah kaki menaiki tangga satu per satu. Tenang, tidak terburu-buru, seperti langkah seseorang yang sudah tahu persis apa yang akan ia temukan di ujung tangga.
Pintu kamar Summer terbuka.