“Aku tidak mau.” Summer langsung berbicara, saat Phoebe baru saja memasuki kamarnya dan belum mengatakan apapun.
Phoebe meraba dinding menekan saklar lampu, seketika kamar Summer menjadi terang. Usai melakukan itu, Phoebe mendapatkan sorot mata tajam dari Summer yang merasa keberatan karena lampu kamarnya dinyalakan.
“Kenapa kau menyalakan lampunya? Dia bisa tahu kalau aku masih bangun.”
“Bicaralah dengannya kali ini saja.” Phoebe tidak menanggapi seruan protes Summer padanya. “Kau tidak ingin dia membuat keributan dan membangunkan para tetangga, kan? Karena kalau itu terjadi, bukan dia yang kuhajar habis-habisan, tapi kau—lagipula, dia memang sudah tahu kalau kau masih bangun.”
Summer beranjak dari kasur, melemparkan boneka beruang yang ia peluk ke arah Phoebe—yang menangkapnya dengan satu tangan tanpa perlu bergerak dari tempatnya berdiri.
“Kau memihaknya,” tuduh Summer.
“Aku tidak memihak siapa pun.” Phoebe meletakkan boneka beruang itu kembali ke atas kasur, mendudukkannya rapi bersandar pada bantal, seolah-olah benda itu tamu yang tidak boleh diperlakukan sembarangan. “Aku hanya tidak ingin namaku menjadi bahan pembicaraan di ujung gang besok pagi. Bu Marta sudah menyalakan lampu terasnya. Kalau kau tidak turun sekarang, sebentar lagi seluruh perumahan akan tahu bahwa ada laki-laki yang meneriakkan namamu di depan rumah pada hari kerja.”
Summer menarik kedua lututnya ke dada. “Kalau aku turun, artinya aku memaafkannya.”
“Tidak.” Phoebe berkata dengan sabar, sesuatu yang jarang ia tunjukkan. “Kalau kau turun, artinya kau mendengarnya. Memaafkan dan mendengarkan itu dua pekerjaan yang berbeda, Sum. Kau boleh mengerjakan yang pertama dan menolak yang kedua, atau sebaliknya. Tidak ada yang mewajibkanmu mengerjakan keduanya sekaligus.”
Dari luar, suara itu terdengar lagi. Kali ini tidak berteriak, hanya memanggil, seperti orang yang sudah tahu bahwa ia didengar dan hanya ingin memastikan.
Phoebe mengambil kardigan abu-abu dari sandaran kursi belajar, melemparkannya ke pangkuan Summer. “Pakai itu. Di luar dingin, dan aku tidak berminat merawatmu kalau kau demam besok.”
Summer menatap kardigan itu, lalu menatap kakaknya. “Kemarin malam kau menghalangiku sampai ke pintu. Sekarang kau justru menyuruhku keluar. Aku tidak mengerti isi kepalamu, Kak.”
“Kemarin malam kau yang mengejarnya.” Phoebe mengangkat bahunya sedikit. “Malam ini dia yang datang. Bagiku itu dua hal yang sangat berbeda, dan aku ingin melihat sendiri apakah pria itu tahan berdiri di depan pagar rumah orang tanpa dipersilakan masuk.”
“Dan kalau ternyata dia tahan?”
“Kalau ternyata dia tahan, aku akan tetap membencinya.” Phoebe mengibaskan tangannya. “Hanya saja aku akan membencinya dengan lebih hormat.”
Summer akhirnya berdiri, memasukkan kedua lengannya ke dalam kardigan, lalu berhenti di depan cermin selama dua detik—cukup lama untuk menyadari bahwa matanya sembap, rambutnya berantakan, dan tidak ada satu bagian pun dari dirinya yang pantas ditemui siapa pun malam ini. Ia memutuskan untuk tidak peduli. Kalau laki-laki itu datang tanpa diundang, maka ia berhak menemukan Summer dalam keadaan apa adanya.
Phoebe berjalan ke pintu, lalu berhenti sebentar tanpa menoleh. “Sepuluh menit, Summer. Aku menghitungnya dari jendela.”
***
Halaman rumah terasa lebih dingin dari yang Summer bayangkan.
Ia berjalan pelan melewati pohon jeruk kecil yang ditanam ayahnya bertahun-tahun lalu dan tidak pernah benar-benar berbuah, merapatkan kardigan di depan dadanya, lalu berhenti sekitar tiga langkah dari pagar.
Axel berdiri di sisi yang lain, dengan kaus yang kusut dan rambut yang masih setengah basah, seolah-olah ia baru saja diangkat dari suatu tempat dan langsung diletakkan di sana. Cahaya lampu jalan jatuh di separuh wajahnya. Di bawah matanya ada bayangan gelap yang tidak pernah Summer lihat sebelumnya.
Untuk beberapa detik, keduanya hanya saling memandang.
“Kau gila,” kata Summer pada akhirnya.
“Mungkin.”
“Ini jam sembilan malam. Tetanggaku sudah pensiun, mereka tidur lebih cepat dari anak kecil.”
“Aku akan minta maaf pada mereka besok kalau kau mau.” Axel menggenggam jeruji pagar. “Tapi malam ini aku tidak akan pulang sebelum kau mendengarkanku.”
“Aku tidak berhutang waktu padamu, Axel.”
“Aku tahu. Aku yang berhutang.” Ia menunduk sebentar, lalu mengangkat wajahnya lagi. “Malam itu di hotel, Kenny dan John yang mengatur semuanya. Mereka meminta seseorang berbaring di kamar itu dan menungguku bangun. Mereka menganggapnya lucu. Aku tidak mengenal perempuan itu, aku tidak ingat kapan ia masuk, dan tidak ada apa pun yang terjadi. Kalau kau tidak percaya padaku, kau boleh mendengarnya langsung dari mereka berdua. Mereka sudah menawarkan diri.”
Summer memalingkan wajahnya ke arah pohon jeruk. “Aku sudah menduga itu.”
Axel terdiam. “Kau...sudah menduganya?”
“Aku mengenalmu cukup lama untuk tahu kau tidak sebodoh itu.” Summer menghela napas. “Kalau yang kau kejar sampai ke depan rumahku hanya penjelasan tentang kamar hotel, kau boleh pulang sekarang. Penjelasanmu diterima. Selesai.”
“Kalau begitu apa?” Suara Axel merendah. “Katakan padaku, Summer. Bagian mana yang tidak bisa kuperbaiki hanya dengan penjelasan?”
Summer menutup mata sejenak. Ia sudah berlatih untuk tidak menangis lagi malam ini, dan latihan itu terasa runtuh hanya karena satu pertanyaan.
“Kau bertanya padaku bagaimana caramu mempercayaiku,” katanya. “Kau menyebut masa laluku. Kau mengatakan aku jatuh cinta dengan mudah, berganti sesuka hati, lalu kau bertanya dengan cara apa aku bisa memintamu percaya. Kau mengucapkannya seolah-olah aku sedang menawarkan barang cacat dan berharap kau tidak memeriksanya.”
Rahang Axel mengeras.
“Aku sudah memikirkan itu jauh sebelum kau mengatakannya, Axel. Setiap malam. Aku menghukum diriku sendiri dengan pikiran itu berhari-hari; bahwa mungkin ini karma, bahwa mungkin aku memang tidak pantas dipercaya oleh siapa pun.” Summer menggigit bibir bawahnya. “Lalu kau mengucapkannya keras-keras. Kau mengambil kalimat paling buruk yang kusimpan tentang diriku sendiri, dan menjadikannya senjata. Itu bagian yang tidak bisa kau perbaiki dengan penjelasan.”
Angin menggerakkan daun-daun jeruk yang kering. Di kejauhan, terdengar suara pintu pagar rumah lain yang ditutup.
Axel tidak langsung menjawab. Ia berdiri di sana, membiarkan kalimat Summer selesai bekerja lebih dulu, dan Summer justru membenci itu—karena laki-laki yang biasanya paling cepat membalas apa pun, malam ini memilih diam di bagian yang paling ia butuhkan untuk dibantah.
“Kakakmu mengatakan hal yang hampir sama,” kata Axel akhirnya. “Di depan cafe, tempo hari. Dia bilang kau menangis setiap malam karena aku, dan memikirkan hal-hal yang tidak perlu tentang karma. Aku pikir dia melebih-lebihkan supaya aku merasa bersalah.”
“Kak Phoebe tidak pernah melebih-lebihkan.” Summer tersenyum tipis, tanpa ada senang sedikit pun di dalamnya. “Dia justru selalu mengurangi. Yang dia ceritakan padamu itu versi yang sudah dipotong supaya aku tidak terlihat terlalu menyedihkan di matamu.”
“Aku salah,” kata Axel. Tidak ada nada membela diri sedikit pun di dalam suaranya. “Aku tidak akan mengarang alasan bahwa aku mabuk, walaupun itu benar. Orang mabuk tidak mengarang kalimat baru, mereka hanya kehilangan penjaga yang biasanya menahan kalimat itu di dalam. Artinya kalimat itu memang ada di kepalaku. Dan aku menyimpannya bukan karena aku menghakimimu.”
“Lalu karena apa?”
“Karena aku takut.” Axel mengatakannya begitu saja, seperti orang yang akhirnya meletakkan barang berat yang sudah terlalu lama ia gendong. “Aku takut kau akan berpindah lagi. Aku takut menjadi satu nama lagi di dalam daftar yang kau tinggalkan tanpa menoleh. Dan malam itu, ketika kau berdiri di depanku sambil menangis dan mengatakan bahwa kau mencintaiku, hal pertama yang muncul di kepalaku bukan rasa senang—melainkan pertanyaan berapa lama kali ini akan bertahan. Jadi aku menyerang lebih dulu, supaya aku tidak perlu mengetahui jawabannya.”
Summer membuka mulutnya, lalu menutupnya kembali.
Selama ini, ia selalu mengira Axel adalah orang yang tidak pernah takut kehilangan apa pun. Pria itu memiliki wajah yang bisa membuat siapa saja berhenti berjalan, keluarga yang tidak pernah kekurangan, dan kebiasaan menolak komitmen seperti orang menolak tawaran asuransi di telepon. Tidak pernah sekali pun terlintas di kepalanya, bahwa Axel bisa berdiri di depan pagar rumahnya dan mengakui bahwa ia takut.
“Aku tahu kau berjalan sampai ke pintu depan kemarin malam,” lanjut Axel pelan.
Wajah Summer berubah. “Siapa yang—“
“Itu tidak penting.”
“Tentu saja penting.” Summer merasakan panas naik ke pipinya. “Kalau Dexter yang memberitahumu, aku bersumpah aku akan—“
“Summer.” Axel memotongnya. “Kemarin malam kau memakai mantel, dan tidak ada siapa pun yang menunggumu di balik pintu itu. Aku bahkan tidak tahu kau berusaha keluar. Aku sedang duduk di suatu tempat, meyakinkan diriku sendiri bahwa kau membenciku, karena itu jauh lebih mudah daripada mendatangimu.”
Ia melepaskan genggamannya dari pagar.
“Aku datang malam ini bukan untuk memintamu memaafkanku. Aku tahu ini terlalu cepat, dan aku tidak sebodoh itu.” Axel menatap Summer lurus-lurus. “Aku datang supaya malam ini kau tahu ada seseorang di balik pintu itu. Hanya itu. Kalau besok kau masih ingin aku pergi, katakan, dan aku akan pergi—tapi aku akan kembali lusa.”
“Itu bukan pergi namanya.”
“Aku memang tidak pandai melakukan hal-hal yang benar,” jawabnya. “Aku hanya cukup keras kepala untuk mengulanginya sampai satu di antaranya kebetulan benar.”
Summer menunduk, memandangi ujung sandal rumahnya. Air matanya jatuh satu, dan ia buru-buru menyekanya dengan punggung tangan sebelum sempat terlihat—meskipun ia tahu betul, dari jarak sedekat ini, tidak ada yang bisa ia sembunyikan.
“Aku tidak bisa menjawab apa pun malam ini,” katanya akhirnya.
“Aku tidak meminta jawaban.”
“Bagus. Karena aku tidak akan memberikannya.” Summer mengangkat wajahnya, dan untuk pertama kalinya malam itu, ia menatap Axel dengan tenang. “Malam itu aku mengatakan seluruh isi hatiku kepadamu, dan kau membalasnya dengan mempertanyakannya. Sekarang giliranmu, Axel. Sekarang giliranmu yang menunggu, dan merasakan bagaimana rasanya tidak tahu apakah jawabannya akan datang atau tidak.”
Axel mengangguk pelan. Anehnya, ia tidak merasa kalah sedikit pun. “Baiklah.”
“Kau tidak akan membantah?”
“Tidak.” Sudut bibirnya terangkat sedikit, untuk pertama kalinya sejak empat hari terakhir. “Kau memberiku sesuatu untuk ditunggu. Itu jauh lebih baik daripada yang kupunya kemarin.”
Dari lantai atas, gorden kamar yang menghadap halaman bergerak sedikit, lalu kembali diam. Summer tidak perlu mendongak untuk tahu siapa yang berdiri di baliknya.
Summer memutar tubuhnya, berjalan kembali menuju pintu. Di anak tangga teras, ia berhenti tanpa menoleh.
“Axel.”
“Ya?”
“Rambutmu basah.” Summer berkata dengan suara yang berusaha ia buat sedatar mungkin. “Pulanglah sebelum kau masuk angin. Aku tidak mau merasa bersalah untuk hal sepele seperti itu.”
Pintu tertutup sebelum Axel sempat menjawab.
***
Phoebe sudah menunggu di dalam, bersandar pada dinding dekat tangga dengan kedua tangan terlipat di depan dada.
“Delapan menit,” katanya. “Kau lebih cepat dari perkiraanku.”
Summer melewatinya tanpa berhenti. “Jangan bertanya apa pun, Kak.”
“Aku tidak berniat bertanya.” Phoebe mengikuti adiknya sampai ke anak tangga pertama. “Aku hanya ingin memberitahumu, kalau kau naik ke kamar dan menangis lagi malam ini, aku akan tidur di sana dan mendengkur sekeras yang aku bisa sampai kau menyerah dan tertidur.”
Summer berhenti sejenak. “Kalau aku tidak menangis?”
“Kalau kau tidak menangis...” Phoebe berpikir sebentar. “Kalau kau tidak menangis, akan kubuatkan telur dadar besok pagi. Yang bulat, bukan yang gosong seperti biasanya.”
Summer tidak menjawab. Tapi di anak tangga keempat, tanpa ia sadari sendiri, langkahnya jadi sedikit lebih ringan.
Sesampainya di kamar, Summer tidak langsung menyalakan lampu. Ia berjalan ke jendela, menyibakkan gorden sedikit—hanya selebar dua jari, cukup untuk tidak terlihat dari luar.
Mobil itu masih ada di sana.
Axel bersandar di pintu mobilnya, menunduk, memandangi ponselnya, lalu memasukkannya kembali ke saku tanpa mengetik apa pun. Ia berdiri di situ hampir semenit penuh, menghadap ke rumah, seperti orang yang tidak yakin apakah ia sudah boleh pergi.
Baru setelah itu ia masuk ke mobil dan menyalakan mesinnya.
Summer menutup gorden, merangkak naik ke kasur, dan mengambil boneka beruangnya yang sudah didudukkan rapi oleh Phoebe di atas bantal.
Ia tidak memaafkan Axel malam ini. Ia belum siap, dan ia tidak berniat berpura-pura siap hanya karena pria itu berdiri di depan pagar rumahnya dengan rambut basah. Luka dari kalimat malam itu masih ada di tempatnya, dan Summer tahu, luka semacam itu tidak sembuh hanya karena orang yang membuatnya datang meminta maaf.
Tapi untuk pertama kalinya sejak empat hari terakhir, Summer tidak merasa sedang menunggu sendirian.
Ia memejamkan mata, dan tertidur sebelum sempat menghitung sampai seratus.