“Kerja bagus! Siapa namamu? Keberanian dan kemampuan bela dirimu melebihi kemampuan anak buahku.”
Andrew menatap Zia dengan tatapan tajam. Namun bukannya menjawab, Zia justru malah membalikkan badannya hendak meninggalkan pria yang dikenal dengan julukan Cobra. Julukan itu melekat karena ia tidak segan menghabisi musuhnya tanpa ampun. Tidak ada yang boleh menghalangi langkahnya.
“Hei, bergabunglah menjadi penjagaku!”
Zia terus berjalan menjauh dari Andrew. “Sialan!” hardiknya kepada Zia yang mengacuhkannya.
“Aku akan bayar kamu lima puluh juta sebulan kalau kamu menjadi penjagaku.” Teriak Andrew yang mulai kesal karena diacuhkan oleh wanita dari kalangan rakyat biasa.
Zia menghentikan langkahnya, tubuhnya masih membelakangi Andrew.
“Akhirnya, kamu tertarik dengan penawaranku.” Andrew tersenyum lebar mengira jika Zia akan menerima penawarannya.
Zia membalikkan badannya dan berjalan ke arah Andrew, tapi bukan untuk menerima penawaran darinya, melainkan mengambil obeng yang masih tertancap di tiang kayu.
Wanita berusia dua puluh tiga tahun itu menatap dingin pria yang memiliki tato naga di leher dan kedua lengannya, menambah kesan brutal ketika melihatnya. Tanpa mengucapkan sepatah kata, Zia kembali berbalik dan meninggalkan Andrew. Pria yang dikenal arogan itu tersulut amarahnya.
Andrew bergegas menghampiri Zia, ia mengatakan hal yang membuat wanita muda itu kesal.
“Kamu tidak boleh menolakku. Bahkan ibumu tidak akan bisa mencegahku keinginanku.” Andrew meraih tangan Zia dan menariknya dengan kasar. Tubuh Zia memutar menghadap lelaki yang memiliki julukan Cobra.
Keduanya berdiri mematung saling berhadapan. Tiba-tiba suara Andrew tercekat, ketika sebuah benda dingin menempel di lehernya. Zia menempelkan obeng yang dipegangnya ke leher Andrew. Tatapan wanita muda itu tajam dan dingin, tidak nampak rasa iba di sana.
Pria arogan itu menyadari jika Zia tidak main-main dengan ancamannya. Ujung obeng itu semakin dalam menyentuh lehernya, semakin menyumbat jalan napasnya. Bahkan sekarang ia merasakan sesuatu mengalir dari lehernya.
“Oke, oke. Aku tidak akan memaksamu. Kamu boleh pergi.” Andrew mengangkat kedua tangannya ke samping, tapi wajahnya tampak kesal.
Zia yang sedari tadi menatapnya dengan tatapan dingin perlahan melepaskan obeng itu dari leher pria tersebut. Tanpa berkata apa-apa Zia pergi meninggalkan Andrew yang berdiri dengan wajah kesal dan berteriak mengeluarkan sumpah serapahnya.
“Wanita brengs*k, sial*n,” umpatnya sambil menyeka darah yang mengalir dari lehernya.
Zia berjalan melintasi pertokoan, lalu Liam menyusul langkah wanita muda itu. “Zia, tadi kamu keren banget. Ternyata kamu memang mantan atlet muay thai, kamu pandai berkelahi.” Pujinya dengan wajah yang berbinar.
Namun ekspresi kagumnya berubah khawatir, “Tapi setelah ini kamu harus bersembunyi dulu ya, jangan keluar rumah. Andrew adalah pria berbahaya.” Liam menjelaskan kepada Zia yang terus berjalan tanpa berkata apa-apa.
Ujung bibir Zia membentuk senyuman kecil, ada rasa lega dalam dirinya. Amarah, rasa kesal dan kesedihan yang membaur di hatinya seolah terlampiaskan ketika menumbangkan ke tiga pria tadi.
Sekilas terbesit ucapan dari Andrew yang menawarkan pekerjaan menjadi penjaganya. Zia segera menggelengkan kepalanya. “Aku tidak boleh menerima pekerjaan itu, cukup kali ini saja aku berkelahi,” ujarnya dalam hati.
Sesampainya di gerbang rumah, kedatangan mereka disambut oleh Indra – penjaga pos keamanan rumah Zia. Ia membukakan gerbang untuk Zia dan Liam.
“Nona, kenapa baru pulang jam segini? Saya takut kalau ketahuan Nyonya Wendi.” Indra tampak cemas kepada anak majikannya tersebut.
“Maaf, lain kali aku akan pulang lebih cepat,” jawab Zia. Wajahnya tampak lelah, lalu ia mengeluarkan obeng dari saku jaket hoodienya.
“Ini obeng kamu.” Zia menyerahkan obeng milik Liam.
“Astaga! Kamu sempat ambil obeng aku?” Liam tampak kembali kagum kepada sahabatnya tersebut. Kedua matanya melotot dan mulutnya terbuka lebar sambil menatap obeng di tangannya.
Indra yang kebingungan menatap Zia dan Liam bergantian seolah meminta penjelasan tentang apa yang sudah terjadi. “Ada apa?” tanyanya penasaran.
“Aku ngantuk!” Zia langsung pergi meninggalkan Indra dan Liam.
Karena tidak dapat jawaban dari Zia, tatapan Indra sekarang tertuju ke Liam yang masih menunjukkan wajah terkejutnya.
“Ada apa, sih?” Indra semakin penasaran.
“Zia menghabisi Bruno.” Liam menjawab dengan kedua matanya melotot mendramatisir.
“Cuma pingsan,” teriak Zia tanpa menoleh dan meneruskan jalannya menuju gudang di samping rumah.
Liam menghela napas pendek, “Iya, iya pingsan.” Wajahnya tampak kesal, padahal ia hanya ingin membuat cerita yang lebih dramatis.
Indra memukul kepala Liam yang mencoba mendramatisir kejadian sebenarnya. “Ceritakan yang benar!” kedua matanya melotot mengancam.
“Iya ... iya,” Liam menceritakan semua kejadian yang ada di depan matanya secara detail kepada Indra.
Setelah mendengar semua ceritanya, malah membuat Indra semakin khawatir. Wajahnya menunjukkan kemarahannya.
"Kok Pak Indra malah marah? Seharusnya bangga dong anak majikannya bisa mengalahkan para Bruno."
Indra menghela napas panjang. "Kenapa kamu tidak cegah Zia?" lelaki berusia empat puluh lima tahun itu menarik baju Liam yang membuat tubuh lelaki kurus itu terseret.
"A – aku sudah peringatkan Zia, bahkan menariknya supaya menjauh. Tapi Zia tetap bersikukuh menolong pria itu." Liam ketakutan dengan kemarahan Indra.
Setelah mendengar alasan Liam, lelaki yang sudah bekerja selama sepuluh tahun di kediaman Bradley akhirnya melepaskan genggaman tangannya yang hampir merobek pakaian tipis Liam.
"Ma – maaf, seharusnya aku bertanya langsung ke Nona Zia. Sebaiknya kamu cepat pulang. Ayahmu pasti khawatirkan kamu." Indra kemudian meninggalkan Liam berdiri di luar gerbang sendirian.
Sebenarnya Liam mengerti kemarahan Indra setelah mendengar perkelahian Zia dan para bruno. Sebagai sahabat Zia selama tiga tahun ini, Liam juga khawatir dengan keselamatannya setelah terang-terangan menolak ajakan Andrew.
Sementara itu, di tempat kejadian perkelahian sudah ada tim pembersih dari Andrew yang bertugas membersihkan para bruno dan kendaraan mereka. Dalam waktu satu jam tempat tersebut seperti sedia kala, tidak ada jejak perkelahian dan kecelakaan di sana.
Sebuah mercy hitam masih terparkir di sana, Andrew masih berdiri berhadapan dengan Juno – asistennya.
"Aku ingin wanita itu! Pastikan dia menjadi penjagaku." Andrew menatap tajam ke Juno.
Lelaki yang selalu berpakaian rapi dengan kemeja putih lengan panjang dan celana panjang hitam itu kebingungan.
"Andrew, kenapa kita harus merekrutnya sebagai penjagamu? Masih banyak penjaga lain yang lebih hebat. Lagi pula dia seorang wanita, sedangkan semua penjaga yang kita rekrut adalah pria."
"Ssst!" Andrew menempelkan ujung telunjuknya ke dahi Juno, "Aku benci mendengar penolakan. Jika tidak bisa membawanya, maka dahi ini akan tertembus kaliberku." Tatapannya dingin, artinya ancamannya serius.
Juno menelan ludah. Suaranya tercekat ketakutan, Ia hanya bisa mengangguk untuk memberikan isyarat bahwa ia mengerti tugas barunya.
Ketika Andrew menunjukkan kemarahannya, tidak ada yang berani membantahnya.