“Kamu sudah aku anggap sebagai kakakku sendiri, tapi jika aku mendengar penolakan lagi, aku tidak segan membuat tubuhmu terbujur kaku.”
Andrew menurunkan jari telunjuknya dari dahi Juno. Membuat asistennya tersebut bisa bernapas lega.
“Bawa dia secepatnya!” Andrew masih menatapnya dengan tatapan tajam. Juno kembali mengangguk, menunjukkan kesanggupannya membawa wanita yang telah menyelamatkan tuannya.
Andrew kemudian memasuki mercy hitam, mobil itu melaju menuju kediamannya. Sedangkan Juno dan beberapa anak buahnya yang lain mengendarai mobil yang lain. Setelah kepergian Andrew dan anak buahnya, suasana pertokoan hening kembali. Belum ada yang berani keluar dari tokonya sejak perkelahian beberapa jam yang lalu.
Sementara itu, Zia masih tertidur pulas di kasurnya yang tampak lusuh. Wanita muda itu baru bisa tertidur pulas jika tubuhnya kelelahan. Perkelahiannya beberapa jam yang lalu menguras tenaganya.
Gudang yang terletak di sisi rumah dan bersebelahan dengan garasi sudah menjadi kamarnya sejak tiga tahun lalu. Bramudi – pamannya Zia, menempatkan keponakannya tersebut di gudang, karena menganggap Zia pembawa sial.
Kecelakaan tiga tahun lalu merenggut nyawa kedua orang tuanya. Sejak itu, Zia menjadi orang yang tertutup, ia diliputi rasa bersalah karena dialah pengemudi mobil tersebut. Saat Zia dan keluarganya akan menghadiri pertandingan muay thai, tiba-tiba wanita muda itu mengantuk sehingga terjadi kecelakaan yang membuat kehidupannya berubah.
Matahari sudah menunjukkan sinarnya yang hangat, semua orang sudah melakukan kegiatannya masing-masing. Wendi – istri Bramudi, ia menjadi Nyonya besar di rumah milik Zia. Sesuai isi surat wasiat Maxime Bradley – ayahnya Zia, Bramudi dan Wendi berhak mengatur semua harta milik keluarga Bradley hingga Zia menikah. Bahkan puluhan mini market yang tersebar di negara Western di kelola oleh pasangan suami istri tersebut.
Setelah kedua anaknya pergi sekolah, Wendi berniat melihat taman bunga mawar yang ada di belakang rumahnya. Kedua matanya melotot, melihat ada beberapa bunga mawar yang patah batangnya.
“Astaga, bunga mawarku.” Ia menghampiri bunga yang patah tersebut. Wajahnya menunjukkan kemarahan.
“Ziaaa!” teriak Wendi, ia melihat sekeliling mencari sosok yang paling ia benci sekarang.
Suara teriakan Wendi membuat para asisten rumah tangga berhamburan keluar rumah menghampiri majikannya. “A – ada apa, Nyonya?” tanya Yiga – seorang kepala asisten rumah tangga.
“Aku tidak memanggil kamu! Aku panggil Zia.” Wendi mendorong Yiga dengan kasar dan berjalan menuju gudang. Yiga mengikuti langkah majikannya tersebut.
“Ziaaa!” teriak Wendi, derap langkahnya menunjukkan betapa marahnya wanita berusia tiga puluh lima tahun tersebut.
Brak! Brak! Brak!
Wendi menggedor pintu gudang dengan kasar. Suara yang kencang itu membangunkan Zia, lalu wanita muda itu menghela napas panjang. Suara teriakan itu milik tantenya yang setiap hari selalu melatih kerongkongannya dengan berteriak kepadanya.
Zia segera bangun dan duduk di sisi tempat tidur. Dengan santai ia merenggangkan tubuhnya dengan mengangkat kedua tangannya ke atas. “Huft. Apa lagi yang membuat dia berteriak seperti itu?”
Wanita muda itu berjalan menuju pintu dan membuka kuncinya. Dengan kasar Wendi mendorong pintu itu kencang membuat pintu reyot itu menabrak dinding. Zia segera mundur selangkah ketika pintu itu terbuka.
“Dasar anak pembawa sial! Kenapa kamu baru bangun? Lihat itu, bunga mawarku ada yang patah.” Sentak Wendi sambil menunjuk kasar kepada Zia.
Yiga berdiri di belakang Wendi, ia sengaja ikut untuk memastikan keselamatan Zia.
Zia menundukkan wajahnya, bukan karena takut dengan amarah tantenya tersebut. Melainkan menahan emosinya agar tidak menyakiti tantenya. Sesuai amanat kedua orang tuanya di surat wasiat, Zia harus patuh dengan semua perintah Bramudi dan Wendi.
“Maaf, Tante,” ujarnya singkat.
“Maaf, maaf. Memangnya kalau minta maaf bunga mawarku bisa utuh lagi?” sentakan demi sentakan keluar dari mulut wanita kejam itu.
Zia berdiri mematung, tidak berkata apa-apa. “Hari ini kamu tidak boleh makan! Ini hukuman bagi orang yang lalai dengan tugasnya.” Wendi menempelkan jari telunjuknya ke pelipis Zia dan menoyor kepala keponakannya tersebut.
Zia tetap diam, ia terus menundukkan wajahnya, menahan emosinya.
“Kenapa diam saja? kamu tidak suka kalau aku marahi, hah?” Wendi terus mengintimidasi keponakannya tersebut dengan kemarahannya. Tapi Zia terus diam, hal tersebut semakin membuat Wendi murka.
“Kamu sepertinya menantang aku,” Wendi menoyor lagi pelipis Zia dengan kasar, bahkan sekarang wanita muda yang malang itu harus mundur selangkah akibat dorongan dari jari telunjuk Wendi.
“Nyonya, tolong jangan marahi Nona Zia lagi.” Yiga menatap dengan cemas kepada Zia. Ia tidak tega harus menyaksikan anak majikannya tersebut terus-terusan dimarahi oleh tantenya sendiri.
Wendi menoleh ke Yiga, “Diam kamu!” sentak Wendi kepada wanita berusia empat puluh lima tahun, “kamu tidak berhak bicara!”
Pandangan Wendi kembali ke Zia yang masih terdiam. “Anak pembawa sial ini tidak berhak dibela.” Wendi mengangkat tangan kanannya dan berniat menampar Zia.
Dengan mudah Zia menangkap tangan tantenya tersebut dengan erat dan membuat Wendi kesakitan.
Zia yang sebelumnya menundukkan wajahnya, sekarang menatap Wendi dengan tatapan tajam dan dingin. Seketika Wendi menelan ludahnya, ketakutan segera menjalar di tubuhnya ketika membaca amarah di wajah Zia. Ia tahu jika keponakannya tersebut mantan atlet muay thai, dengan satu pukulan saja bisa membuatnya tumbang.
“Lepaskan!” Wendi berhasil menarik tangannya dari genggaman Zia. “Kamu harus siram taman mawarku!” Wendi memberikan perintahnya sebelum pergi meninggalkan kamar Zia dengan rasa kesal.
Sedangkan Yiga masih berdiri di sana. Setelah memastikan Wendi sudah pergi, wanita paruh baya itu segera menghampiri Zia.
“Nona, semalam pulang jam berapa?” Yiga menyeka rambut Zia yang menutupi sebagian wajah cantiknya. Ia menarik tubuh Zia ke tepi tempat tidur dan memaksanya duduk. Wanita muda itu menuruti Yiga.
Dengan telaten Yiga merapikan rambut hitam sebahu Zia. “Kata Pak Indra, Nona semalam berkelahi dengan bruno, benarkah?” tanya Yiga penasaran.
Zia mengangguk pelan. “Nona ...” pekik Yiga, kemudian wanita tersebut duduk di samping anak majikannya tersebut, lalu menatapnya dengan tatapan tajam.
“Aku baik-baik saja, tidak perlu khawatir,” tukas Zia meyakinkan Yiga agar tidak mengkhawatirkannya.
“Bagus! Nona memang harus mengeluarkan emosi agar tidak tertekan. Berkelahi mungkin salah satu yang bisa membuat Nona merasa lega mengeluarkan beban di hati, kan?”
Zia terkejut dengan tanggapan Yiga mengenai perkelahiannya tadi malam. “Kok Bu Yiga malah senang, bukan cemas seperti pak Indra?”
Dengan wajah mencibir, Yiga meledek Indra. “Pak Indra itu orangnya penakut. Kamu memang butuh mengeluarkan kegundahanmu selama ini.”
Zia terbelalak mendengar ucapan Yiga yang memang suka berpikir agak lain.
“Ayo, sekarang sebaiknya kamu menyiram taman bunga mawar milik ular betina itu,” ujar Yiga sambil menarik tangan Zia.
Wanita muda itu mengikuti langkah Yiga, terlihat senyuman mengembang di bibirnya yang tipis. Kehangatan perilaku Yiga membuat Zia merasa nyaman berada di dekatnya.