“Setelah menyiram tanaman, Nona makan, ya. Aku sudah menyimpan makanan untuk, Nona.”
Yiga berbisik kepada Zia dan diikuti anggukan dari wanita muda tersebut. Setelah Yiga pergi ke dalam rumah, Zia segera mengambil selang air untuk menyiram tanaman, tapi netranya melihat ada yang berbeda dari telapak tangannya.
Kedua matanya melotot, “Sapu tangan papa?” ia tersentak mendapati sapu tangan peninggalan papanya tidak terikat di telapak tangan kanannya.
Zia memeriksa saku celana panjangnya dan saku jaket hoodie yang dikenakan. Namun, sapu tangan berwarna merah itu tidak ditemukan. Wajahnya seketika panik, ia lalu teringat waktu berkelahi melawan para bruno, lantas ia segera pergi meninggalkan taman bunga.
Namun, langkahnya berhenti ketika handphonenya berdering, terlihat di layar nama Liam. Ia segera menerima panggilan telepon tersebut.
“Ha – halo, Zia. Sapu tangan kamu ada di sini.” Suara Liam terdengar bergetar, tapi Zia tidak pedulikan itu, ia hanya ingin sapu tangannya kembali. Ia berlari menuju pintu gerbang.
Melihat Zia berlari menuju pintu gerbang, Yiga berniat mengejar anak majikannya. Namun, langkah Zia terlalu cepat bagi wanita paruh baya tersebut sehingga tidak mungkin mengejarnya. Yiga menghentikan langkahnya dan mengatur napasnya yang terengah-engah.
Zia melewati Indra yang baru saja menutup pintu gerbang. “Nona, mau ke mana?” tanya Indra menghadang anak majikannya.
“Sapu tangan merahku hilang, Liam bilang ada di tokonya.” Wajahnya panik, ia kehilangan barang berharga peninggalan mendiang papanya.
Indra tahu jika sapu tangan itu berharga bagi Zia, lantas ia segera membuka kembali pintu gerbang. “Nona ... hati-hati, ya.” Pesannya dengan wajah cemas.
Zia mengangguk cepat, lalu pergi meninggalkan pria berusia empat puluh tahun tersebut. Indra menatap kepergian Zia yang sebenarnya dilarang oleh Wendi.
“Cepatlah kembali, Nona, sebelum Nyonya Wendi pulang.” Gumam Indra dengan wajah cemas.
Wendi bukanlah pemilik rumah keluarga Bradley. Namun, tanpa rasa malu Wendi menguasai setiap sudut rumah tersebut. Bahkan ia memberi julukan kepada pewaris tunggal keluarga Bradley dengan sebutan anak pembawa sial.
Sesampainya di toko Liam, kedatangan Zia disambut oleh kehadiran Andrew dan Juno.
“Rencanamu berhasil, Juno. Wanita ini datang menghampiri kita.” Andrew yang duduk di kursi tersenyum melihat kedatangan Zia. Kemudian empat pria berperawakan tinggi dan memakai pakaian rapi berdiri di sejajar dengan Juno. Situasi menjadi mencekam ketika toko kecil milik Jhon di kepung oleh Andrew dan anak buahnya yang diberi julukan Dragon.
Zia tetap berdiri tenang tanpa mengucapkan apa-apa.
Kemudian pria bertato itu mengeluarkan sapu tangan merah milik Zia, “Ini yang kamu cari?” Andrew mengeluarkan sapu tangan merah milik Zia. “Ada syaratnya jika ingin sapu tangan ini kembali.” Lelaki yang dikenal dengan julukan cobra itu menatap tajam wanita yang berdiri kokoh di hadapannya.
Zia memicingkan kedua matanya, rasa marah seketika menguasai hatinya. Kedua tangannya terkepal. Terlihat kemarahan di wajahnya, hal tersebut malah membuat Andrew dan Juno tertawa.
“Hahaha. Hei Nona manis, kalau kamu mau sapu tangan ini maka kamu harus mau menerima tawaran bosku ini. Jadi penjaganya,” ujar Juno sambil menertawakan kemarahan wanita muda yang ada di hadapannya.
“Bos, kamu yakin mau merekrut wanita ini? Sepertinya dia tidak bisa bicara,” bisik Juno kepada Andrew.
Namun, Andrew tidak menjawab. ia hanya fokus kepada Zia. “Bagaimana? Mau menerima tawaranku?”
Namun, bukannya mendapatkan jawaban dari Zia, kedua pria yang sama-sama memiliki tato naga tersebut dibuat terkejut dengan serangan Zia kepada anak buah yang ada di depannya.
Zia melangkah mendekati Andrew, seorang anak buahnya menghadang wanita muda itu. Namun, dengan gerakan cepat Zia melakukan gerakan memutar dengan tulang kering yang menargetkan bagian rusuk lawannya. Pria pertama langsung membungkuk kesakitan, kemudian Zia melayangkan kepalan tangan dalamnya untuk memukul rahang dan membuat pria tersebut terhuyung.
Juno terperangah melihat gerakan cepat Zia yang melumpuhkan pria pertama.
Pria kedua menghadang wanita muda yang sedang marah, Zia melakukan tendangan samping dengan memutar pinggul dan menghasilkan kekuatan tendangan ke perut pria tersebut hingga membungkuk kesakitan. Lalu menggunakan sikunya menyerang sisi kepala pria tersebut hingga tumbang.
Pria ketiga menghampiri Zia, tapi dengan lincah wanita muda itu melompat dan menyerang d**a pria tersebut dengan lututnya. Sehingga pria ketiga langsung tergeletak tidak sadarkan diri di hadapan Andrew.
Zia berjalan menghampiri Andrew dan Juno yang mematung melihat kecepatan wanita muda itu menumbangkan ketiga anak buahnya.
Sekarang Zia sudah berdiri di hadapan Andrew. Keduanya sama-sama menatap dengan tatapan tajam dan dingin. Saling memicingkan kedua matanya, seolah menunjukkan keberaniannya.
Meski ada rasa takut, Juno berusaha menengahi Andrew dan Zia. “Hei, Nona. Bosku hanya ingin kamu menjadi penjaganya. Ayolah, jangan membuat masalah lagi, ya.”
Namun, bukannya menjawab, Zia malah merebut sapu tangan merah yang sedang di dipegang oleh Andrew. Kemudian meninggalkan lelaki yang merupakan seorang CEO perusahaan Auto Logistic, perusahaan logistik terbesar di negara Swicth Land. Hal tersebut membuat Andrew dan Juno terkejut, karena baru kali ini ada orang yang tidak takut kepada keduanya.
Sikap dingin Zia mengundang amarah Andrew. “Mu – mungkin wanita itu tidak bisa mendengar, Bos. Aku akan mencoba bertanya lagi,” ujar Juno yang berinisiatif merayu kembali Zia agar mau menerima penawaran bosnya.
Juno berlari menghadang langkah Zia. Wanita muda itu menghentikan langkahnya dana menatap Juno dengan tatapan tajam.
“Nona, Bosku ingin menawarkan kamu sebagai penjaganya, imbalannya sangat besar, lima puluh juta sebulan.” Juno mengucapkan setiap katanya dengan gerakan bibir yang dilambatkan agar Zia mengerti ucapannya. Juno mengira Zia tidak bisa mendengar.
Zia masih menatapnya dengan tatapan dingin, tidak mengatakan apa-apa dan berjalan kembali meninggalkan Juno. “Apa? dia masih belum mengerti juga?” dengan nada kesal Juno berteriak. Zia tetap melangkah menjauh.
“Jika kamu menolak, toko ini akan aku bakar!” sentak Andrew. Sontak saja ancaman tersebut menghentikan langkah Zia, kemudian menoleh menatap CEO arogan itu dengan tatapan dingin.
“Aku tidak bercanda,” ujarnya lagi, lalu ia menyalakan korek api dan melemparkannya ke halaman toko milik Jhon – ayahnya Liam. Api langsung membesar karena sebelumnya sudah di siram bensin.
Kedua netra Zia membesar dan segera menghampiri toko tersebut dan memadamkan api itu dengan menggunakan APAR yang ada di dinding toko. Untung saja api tersebut segera padam, Zia melempar APAR tersebut ke arah Andrew dengan wajah yang marah.
Dengan mudah Andrew menghindar dari lemparan APAR, lalu ia tersenyum licik. “Bagaimana? Kamu mau bergabung sekarang?”
Zia menatap Liam dan Jhon yang ada di dalam toko, mereka berdua berdiri di apit oleh lelaki bertubuh kekar. Keduanya menodongkan tongkat besi di tengkuk Liam dan Jhon, sehingga keduanya hanya terdiam ketakutan.
“Aku tidak boleh melibatkan mereka,” ujarnya dalam hati. Sekarang ia harus mengambil keputusan yang sulit. Jika menolak maka kedua orang yang sudah baik menemaninya selama dua tahun ini akan menjadi korban, atau menerima penawaran Andrew dan harus meninggalkan rumah yang penuh kenangan.