“Beri aku waktu.”
Zia menatap dingin lelaki yang memiliki tato di tangan dan lehernya. Lalu senyuman kecut mengembang di bibir lelaki tersebut. Sedangkan Juno malah terkejut mendengar Zia bisa bicara.
“Dia bisa bicara dan mendengar?” Juno melotot tidak percaya meliat Zia bisa bicara dan mendengar dengan baik.
“Besok aku tunggu di sini, kalau tidak ... kamu tidak akan melihat toko ini lagi.” Ancaman kembali keluar dari mulut Andrew. Tanpa menunggu persetujuan dari Zia, Andrew melangkah pergi meninggalkan toko dan anak buahnya yang masih tergeletak tidak berdaya. Juno mengekor sambil tertawa mengejek ke Zia.
Lelaki arogan itu memasuki mobil hitam yang terparkir di sebelah toko, ia duduk di kursi belakang. Sedangkan Juno duduk di samping kemudi.
“Bos, walau dia hebat berkelahi, bukankah dia terlihat sombong dan menyebalkan?” Juno menoleh ke belakang, terlihat tidak sepakat dengan keputusan Andrew.
“Aku suka wanita yang seperti itu, apalagi dia lebih hebat dibandingkan dengan lelaki yang hanya pandai bicara saja.” Andrew bicara lalu menyalakan cerutunya, menghisapnya dan mengarahkan asapnya ke wajah Juno. Sontak saja asistennya tersebut terbatuk juga tersindir oleh ucapan bosnya. Namun, asistennya tersebut tidak berani melawan.
“A – aku setuju dengan keputusanmu.” Juno kembali duduk menghadap ke depan, wajahnya terlihat pucat karena Andrew jelas menunjukkan kekesalannya.
Sementara itu, Liam dan Jhon segera keluar dari toko menghampiri Zia yang masih berdiri di halaman toko.
“Ka – kamu baik-baik saja?” Liam terlihat mencemaskan Zia. Sedangkan Jhon masih terlihat syok melihat tiga anak buah Andrew yang tergeletak tidak berdaya. Dua orang lelaki bertubuh kekar yang sebelumnya menawan mereka di dalam toko membopong ketiga anak buah yang tergeletak menuju mobil hitam lainnya.
“Aku baik-baik saja. Kalian terluka?” Zia berbalik bertanya kepada Liam.
“Tidak, aku dan ayahku tidak terluka. Kamu tidak menerima penawaran mereka, kan?” Liam mencemaskan keputusan sahabatnya tersebut. Andrew dan keluarganya merupakan keluarga yang dikenal sebagai keluarga kaya dan memiliki perusahaan besar di Switch Land.
Selain itu ada penjualan senjata api ilegal yang sudah mereka geluti selama puluhan tahun secara turun temurun. Hal tersebut yang membuat keluarga Andrew mempunyai banyak musuh yang tidak segan melukainya.
Zia terdiam sejenak sambil melihat Jhon memunguti barang dagangannya yang berserakan di halaman toko. Wanita muda itu mematung menyaksikan lelaki yang berusia lima puluh tahun itu masih bersemangat mencari uang dengan berjualan di toko yang terbilang kecil ini. Wanita muda itu membantu memunguti barang dagangannya setelah semua anak buah Andrew yang dikenal sebagai dragon telah di bawa oleh tim pembersih.
“Apakah mereka merusak barang-barang yang lain?” tanya Zia lagi kepada Jhon, sambil melihat sekeliling toko.
“Hanya pintu lemari pendingin saja yang rusak,” jawab lelaki berusia setengah abad tersebut sambil membenarkan posisi pintu lemari pendingin yang sudah miring.
“Itu, kan. Ternyata masih bisa diperbaiki.” Jhon tersenyum melihat hasil kerjanya, tapi beberapa detik kemudian pintu lemari pendingin kembali terjatuh. Bahkan kacanya malah retak. Senyum Jhon menghilang, lalu menghela napasnya.
Zia semakin merasa bersalah, karena ulahnya yang ikut campur dalam perkelahian antar penguasa membuat orang-orang di sekitarnya ikut merasakan imbasnya. Jhon dan Liam sudah mengelola toko tersebut selama sepuluh tahun dan hanya itu sumber penghasilan mereka berdua. Maria – ibu kandung Liam, sudah meninggal dunia sejak lima belas tahun yang lalu. Jhon dan Liam hanya tinggal berdua dan menyambung hidup dari hasil penjualan di toko tersebut.
“Kamu tidak usah memikirkan kami, pintu lemari ini mudah kok diperbaiki.” Jhon berusaha meyakinkan Zia agar tidak merasa bersalah.
“Kamu tidak akan menerima penawaran lelaki arogan itu, kan?” tanya Liam. Wajahnya menunjukkan kecemasan. Ia tahu betul jika berurusan dengan keluarga Wesley akan berujung petaka.
Wanita berambut pendek sebahu itu tidak menjawab, ia hanya menghela napas panjang lalu pergi meninggalkan ayah dan anak tersebut. Liam menatap sahabatnya tersebut, ia tahu Zia sedang bimbang.
Zia duduk di depan toko sambil menatap sapu tangan merah yang sudah terikat di telapak tangan kanannya. “Papa, aku harus bagaimana? Jika aku menolak penawaran Andrew, maka Liam dan ayahnya akan terkena imbasnya. Kalau aku menerima penawaran itu, aku harus meninggalkan rumah yang penuh kenangan bersama mama dan papa.” Gumam Zia dalam hatinya.
Lalu sebuah tangan menepuk bahunya dengan lembut, Zia menoleh ke sampingnya. Ternyata Jhon sedang memperhatikannya.
“Kamu menatap sapu tangan itu dengan lekat. Kamu rindu kedua orang tuamu, ya?” tanya Jhon sambil duduk di samping Zia.
“Hanya ini peninggalan ayahku yang tidak dipermasalahkan oleh ular betina itu,” jawab Zia dengan senyum kecut.
Jhon ikut tersenyum kecil. “Kamu dengarkan isi hatimu. Sudah saatnya kamu mengambil keputusan untuk dirimu sendiri. Jangan terpaku dengan peraturan aneh yang di buat oleh ular betina itu. Kamu berhak menentukan jalan hidupmu. Jangan pikirkan kami. Jika toko ini dibakar, masih banyak cara untuk menghasilkan uang.”
Mendengar nasihat dari Jhon membuat Zia menoleh ke lelaki paruh baya tersebut. Ada ketulusan di mata orang tua itu, hal yang ia dapatkan dari orang lain bukan dari keluarganya sendiri.
“Kenapa Om baik kepadaku selama ini?” tanya Zia, keluarganya selalu bersikap jahat dan menganggap Zia tidak layak untuk dikasihi.
Jhon tersenyum mendengar pertanyaan wanita muda tersebut. “Karena kamu memang layak untuk dikasihi. Ikuti kata hatimu, Zia. Jangan sampai salah langkah.” Jhon kembali menepuk bahu Zia, lalu beranjak dari tempat duduknya. Ia kembali merapikan barang-barang yang masih berserakan.
Zia tertegun dengan ucapan Jhon. Nasihatnya mampu membuat hatinya bergetar, kebaikannya selama ini membuat Zia merasakan sosok seorang ayah. Kedua matanya menatap sapu tangan merah di tangannya, lalu tersenyum.
“Hei, kamu mau duduk diam saja? Bantuin beresin, dong!” Liam berteriak kepada Zia sambil menatap kesal ke wanita muda itu.
Zia menatap sahabatnya itu yang terlihat kesal. Ia mengerti jika Liam mencemaskannya jika menerima penawaran Andrew. Wanita muda itu beranjak dari tempat duduknya dan membantu merapikan barang-barang dagangan yang masih berserakan.
“Seharusnya ayah melarang Zia agar tidak menerima penawaran dari lelaki arogan itu.” keluh Liam kepada ayahnya.
Jhon hanya tersenyum melihat anak lelakinya yang berusia dua puluh enam tahun itu kesal. “Zia sudah besar, dia juga berhak mengambil keputusan berdasarkan kata hatinya.” Lelaki paruh baya itu membenarkan kaca matanya yang miring dan patah karena sempat terjatuh ketika di tawan oleh dragon – julukan anak buah Andrew.
“Sudah jam dua siang, sebaiknya aku antar kamu pulang.”
“Liam, beri Zia s**u segar," teriak Jhony dari dalam toko.
“Oke, Ayah.” Kemudian Liam masuk ke dalam toko yang penampilannya seperti mini market, lalu mengambil dua kotak s**u putih dan menghampiri Zia lagi yang berdiri di luar.
“Ini buat kamu,” Liam menyodorkan sekotak s**u kepada Zia, lalu ia membuka sekotak lagi untuk ia minum sendiri.
“Om, terima kasih,” ujar Zia kepada Jhony sambil mengangkat sekotak s**u yang dipegangnya. Jhony hanya membalasnya dengan senyuman tulus kepada Zia.
Sebelum membuka s**u tersebut, Zia membetulkan sapu tangan merah yang menutupi luka di telapak tangan kanannya. Ia menatap sapu tangan tersebut dengan lekat, matanya menunjukkan kesedihan mendalam. “Papa,” ujarnya pelan.
Ada kenangan mendalam dengan sapu tangan merah yang ada di dalam genggaman tangannya.
“Hei, susunya diminum!” suara Liam menyadarkan Zia dari lamunan sesaatnya.
Wanita cantik bertubuh kurus itu langsung meminum s**u yang ada di tangannya. Wanita berusia dua puluh tahun itu memiliki rambut lurus sebahu, ia membiarkan rambut hitamnya berantakan semakin membuatnya tampak kusam.
“Kalau sudah selesai minumnya, aku akan mengantar kamu pulang.” Liam melirik wanita yang sedang duduk di sampingnya.
Zia beranjak dari kursi kayu lalu berjalan melangkah pulang. Liam menyusul di belakangnya, Ia bahkan tidak sempat menyimpan rompi kerjanya demi mengejar langkah Zia.
“Hei, sabar dong.” Pekik Liam yang mengeluhkan sikap diam Zia yang mulai mengesalkan. Namun, wanita mantan atlet muay thai itu terus berjalan tanpa mempedulikan ocehan Liam.