Reza buka Tinder. Aplikasi yang dia install ulang tujuh kali dalam empat tahun dan uninstall sembilan kali. Saat ini dia sedang di fase install yang ke-tujuh.
Profilnya: foto setahun lalu di nikahan teman—rambut lebih panjang, kemeja batik yang dia pinjam dari sepupunya, senyum yang dia paksa untuk fotografer. Bio singkat: "Programmer. Kucing. Lord of the Rings." Umur 27. Dia tidak pernah update foto karena dia tidak pernah merasa cukup pantas difoto lagi setelah nikahan itu.
Reza swipe right beberapa cewek. Cewek berhijab dengan kucing oranye di pangkuannya. Cewek yang kelihatan sopan, profilnya bilang "looking for serious relationship." Cewek yang sepertinya barista, foto dengan latte art di belakang. Tidak ada match.
[REZA. BUKAN MATCH YANG DIBUTUHKAN. NGOBROL.]
"Sistem. Saya tidak bisa ngobrol kalau tidak match. Itu cara Tinder kerja."
[REZA PUNYA SATU MATCH AKTIF DI INBOX. DARI EMPAT MINGGU LALU. NAMA: MIRA.]
Reza mengernyit. Buka inbox. Tiga belas chat history dengan cewek-cewek yang sudah lama tidak balas. Lalu—di urutan ke-empat—memang ada match dari empat minggu lalu. Mira, 25, foto cantik dengan kucing oranye di pangkuannya (bukan kucing yang sama dengan cewek tadi—warna oranyenya lebih muda). Match-nya kosong. Reza waktu itu memang tidak balas, karena di hari yang sama dia harus push deadline kerjaan dan lupa, dan setelah dua hari dia merasa terlalu canggung untuk membuka.
[NGOBROL DENGAN MIRA. SEKARANG.]
"Sistem. Saya... saya tidak punya bahan. Sudah empat minggu. Apa saya bilang? 'Halo, maaf saya hilang sebulan'?"
[BAHAN ADA DI BIO MIRA: "PEMBACA NOVEL. SUKA KOPI. INTROVERT BERAT." REZA JUGA INTROVERT. PEMBACA NOVEL JUGA. SUKA KOPI JUGA.]
Reza menatap bio Mira. Iya—banyak overlap. Bahkan terlalu banyak overlap. Bagian dirinya yang sinis berpikir: ini setting-an, kan? Sistem yang pilih Mira karena cocok, atau Mira memang exist.
"Sistem. Apa saya bilang sebagai pembuka?"
[REZA HARUS PIKIR SENDIRI. SISTEM TIDAK MENULISKAN. SISTEM CUMA MEMBERI MISI.]
Reza menelan ludah. Mengetik:
*"Hai Mira. Maaf saya telat balas (4 minggu, lol). Saya baru lihat bio kamu—apa novel terakhir yang kamu baca?"*
Reza menatap pesan itu. Cringe banget. Pakai "lol" bikin dia kelihatan seperti anak SMA yang berusaha terlalu keras. Tapi tanpa "lol", kelimat itu kelihatan seperti permintaan maaf yang serius. Dia delete "lol", lalu ketik ulang, lalu hapus, lalu ketik ulang lagi.
[KIRIM.]
"Sistem—"
[KIRIM ATAU MISI GAGAL.]
Reza tutup mata. Tekan kirim.
Dia menutup HP. Berbaring. Berkata pada langit-langit yang masih basah:
"Sistem. Apakah kau real?"
[SISTEM REAL.]
"Apakah kau dari Tuhan?"
[SISTEM TIDAK BERHAK MENJAWAB.]
"Apakah kau dari masa depan?"
[SISTEM TIDAK BERHAK MENJAWAB.]
"Apakah kau dari planet lain?"
Hening sebentar. Lebih lama dari biasanya.
[SISTEM... TIDAK BERHAK MENJAWAB. TAPI TEBAKAN TIDAK MENJAUH.]
Reza membeku.
"Sistem. Kau dari planet lain?"
[SISTEM TIDAK MENJAWAB.]
"OK." Reza tertawa pendek. Suaranya hampir histeris. "OK. Saya kira hidup saya udah parah, sekarang ada AI alien di kepala saya."
[SISTEM BUKAN AI. SISTEM BUKAN ALIEN. STOP MENEBAK.]
"Tapi tadi kau bilang—"
[REZA. STOP.]
Reza berhenti. Tapi otaknya tidak berhenti. Tidak AI, tidak alien, tapi kau muncul setelah saya berdoa. Berarti kau respon doa. Berarti kau dari... Tuhan? Tapi kenapa Tuhan kasih sistem dengan tampilan seperti game RPG?
Pintu kontrakan diketuk. Kurir Gojek. Reza buka pintu, terima nasi goreng, kasih bintang lima. Tutup pintu. Duduk di lantai sambil makan dengan kaki bersila.
Pukul setengah delapan, HP-nya bunyi.
Notifikasi Tinder.
Reza buka cepat. Sendok hampir jatuh.
Mira balas.
*"Hai Reza. LOL gak apa-apa. Novel terakhir saya: 'Cinta Terlarang di Negeri Salju'. Lagi obsessed sama bagian saljunya, padahal saya seumur hidup belum pernah lihat salju asli. Kamu?"*
Reza membaca tiga kali. Mira balas. Mira balas dengan emoji positif. Mira balas dengan pertanyaan balik.
[MISI 1 SELESAI. NGAJAK NGOBROL CEWEK TANPA KERINGETAN: BERHASIL.]
[REWARD: 1 COIN.]
[INVENTORY: 1 COIN.]
Reza menatap dirinya di refleksi layar HP. Wajah pucat, mata sembab dari hujan tadi siang, bibir berminyak nasi goreng.
"Sistem. Coin ini... apa fungsinya?"
[COIN BISA DITUKAR DENGAN ITEM DI TOKO SISTEM. TOKO TERBUKA SETELAH 3 COIN.]
"OK. Misi berikutnya?"
[MISI 2: SAMBUNG CHAT MIRA SAMPAI 10 BALASAN BOLAK-BALIK. TANPA MIRA GHOSTING. WAKTU: 48 JAM.]
Reza tertawa kecil. Tertawa yang aneh—setengah ngeri, setengah lega. Karena sejak siang ini, ini momen pertama dia merasa hidupnya bergerak ke depan, bukan ke bawah.
"Sistem. Hidup saya sekarang adalah game. Sama AI alien di kepala saya."
[SISTEM BUKAN AI. STOP MENEBAK.]
"OK, Sistem."
Reza meletakkan piring kosong di meja. Membuka chat Mira. Mulai mengetik balasan tentang salju dan novel-novel yang dia baca selama dua minggu sakit DBD tahun lalu.