Bumi umur enam tahun saat dia pertama kali sadar bahwa suara di kepalanya bukan milik orang lain di rumah.
Pagi itu di Pondok Indah—rumah baru yang Reza dan Mira beli setahun setelah Surya lahir, lebih besar dari kontrakan Tebet tapi tetap sederhana, dengan kebun belakang yang Mira tanami tomat dan cabai—Bumi duduk di teras dengan buku mewarnai. Suara muncul di kepalanya, bukan di telinga.
*"Halo, Bumi."*
Bumi mengangkat kepala. Tidak ada orang di teras. Reza di ruang kerja, Mira di dapur memasak, Surya yang baru tiga tahun masih tidur. Cuma Bumi sendiri.
"Halo?" Bumi bertanya pelan.
*"Bumi. Tidak perlu bicara dengan suara. Saya dengar pikiran Bumi."*
Bumi meletakkan crayon. Berpikir keras: *"Siapa kamu?"*
*"Saya teman Bumi. Dari jauh."*
Bumi mengernyit. Ayahnya pernah cerita tentang teman bayangan—anak-anak kadang bikin teman imajiner. Tapi suara ini berbeda. Lebih dewasa. Lebih jelas dari imajinasi.
*"Bumi. Bumi spesial. Bumi punya kemampuan yang anak lain tidak punya. Saya bisa bantu Bumi mengembangkan."*
Bumi ingat ajaran Bapaknya. Reza pernah bilang—pelan, di malam Bumi umur tiga, saat Bumi cerita tentang suara pertama kali—"Selalu dengar Bapak dan Ibu. Lalu dengar diri sendiri. Suara lain—abaikan."
Bumi menutup matanya. Menarik napas seperti yang Mira ajarkan untuk meditasi anak. Lalu berpikir keras:
*"Saya tidak mau bicara dengan kamu. Pergi."*
*"Bumi. Tunggu—"*
*"Pergi. Saya dengar Bapak. Bukan kamu."*
Suara itu diam. Bumi membuka mata. Kebun belakang masih sama—pohon mangga muda yang Reza tanam tahun lalu, ayam Bapak (anak Bapak yang dulu di Sukabumi, yang Reza bawa pulang setelah Mira hamil Surya) berkokok di kandang.
Bumi berdiri. Mengambil buku mewarnai. Berjalan ke dapur.
"Bunda."
"Iya, Bumi."
Mira menatap putrinya yang berumur enam tahun. Wajah Bumi yang biasanya tenang sekarang serius—lebih serius dari yang biasa untuk anak seumurnya.
"Bumi tadi dengar suara lagi."
Mira meletakkan spatula. Mengangkat Bumi ke kursi pantry.
"Bumi. Yang seperti dulu? Saat umur tiga?"
"Iya, Bunda. Tapi suara baru. Bukan yang dulu."
Mira menatap Bumi lama. Lalu memanggil:
"Mas. Coba ke sini."
Reza datang dari ruang kerja. Mengelap tangan—dia sedang ngoding dari rumah, sekarang lebih sering kerja remote sebagai senior developer di EdTech.
"Mira. Bumi cerita apa?"
Mira menatap Reza. Lalu menatap Bumi.
"Bumi. Cerita ke Bapak juga."
Bumi cerita. Tentang suara pagi ini. Tentang dia menolak. Tentang dia mengabaikan seperti yang diajarkan.
Reza berlutut di hadapan Bumi—biar tinggi mereka sama.
"Bumi. Bapak bangga sama kamu."
"Bapak?"
"Iya. Bumi mendengar diri sendiri lebih dulu daripada suara dari luar. Itu yang Bapak ajarin sejak Bumi kecil."
Bumi mengangguk. Tapi matanya masih khawatir.
"Bapak. Suara baru lebih banyak tahu tentang Bumi. Lebih dari suara lama. Dia tahu Bumi spesial."
Reza dan Mira saling menatap. Saling mengangguk pelan—gestur yang Bumi tidak mengerti artinya.
"Bumi," Reza berkata. "Bapak akan ceritakan sesuatu. Tapi Bumi tidak boleh cerita ke Surya, ke teman sekolah, ke siapa pun di luar rumah. Janji?"
"Janji, Bapak."
"Bumi. Sebelum Bumi lahir, Bapak juga pernah dengar suara. Mas Dharma—paman yang sekarang sudah meninggal, yang Bumi tidak ingat tapi pernah Bapak ceritakan—pernah dengar juga. Suara-suara itu... dari tempat yang jauh. Bukan dari sini."
Bumi mengangguk. Memikirkan dengan otak kecil tapi tajam.
"Bapak. Suara baru hari ini—dia bilang dia teman dari jauh."
"Bumi. Suara itu mungkin teman, mungkin bukan. Bumi tidak tahu pasti. Itu sebabnya Bumi tidak pernah ikut. Selalu dengar Bapak, Bunda, dan diri sendiri dulu."
"Iya, Bapak."
Reza memeluk Bumi. Mira ikut memeluk. Surya yang baru bangun datang dari kamar dan ikut peluk juga, walaupun dia tidak tahu apa yang sedang terjadi.
Pagi itu, di dapur Pondok Indah, keluarga Reza-Mira-Bumi-Surya berdiri dalam pelukan empat orang.
Tapi Reza menatap istrinya di atas kepala Bumi.
Mata Reza yang dulu di tol Cawang yakin Sistem sudah hilang. Sekarang dia tahu—dengan kepastian yang sama dengan kepastian dia mencintai Mira—bahwa entitas asing kembali.
Bukan untuk dia kali ini.
Untuk putrinya yang berumur enam tahun.
Reza menelan ludah. Pelukan masih erat. Tapi otaknya sudah mulai memutar rencana.
Dia perlu menelepon Pak Wirya, ayah mertuanya, yang masih hidup di Cibubur dan masih ahli mantra dukun. Dia perlu menelepon istri Mas Dharma di Lembang—Bu Tirta, yang dia kira sudah meninggal tapi ternyata masih hidup, yang punya buku catatan Mas Dharma untuk Bumi yang Reza simpan di lemari kerja.
Dia perlu mempersiapkan Bumi untuk pertarungan yang Bumi belum mengerti.
"Bumi sayang," Reza berbisik di kepala putrinya.
"Iya, Bapak."
"Bapak akan jaga Bumi. Selalu. Dengan semua yang Bapak punya."
"Bumi tahu, Bapak."