Malam itu setelah Bumi dan Surya tidur, Reza membuka lemari kerja di ruang kerjanya. Mengambil kotak kayu kecil yang dia simpan di rak paling atas—kotak yang sudah tujuh tahun di sana, yang Mira tahu tempatnya tapi tidak pernah dia buka.
Di dalam kotak: buku catatan tebal, sampul kulit cokelat. Tulisan "Untuk Bumi" di sampul depan dengan tinta hitam.
Buku catatan Mas Dharma.
Reza membawa kotak ke meja makan. Mira menunggu di sana dengan dua cangkir kopi. Mereka sudah sepakat sejak Bumi lahir—buku ini akan dibuka saat Bumi siap, saat suara-suara mulai datang lebih sering.
Sembilan tahun lebih cepat dari yang mereka bayangkan.
"Reza."
"Iya, Mira."
"Saya sudah menelepon Bapak tadi sore saat Bumi tidur siang. Beliau akan datang besok pagi—naik kereta dari Cibubur."
"OK. Saya juga sudah email Bu Tirta lewat akun lama Facebook saya. Beliau balas tadi—iya, beliau masih ingat saya, dan iya, beliau punya catatan tambahan dari Mas Dharma yang khusus untuk anak yang ditarget entitas di umur muda."
Mira mengernyit. "Saya kira Bu Tirta sudah meninggal lima tahun lalu."
"Saya juga kira begitu. Ternyata saya salah—kabar itu dari kerabat jauh yang saya percaya tanpa konfirmasi. Bu Tirta masih hidup di Lembang, sekarang umur delapan puluh tiga. Beliau yang menulis email balasan ke saya tadi, dengan tangan, lalu cucu-cucunya yang ketik dan kirim."
"Reza."
"Iya."
"Apakah kita... siap untuk ini?"
Reza membuka buku catatan Mas Dharma. Halaman pertama: tulisan tangan Mas Dharma yang Reza kenal dari pondok Lembang dua puluh dua tahun lalu.
*"Reza. Kalau kau membaca ini, saya sudah tidak ada. Tidak masalah. Saya hidup baik tujuh belas tahun setelah pondok ini."*
*"Buku ini untuk Bumi. Untuk anak-anak kau. Untuk siapa pun yang akan menghadapi Sistem seperti yang kita hadapi dulu."*
Reza membalik halaman. Bab demi bab tentang tipe entitas, pola serangan, cara melindungi anak yang ditargetkan, ritual pelindung tradisional yang Pak Wirya ajarkan ke Mas Dharma di tahun-tahun terakhirnya.
"Mira. Mas Dharma menulis ini selama dua tahun terakhir hidupnya—sejak dia tahu Bumi akan lahir. Dia menyiapkan ini untuk hari ini."
Mira menyentuh halaman dengan jari yang sedikit gemetar.
"Reza. Mas Dharma tahu hari ini akan datang."
"Iya. Dia tahu lebih banyak daripada yang dia cerita ke kita."
Mereka membaca buku itu sampai pukul dua pagi. Kopi mereka dingin. Surya yang biasanya bangun di tengah malam untuk minum air kali ini tidur nyenyak—Mira sebelumnya doa pelan ke kamar anak-anak biar mereka tidur tenang.
Halaman 47 memuat sesuatu yang Reza catat dengan keras di kepalanya.
*"Anak yang ditargetkan di umur 5-7 biasanya menerima 'tawaran teman.' Entitas berpura-pura jadi teman bayangan, jadi kakak imajiner, jadi suara yang paham anak. Tujuannya: membangun ikatan emosional sebelum anak cukup dewasa untuk memilih sendiri."*
*"Kuncinya: anak harus dilatih untuk MENOLAK sejak awal. Bukan ketakutan, bukan benci. Cukup: 'Saya tidak mau bicara dengan kamu. Pergi.' Sederhana. Tegas. Tanpa drama."*
Reza menatap Mira.
"Mira. Bumi sudah lakukan itu pagi ini. Dia menolak dengan tegas. 'Pergi. Saya dengar Bapak. Bukan kamu.'"
Mira tersenyum kecil. Air mata di sudut matanya.
"Reza. Bumi tahu cara melindungi diri. Kita yang ajari dari dia umur dua tahun—dengar diri sendiri dulu, lalu Bapak Bunda, baru dengar yang lain."
"Iya. Tapi kita perlu ajari dia lebih banyak sekarang. Karena entitas ini akan datang lagi. Lebih sering. Lebih cerdik."
Halaman 48 melanjutkan:
*"Setelah anak menolak pertama, entitas akan kembali dengan strategi berbeda. Mungkin sebagai 'teman lebih lama' yang sabar. Mungkin sebagai 'guru' yang menawarkan kemampuan. Mungkin sebagai 'anak lain seperti dirinya'—untuk membuat anak merasa tidak sendirian."*
*"Strategi ini paling berbahaya. Karena anak yang merasa berbeda dari teman sekolahnya akan tertarik pada entitas yang bilang 'saya juga seperti kamu.'"*
*"Pertahanan terbaik: anak harus tahu dia tidak sendirian DI DUNIA NYATA. Cari anak lain yang punya kapasitas yang sama. Reza, Mira—kalau Bumi mulai merasa terasing, bawa dia ketemu Bima. Bima sekarang konselor anak autis di Yogyakarta, yang juga punya kapasitas multidimensi. Bima akan mengerti Bumi dengan cara yang Reza dan Mira tidak akan pernah bisa."*
Reza menatap Mira. "Bima. Adik kamu."
"Iya, Reza. Dia sekarang lima puluh dua, kerja di Yogyakarta. Saya tidak menyangka Mas Dharma sudah memikirkan ini."
"Mira. Saya akan kontak Bima besok juga. Setelah Pak Wirya datang."
Mira mengangguk. Menutup buku Mas Dharma dengan hati-hati. Memeluk Reza dari kursi sebelah.
"Reza. Bumi akan baik-baik saja. Kita semua. Bertiga puluh tahun."
"Iya, Mira. Tapi kita harus mulai sekarang."
Mereka tidur jam tiga pagi. Mimpi mereka—keduanya, di malam yang sama—tentang pohon beringin tua di kebun Lembang, akar yang menjalar dalam tanah, dan suara Mas Dharma yang berbisik dari ranting:
*"Reza. Mira. Saya tetap di sini. Bumi akan tahu cara berdoa, sama seperti kau dulu."*
Mereka bangun pukul enam pagi dengan bahu yang berat tapi otak yang jernih.
Hari ini Pak Wirya datang. Hari ini perang tenang Bumi dimulai.