Pak Wirya datang ke Pondok Indah pukul sembilan pagi. Pria tujuh puluh empat tahun dengan tongkat yang dia gunakan sejak stroke ringan tiga tahun lalu—sehat tapi pelan, dengan rambut perak dan tangan yang masih kokoh.
Bu Sari sudah meninggal setahun lalu—Mira yang menutup mata ibunya di rumah Cibubur, dengan Pak Wirya yang tidak berbicara tiga hari setelah pemakaman. Sekarang Pak Wirya tinggal sendiri di rumah Cibubur, dengan pembantu yang datang harian dan Bima yang ke Jakarta sekali sebulan.
"Pak."
"Mira. Reza."
Pak Wirya memeluk putrinya, lalu menantunya. Di belakang mereka, Bumi dan Surya menunggu di tangga—Bumi sudah pakai dress hijau muda yang dia pilih sendiri, Surya pakai kaos Spider-Man yang dia tidak mau lepas selama seminggu.
"Kakek!"
"Bumi. Surya."
Pak Wirya berlutut—dengan tongkat yang dia letakkan ke samping. Memeluk dua cucunya.
"Kakek. Bumi tadi pagi dengar suara baru."
Pak Wirya menatap Bumi. Mata yang tujuh puluh empat tahun terlatih menatap pasien dengan tenang. Sekarang dia menatap cucunya yang berumur enam tahun dengan ekspresi yang sama.
"Bumi. Kakek dengar dari Bunda kemarin. Kakek datang untuk bantu Bumi."
"Bantu apa, Kakek?"
"Bantu Bumi belajar. Cara mendengar diri sendiri lebih kuat. Cara membuat suara dari luar tidak bisa masuk kalau Bumi tidak izinkan."
Bumi mengangguk. Mata yang serius untuk umurnya.
"OK, Kakek."
Pak Wirya berdiri dengan bantuan Reza. Menatap Mira.
"Mira. Saya butuh ruang tenang dengan Bumi. Tidak lebih dari satu jam."
"Pak. Ruang kerja Reza? Atau di kebun?"
"Kebun. Saya butuh tanah untuk ritual."
Mira mengangguk. Membawa Surya ke ruang tengah untuk distraksi—dia tahu Surya tidak akan mengerti apa yang sedang terjadi, dan tidak perlu tahu sampai dia lebih besar.
Reza, Pak Wirya, dan Bumi keluar ke kebun belakang. Pohon mangga muda yang sekarang tinggi tiga meter, ayam-ayam yang berkokok pelan, tomat yang Mira panen kemarin.
Pak Wirya duduk di kursi taman kayu yang Reza buat sendiri akhir pekan tahun lalu. Bumi duduk di rumput di hadapannya. Reza berdiri agak jauh—ini sesi Bumi dengan kakeknya, dia memberi privasi tapi tetap dekat untuk memantau.
"Bumi."
"Iya, Kakek."
"Kakek mau ajari satu hal saja hari ini. Mantra perlindungan tradisional dari leluhur kita di Jawa Tengah. Mantra ini untuk membuat suara dari luar tidak bisa dengar pikiran Bumi kalau Bumi tidak mau."
"Bumi belajar mantra?"
"Iya. Tapi mantra ini sederhana—cuma tiga kata, dalam bahasa Sansekerta lama. Bumi pelajari, lalu ucapkan dalam hati setiap pagi setelah bangun. Setiap malam sebelum tidur."
Pak Wirya mengeluarkan kalung kecil dari saku jaketnya. Kalung dari benang merah dengan satu manik kayu di tengah.
"Bumi. Manik ini dari kayu beringin tua di pegunungan Wonosobo. Pegunungan yang leluhur kita anggap suci. Bumi pakai kalung ini di leher, di bawah baju. Tidak boleh dilepas kecuali mandi."
Bumi menerima kalung. Pak Wirya memasangkannya.
"Sekarang Bumi tutup mata. Tarik napas dalam tiga kali. Lalu ulangi dalam hati setelah Kakek—tapi pelan, dalam pikiran Bumi sendiri:"
"*Aku adalah aku. Pikiranku milikku. Suara dari luar harus diundang.*"
Bumi tutup mata. Tarik napas tiga kali. Mengulangi dalam pikiran.
Reza yang berdiri tiga meter dari kursi taman bisa rasakan—entah dari pengalaman Sistem-nya dulu, entah dari intuisi yang mungkin juga sudah dia kembangkan—bahwa udara di sekitar Bumi berubah. Lebih tenang. Lebih sederhana.
Pak Wirya menatap cucunya yang masih tutup mata.
"Bumi. Bagaimana rasanya?"
Bumi membuka mata. Tersenyum.
"Kakek. Kepala Bumi... lebih sepi."
"Bagus. Itulah yang seharusnya. Bumi yang punya pikiran. Suara dari luar harus minta izin masuk."
"Kakek. Kalau suara baru datang lagi, Bumi ucapkan mantra ini?"
"Iya, Bumi. Dalam pikiran. Pelan. Tiga kali. Suara akan menjauh kalau dia bukan teman sebenarnya."
"Kalau suara teman sebenarnya?"
Pak Wirya tersenyum. Mata yang lelah tujuh puluh empat tahun.
"Bumi. Teman sebenarnya tidak akan masuk pikiran Bumi tanpa izin. Mereka akan datang sebagai orang sungguhan—Bapak, Bunda, Kakek, Paman Bima, teman sekolah, anak tetangga. Suara dari kepala yang minta perhatian Bumi—itu bukan teman. Itu pengganggu."
Bumi mengangguk. Memegang manik kayu di lehernya.
"Bumi mengerti, Kakek. Terima kasih."
Pak Wirya berdiri dengan bantuan tongkat. Mengulurkan tangan ke Bumi. Bumi menggandeng tangan kakeknya, dan mereka berjalan kembali ke teras rumah.
Reza mengikuti dari belakang. Dalam hatinya dia berbisik—pada siapa pun yang mendengar, pada Tuhan atau alam atau Mas Dharma yang sekarang di pohon beringin Lembang—
*"Terima kasih. Untuk Pak Wirya. Untuk buku Mas Dharma. Untuk keluarga yang siap melindungi Bumi sebelum saya bahkan sadar dia perlu dilindungi."*
Di teras, Mira menunggu dengan teh hangat dan pisang goreng. Surya yang melihat Pak Wirya berlari memeluk kaki kakeknya.
"Kakek. Surya juga mau kalung."
Pak Wirya tertawa. "Surya. Kalung untuk Bumi karena Bumi punya pekerjaan khusus. Surya—pekerjaan Surya adalah jadi adik yang baik untuk Bumi. Itu cukup."
"OK, Kakek. Surya jadi adik baik."
Mereka semua tertawa. Untuk pertama kali sejak Reza membuka buku Mas Dharma semalam, tawa keluarga Reza-Mira terasa ringan kembali.