Empat bulan setelah keluarga Pak Anto pindah, Bumi dan Lila sudah jadi sahabat.
Mereka main bersama setiap sore—di kebun belakang Bumi, di kamar Lila yang penuh boneka, di taman kompleks. Bumi mengajak Lila membaca novel anak yang Mira pinjamkan dari toko bukunya. Lila mengajak Bumi main boneka dan bercerita tentang kakaknya Aldo yang jahat (Aldo memang suka usil, tapi Bumi tahu dia bukan jahat sungguhan—cuma kakak laki-laki tipikal).
Mereka bicara seperti anak biasa. Tentang sekolah, tentang teman yang menyebalkan, tentang ibu yang kadang ngomel kalau lupa cuci piring.
Tapi Bumi—yang sudah dilatih Pak Wirya dan Paman Bima—diam-diam mempelajari Lila. Pelan-pelan. Tanpa Lila sadar.
Awan hijau pucat di sekitar Lila masih ada. Kadang lebih dekat ke kepala Lila, kadang lebih jauh. Bumi perhatikan pola: awan lebih dekat saat Lila stress (PR matematika, ribut dengan Aldo), lebih jauh saat Lila bahagia (main bareng Bumi, makan es krim, nonton kartun).
Bumi menulis pola ini di buku catatan kecil—buku yang Bumi simpan di laci kamarnya, yang cuma Bumi yang tahu tempatnya. Catatan yang dia bagi ke Reza setiap akhir pekan—Reza yang menyimpan sebagai data, untuk dikirim ke Paman Bima per surat (Paman Bima masih lebih percaya surat pos daripada email untuk hal-hal seperti ini).
Suatu sore Sabtu, saat Bumi dan Lila duduk di kebun belakang dengan dua gelas es jeruk, Lila tiba-tiba bertanya:
"Bumi."
"Iya, Lila."
"Saya... saya kadang dengar suara di kepala saya. Bukan suara saya."
Bumi menahan reaksi. Sudah datang—momen yang Reza dan Mira bilang akan datang suatu hari. Bumi menelan ludah pelan.
"Lila. Suara seperti apa?"
"Suara perempuan. Lebih tua. Kadang dia panggil saya 'Lila sayang.' Kadang dia ajarin saya cara matematika—lebih cepat dari Bu Guru."
Bumi mencatat dalam kepala: matematika. Awan ungu yang menunggu di luar rumah Bumi tidak pernah menawarkan kemampuan apapun. Awan hijau Lila berbeda—dia menawarkan bantuan praktis, sesuatu yang bikin anak delapan tahun terkesan.
"Lila. Suara itu—dia sudah ada berapa lama?"
"Sejak saya umur enam, kira-kira. Saya pikir itu cuma teman bayangan. Seperti di buku cerita."
"Dan kamu... dengarkan suara itu?"
"Iya. Dia baik. Dia bantu saya."
Bumi memikirkan. Hati-hati. Dia ingat janji sama Bapak—jangan ajari mantra langsung, jangan cerita awan, biarkan Lila yang bertanya.
Tapi Lila sekarang sudah bertanya. Walaupun dia belum bertanya tentang awan—dia bertanya tentang suara, dan dia merasa itu hal biasa karena dia kira teman bayangan.
Bumi memilih kata-kata dengan hati-hati.
"Lila."
"Iya, Bumi."
"Saya juga pernah dengar suara di kepala. Sejak saya umur tiga."
Lila membuka mata lebar. "Sungguh?!"
"Sungguh. Tapi saya tidak dengarkan suara itu."
"Mengapa? Apakah suara kamu jahat?"
"Saya tidak tahu pasti. Bapak saya bilang—jangan dengarkan suara dari luar yang masuk ke kepala kita tanpa diundang. Bahkan kalau dia kelihatan baik. Karena kita tidak tahu siapa dia sungguhan."
Lila memikirkan. Anak perempuan delapan tahun yang otaknya mulai bekerja keras.
"Bumi. Tapi suara saya membantu. Saya jadi lebih pintar matematika."
"Lila. Pintar matematika dari suara di kepala atau pintar matematika karena Lila sendiri yang belajar—mana yang lebih bagus?"
Lila terdiam. Memikirkan.
"Saya... saya tidak tahu, Bumi. Saya tidak pernah pikir seperti itu."
"Lila. Bapak saya juga bilang—kemampuan dari diri sendiri lebih kuat dari kemampuan dari luar. Karena yang dari luar bisa hilang kapan saja. Yang dari diri sendiri tetap milik kita."
"Hmm. Bumi—"
"Iya."
"Bagaimana cara Bumi tidak dengarkan suara?"
Bumi menelan ludah. Saat ini—momen ini—Bumi harus pilih. Cerita mantra Pak Wirya, atau cuma kasih saran umum.
Dia ingat kalimat Reza: "Cuma saat dia siap—dan itu mungkin tidak akan terjadi sampai dia umur belasan—Bumi boleh ceritakan."
Lila delapan. Belum belasan. Tapi Lila sudah bertanya, dan Lila punya kapasitas. Bumi merasa—dengan instinct yang dia tidak bisa jelaskan tapi yang Paman Bima ajarin untuk dipercaya—bahwa Lila siap untuk satu hal kecil. Bukan mantra penuh. Tapi prinsip dasar.
"Lila. Coba ini."
"Apa?"
"Setiap kali suara di kepala kamu mau bicara, kamu bilang dalam hati: 'Saya tidak mau bicara dengan kamu sekarang. Saya mau pikir sendiri dulu.'"
"Itu saja?"
"Iya. Kalau suara itu teman sebenarnya, dia akan sabar menunggu. Kalau dia bukan teman sebenarnya, dia akan menjauh."
Lila memikirkan. Lalu mengangguk pelan.
"OK, Bumi. Saya coba."
Mereka melanjutkan minum es jeruk. Lila bicara tentang acara TV yang dia suka. Bumi mendengarkan dengan satu telinga sambil yang lain memantau awan hijau pucat di sekitar kepala Lila.
Awan itu, untuk pertama kalinya sejak Bumi pertama bertemu Lila, MUNDUR sedikit. Mungkin satu meter dari kepala Lila. Bukan banyak, tapi nyata.
Lila sudah menanam benih. Awan menunggu.
Malam itu, Bumi cerita ke Reza dan Mira.
"Bapak. Bunda. Saya cerita ke Lila tentang prinsip dasar—jangan dengarkan suara tanpa izin. Saya tidak cerita mantra atau kalung. Cuma 'pikir sendiri dulu.'"
Reza dan Mira saling menatap.
"Bumi. Itu tepat. Tepat banget. Bagaimana Bumi tahu kapan harus cerita?"
"Saya... saya cuma merasa, Bapak. Lila siap untuk satu hal kecil. Bukan semuanya."
Mira memeluk putrinya.
"Bumi. Bunda bangga sama kamu."
"Bunda. Saya cuma ingat—Bapak ajarin saya pelan-pelan. Dari kalimat sederhana saat saya umur dua, sampai mantra Kakek saat saya enam. Saya pikir Lila juga butuh bertahap."
Reza menatap Mira. Tanpa kata, mereka berkomunikasi: anak ini akan jadi sesuatu yang besar suatu hari. Bukan karena dia spesial—karena dia bijak dengan kemampuan yang dia punya.
Mungkin Anomali memang akan dia bangun. Suatu hari, dengan caranya sendiri.