Empat tahun setelah Bumi mengajari Lila prinsip dasar, banyak yang berubah.
Bumi sekarang lima belas tahun, kelas tiga SMP, sudah punya HP sendiri yang Reza beri saat ulang tahun ke-13. Surya dua belas, kelas enam SD, masih cerewet dan masih obsesi dengan superhero (sekarang Iron Man, bukan Spider-Man).
Lila sekarang dua belas, satu tahun di bawah Surya. Awan hijau pucat di sekitarnya... pelan-pelan menjauh. Tahun pertama sudah ada perubahan—Lila mulai menyadari bahwa "suara perempuan" di kepalanya bukan teman bayangan biasa. Tahun kedua, Lila mulai aktif menolak. Tahun ketiga, Lila bertanya lebih banyak—dan Bumi mulai cerita lebih banyak tentang awan, tentang mantra Kakek, tentang Paman Bima.
Lila ketemu Pak Wirya saat Bumi membawanya ke Cibubur—dengan izin Bu Yana yang dibilang ke "anak-anak nginep di rumah Kakek Bumi untuk weekend." Pak Wirya, yang sekarang tujuh puluh delapan, memberi Lila kalung manik kayu beringin yang sama dengan Bumi.
Lila bertemu Paman Bima di Yogyakarta enam bulan setelah Pak Wirya kasih kalung. Paman Bima ajari teknik dasar visualisasi rumah pikiran. Lila belajar lebih cepat dari yang Bumi belajar—mungkin karena Lila punya Bumi sebagai kakak yang sudah pelajari semua duluan.
Bu Yana, ibu Lila, akhirnya tahu cerita lengkap di tahun ketiga—saat Lila yang berumur sepuluh berkeras minta Bu Yana mengizinkan dia "ikut Bumi belajar dari Kakek Bumi tentang hal yang Lila perlu tahu." Bu Yana yang awalnya skeptis, sekarang—setelah dua tahun lebih—mulai percaya.
Awan hijau pucat di sekitar kepala Lila sekarang lima meter dari rumah pikirannya. Sama jauh dengan awan ungu di sekitar Bumi.
***
Suatu sore di tahun ke-empat, Bumi (lima belas) dan Lila (dua belas) duduk di teras rumah Bumi. Surya bermain bola di taman kompleks dengan Aldo yang sekarang tujuh belas—Aldo yang dulu Lila bilang jahat ternyata kakak yang baik, cuma usil.
"Bumi."
"Iya, Lila."
"Saya pernah pikir—berapa banyak anak di Jakarta yang punya kapasitas seperti kita?"
Bumi menatap sahabat sejatinya. Pertanyaan yang Bumi sendiri sudah pikirkan selama dua tahun terakhir.
"Lila. Saya tidak tahu pasti. Paman Bima bilang, mungkin satu dari seribu anak. Kalau Jakarta punya tiga juta anak di bawah delapan belas, berarti ada sekitar tiga ribu anak yang seperti kita."
"Tiga ribu? Banyak banget."
"Iya. Dan mungkin sebagian besar dari mereka belum tahu. Awan-awan masuk ke kepala mereka, mereka pikir itu teman bayangan, mereka tidak pernah belajar menolak."
Lila menelan ludah. "Bumi. Apa kita... apa kita harus bantu mereka?"
Bumi menatap kebun belakang—pohon mangga yang sekarang tinggi enam meter, ayam-ayam yang anak-cucu dari Bapak ayam dulu, tomat yang Mira masih tanam setiap musim.
"Lila. Saya pikir iya. Tapi tidak sekarang. Kita masih terlalu muda. Kita belum tahu cukup."
"Kapan?"
"Saat saya dua puluh, mungkin. Saat kita sudah kuliah, saat kita punya dasar yang kuat. Saat itu, kita mulai cari mereka. Pelan-pelan."
"Bumi. Bagaimana cara cari?"
"Saya... saya pikir saya bisa deteksi. Saya tidak tahu bagaimana, tapi saya merasa saya bisa. Mungkin lewat scan otak—saya pernah baca tentang fMRI, alat yang scan aktivitas otak. Mungkin kalau anak yang punya kapasitas di-scan, ada pola yang berbeda."
"Bumi. Itu... itu sains."
"Iya. Kalau kita gunakan sains, orang akan percaya. Bukan cuma cerita 'awan dan suara.'"
Lila tertawa kecil. "Bumi. Kamu mau jadi ilmuwan?"
"Saya mau jadi banyak hal, Lila. Programmer karena saya suka coding, ilmuwan karena saya suka sains, mungkin pebisnis kalau saya butuh bangun perusahaan untuk kerjakan ini secara skala. Saya pikir saya akan jadi semuanya."
"Anomali?"
Bumi menatap Lila. Sahabat yang dia kasih nama itu pertama kali dua tahun lalu.
"Iya, Lila. Anomali. Suatu hari."
***
Malam itu, Bumi cerita ke Reza dan Mira—percakapan dia dengan Lila di teras.
Reza menutup laptopnya. Menatap putrinya yang sekarang tinggi hampir setinggi Mira.
"Bumi. Saya pikir saatnya saya kasih buku catatan terakhir Mas Dharma."
"Buku terakhir?"
"Mas Dharma menulis dua buku catatan. Pertama yang Anda baca saat Anda sembilan tahun, tentang teknik perlindungan. Kedua—yang saya simpan—tentang masa depan. Tentang Anomali."
Bumi menatap Bapaknya.
"Bapak. Anda... menyimpan buku itu lima tahun?"
"Iya. Saya tunggu sampai Anda siap. Saya pikir Anda siap sekarang."
Reza berdiri. Pergi ke ruang kerjanya. Kembali dengan kotak kayu yang dia tahu Bumi pernah lihat dari jauh tapi tidak pernah dia buka.
Bumi membuka kotak.
Buku catatan kedua—lebih tipis dari yang pertama, tapi tulisan tangan Mas Dharma yang sama. Sampul depan: "Untuk Bumi Saat Dia Siap Membangun."
Bumi membuka halaman pertama.
*"Bumi. Kalau kamu membaca ini, kamu sudah siap. Saya tidak tahu berapa umurmu—mungkin lima belas, mungkin dua puluh, mungkin tiga puluh. Tergantung kapan Bapakmu pikir kamu siap."*
*"Buku ini bukan tentang melindungi diri. Buku ini tentang membangun jembatan untuk anak-anak lain."*
*"Saya menyebutnya Anomali. Tapi nama itu boleh kamu ubah kalau kamu mau."*
Bumi membaca buku itu sampai pukul tiga pagi. Mira sudah tidur, Surya sudah tidur, tapi Reza menunggu di sofa ruang tengah—membaca buku sendiri sambil memantau putrinya yang membaca buku Mas Dharma di meja makan.
Saat Bumi selesai, dia menatap Bapaknya.
"Bapak."
"Iya, Bumi."
"Mas Dharma sudah menulis blueprint untuk Anomali. Lengkap. Cara mendeteksi anak, cara mendekati orangtua, cara mendidik tim, cara membangun perusahaan."
"Iya. Beliau menulis itu di tujuh tahun terakhir hidupnya. Dengan input dari Bu Tirta, dari sumber-sumber yang beliau temukan di komunitas online, dari pengalaman beliau sendiri."
"Bapak. Saya... saya akan membangun ini. Suatu hari."
"Saya tahu, Bumi."
"Tapi saya butuh kuliah dulu. Belajar coding, sains, bisnis. Mungkin sepuluh tahun dari sekarang."
"Sepuluh tahun adalah waktu yang baik. Bumi tidak perlu buru-buru."
Bumi memeluk Reza di sofa. Mereka duduk dalam diam—Bumi yang lima belas dengan buku Mas Dharma di pangkuannya, Reza yang tiga puluh sembilan dengan tangan di kepala putrinya.
Anomali akan dibangun. Bukan di bulan ini, bukan di tahun ini. Tapi suatu hari.
Dan Bumi akan jadi pendiri.