Tiga bulan setelah hari pertama kuliah, Bumi dan Hendro sudah jadi sahabat dekat di Tek Info ITB.
Mereka belajar bareng untuk Algoritma yang sulit (Pak Subagio memang killer—tugasnya minta solve problem yang ambil dua puluh jam). Mereka makan siang bareng setiap hari di kantin. Mereka kadang nongkrong di Anomali Coffee yang sekarang punya cabang di Dago—lokasi yang Bumi pilih sengaja, untuk mengingat Bapak Bunda.
Hendro anak yang pintar tapi gugup. Bumi perhatikan dia sering grogi saat presentasi. Tangannya gemetar saat tanya pertanyaan ke dosen. Padahal otak-nya lebih cerdas dari Bumi sendiri di matematika.
Bumi tidak komentar tentang gugup-nya. Cuma jadi teman yang stabil—datang ke setiap tugas kelompok, support Hendro saat dia ragu, hadir tanpa drama.
Tiga bulan kemudian, di kafe yang Bumi sengaja pilih untuk privacy (Yellow Truck Coffee di pinggir jalan, biasanya sepi sore Sabtu), Hendro tiba-tiba bicara dengan nada yang berbeda.
"Bumi."
"Iya, Hen."
"Saya... saya pernah dengar suara di kepala. Dari saya kecil. Saya pikir itu cuma imajinasi. Tapi belakangan ini, dia... dia lebih sering."
Bumi menyimpan kopinya. Menatap Hendro.
"Hen. Suara seperti apa?"
"Suara perempuan tua. Bilang dia 'guru' saya. Bantu saya jawab soal matematika lebih cepat."
Bumi mengangguk. Ini tipikal—seperti yang Mas Dharma tulis di buku-nya tentang pola "guru" yang menawarkan kemampuan.
"Hen. Saya juga pernah dengar suara. Sejak saya umur tiga."
Hendro membeku. Mata-nya melebar.
"Bumi. Sungguh?"
"Sungguh. Tapi saya tidak dengarkan."
"Kenapa?"
"Bapak saya bilang—jangan dengarkan suara dari luar yang masuk ke kepala kita tanpa diundang. Bahkan kalau dia kelihatan baik. Karena kita tidak tahu siapa dia sungguhan."
Hendro menelan ludah. "Tapi suara saya bantu saya."
"Hen. Ingat soal kalkulus minggu lalu? Yang kau hampir tidak bisa selesai sendiri?"
"Iya."
"Akhirnya kau selesaikan dengan bantuan suara, atau dengan otak kau sendiri?"
Hendro memikirkan. "Otak saya sendiri. Suara mau kasih jawaban tapi saya... saya tolak hari itu, karena kau bilang minggu lalu untuk coba sendiri dulu."
"Bagaimana rasanya?"
"Bangga. Capek tapi bangga."
"Hen. Itu bukti. Otak kau lebih kuat dari yang kau kira. Kemampuan yang dari diri kau sendiri lebih kokoh. Yang dari luar bisa hilang kapan saja."
Hendro menatap kopi-nya.
"Bumi. Bagaimana cara saya berhenti dengarkan suara?"
Bumi tersenyum. Ini momen yang dia tunggu.
"Hen. Saya akan ajari dengan kecepatan kau. Tidak buru-buru. Kalau kau setuju, kita mulai pelan-pelan."
"Iya, Bumi. Saya setuju."
"OK. Pertama: setiap kali suara mau bicara, kau pikir dalam hati: 'Saya tidak mau bicara dengan kamu sekarang. Saya mau pikir sendiri dulu.' Sederhana. Tegas."
"Itu saja?"
"Untuk minggu pertama, iya. Lakukan setiap kali suara muncul. Kabari saya minggu depan—saya tanya pengalamannya."
Hendro mengangguk. Memikirkan.
"Bumi. Kamu... kamu siapa sebenarnya?"
Bumi menatap sahabatnya. Kalimat yang akhirnya keluar.
"Hen. Saya cuma orang yang dapat ajaran dari Bapak dan Kakek saya sejak kecil. Yang mau bagi ke teman."
"Tapi Bumi—berapa banyak orang yang dengar suara di kepala?"
"Hen. Lebih banyak dari yang kau kira. Mungkin satu dari seribu orang. Kamu tidak sendirian."
Hendro menarik napas dalam. Lalu—dengan mata yang sekarang basah—mengangguk.
"Bumi. Terima kasih."
"Hen. Saya cuma sampaikan apa yang saya tahu. Sisanya kamu yang harus pelajari."
***
Malam itu, Bumi WA Lila:
*"Lila. Hendro bertanya. Saya cerita prinsip dasar. Dia setuju coba minggu pertama."*
*"Bumi! Selamat. Kamu menanam benih lagi."*
*"Iya. Pelan-pelan. Tujuh tahun setelah kamu, saya sekarang mulai dengan Hendro. Mungkin dua tahun lagi dia akan ketemu Paman Bima."*
*"Bumi. Anomali sudah dimulai—tanpa nama resmi, tanpa kantor, tanpa tim. Cuma kamu yang ajar Hendro, seperti Bapak ajar kamu, seperti Mas Dharma ajar Bapak."*
Bumi tutup HP. Tersenyum di kamar kost-nya.
Anomali memang sudah dimulai. Bumi cuma belum sadar betapa cepat semuanya akan berkembang.