Sebulan kemudian, Lila datang ke Bandung untuk weekend pertama bareng Bumi.
Reza dan Mira yang antar Lila ke Stasiun Gambir dengan Bu Yana. Lila lima belas, masih SMA, jadi orangtua harus izin formal. Lila menginap di kost Bumi—Bu Sumi yang ramah setuju Lila tinggal di kamar tamu di lantai bawah, tidak di kamar Bumi.
Sabtu pagi, Bumi dan Lila jalan ke Anomali Coffee Dago. Sarapan dengan croissant dan kopi susu yang Bumi sudah hapal pesanannya.
"Lila. Anomali sungguhan tidak akan kayak ini—kafe kecil yang jual kopi enak."
"Iya, Bumi. Tapi nama-nya keren juga. Mungkin kita pertahankan kafe sebagai bagian dari perusahaan—co-working space dengan kopi enak. Tempat tim Anomali kerja, tempat klien datang konsultasi."
Bumi tertawa. "Lila, kamu lima belas dan sudah pikir desain kantor."
"Ayo Bumi, kita mulai sketch hari ini."
Lila mengeluarkan buku catatan kecil dari tas-nya. Halaman pertama kosong, dia tulis di atas: **ANOMALI - PLAN**.
Mereka mulai brainstorming. Tidak terstruktur. Tidak formal. Cuma dua sahabat di kafe yang ngobrol tentang masa depan.
"Bumi. Apa yang Anomali jual?"
"Bukan jual. Bantu. Anomali deteksi anak yang punya kapasitas, lalu ajari cara melindungi diri."
"OK. Tapi ini perusahaan. Harus ada revenue."
"Revenue dari siapa?"
"Orangtua yang sadar anaknya butuh bantuan. Mereka bayar untuk konseling, untuk training. Mungkin sekolah-sekolah swasta yang mau punya program proteksi multidimensi untuk siswa."
Bumi memikirkan. "Lila. Itu masuk akal. Tapi bagaimana orangtua tahu Anomali ada?"
"Awal-awal, word of mouth. Bumi sudah ajar Hendro, kan? Kalau Hendro suatu hari bilang ke siapa pun di Surabaya tentang teman bernama Bumi yang ajar dia—itu sudah marketing organik."
"Iya. Tapi untuk skala lebih besar?"
"Bumi. Saya pikir Anomali butuh visibility yang science-backed. Bukan cuma cerita. Harus ada riset yang dipublikasi. Paper akademik. Mungkin TED Talk suatu hari."
"Saya bukan akademisi."
"Bumi. Kamu mahasiswa Tek Info di ITB. Kamu bisa kerja sama dengan mahasiswa neuroscience di UNPAD atau ITB. Kamu bikin alat scan otak yang deteksi pola unik—pola yang berbeda di anak yang punya kapasitas. Lalu publikasi paper."
Bumi menatap Lila.
"Lila. Ide gila."
"Tapi mungkin?"
"Mungkin. Kalau saya cari professor yang open mind. Yang mau riset sesuatu di luar mainstream."
"Bumi. Mulai cari sekarang. Kamu masih semester satu—empat tahun banyak waktu."
Mereka diam. Minum kopi. Bumi menatap halaman buku catatan Lila yang sekarang punya beberapa baris brainstorm:
- Anomali deteksi + ajari anak dengan kapasitas
- Revenue: orangtua, sekolah swasta
- Marketing: word of mouth + science-backed paper
- Tools: scan otak (cari professor)
- Tim awal: Bumi (founder), Lila (co-founder, business)
- Plus: Hendro? Pasien lain?
"Bumi. Saya akan kuliah di Bandung juga."
"Iya, kamu sudah bilang."
"Saya pikir saya ambil Manajemen di SBM ITB. Saya bisa belajar bisnis sambil kamu belajar tek-nya. Kita siap jadi co-founder saat lulus."
Bumi mengangguk. "Itu tepat."
"Plus. Saya sudah cek—SBM ITB kerjasama dengan beberapa lab penelitian. Kalau saya jadi mahasiswa SBM, saya bisa apply jadi research assistant di lab neuroscience. Akses ke alat scan otak."
"Lila. Kamu sudah pikirin semua ini?"
"Iya. Sejak kamu pindah ke Bandung. Saya banyak waktu di kelas yang membosankan."
Bumi tertawa. Lila tertawa juga. Mereka berdua tertawa di kafe Anomali Coffee Dago, di sore Sabtu yang oranye.
***
Minggu siang, sebelum Lila pulang ke Jakarta, mereka jalan-jalan di Dago Pakar—area pegunungan dengan pemandangan kota Bandung di bawah.
Berdiri di tepi jurang, dengan angin yang kencang, Lila menatap kota.
"Bumi. Suatu hari, di kota bawah sana, akan ada kantor Anomali. Tim kita. Klien yang kita bantu."
"Iya, Lila."
"Sepuluh tahun dari sekarang."
"Mungkin lebih cepat. Mungkin lebih lambat. Tapi pasti."
Mereka diam. Memandang Bandung.
Lalu Bumi bilang sesuatu yang dia tidak rencanakan:
"Lila. Saya cinta kamu. Sebagai sahabat. Sebagai partner. Sebagai apa pun yang Anomali butuhkan kita jadi nanti."
Lila menatap Bumi.
"Bumi. Saya juga cinta kamu. Sebagai sahabat. Plus saya pikir, suatu hari, sebagai sesuatu yang lebih dari sahabat."
Bumi membeku.
"Lila..."
"Bumi. Kita lima belas dan delapan belas. Belum waktunya. Tapi... mungkin nanti, saat saya delapan belas dan kamu dua puluh satu, kita bicara lagi. Saya cuma mau kamu tahu—saya bukan cuma sahabat."
Bumi menatap mata Lila. Sahabat sejak Lila delapan, yang sekarang lima belas.
"Lila. Kalau itu hari datang, saya akan dengar."
Lila tersenyum. Mengulurkan tangannya. Mereka pegangan—bukan menggenggam, cuma jari saling sentuh.
Tiga tahun lagi. Mungkin lima tahun. Tidak ada deadline.
Tapi Anomali akan ada bersama mereka—sebagai pekerjaan, mungkin sebagai keluarga juga.