Setahun setelah Lila datang weekend, Bumi yang sekarang sembilan belas dan semester tiga menemukan profesor yang dia cari.
Profesor Dr. Sri Hendarwati, dosen tamu di ITB dari UNPAD, ahli neuroscience dengan spesialisasi "atypical brain pattern in children." Bumi membaca paper-nya di Google Scholar, dapat link dari Hendro yang sekarang sudah jadi sahabat dekat (dan yang awan-nya sudah lima meter dari kepalanya, sukses jauh).
Bumi datang ke kantor Profesor Hendarwati di kampus UNPAD Jatinangor di hari Sabtu—Profesor sudah setuju ketemu setelah Bumi kirim email dengan pertanyaan spesifik tentang papernya tahun 2031 tentang "consciousness markers in pediatric neuroscience."
Profesor Hendarwati—perempuan empat puluhan, kacamata bingkai kayu, baju batik—menyambut Bumi di kantor kecilnya yang penuh buku.
"Bumi Wijaya. Dari ITB Tek Info. Mahasiswa semester tiga yang kontak professor neuroscience UNPAD untuk riset di luar kurikulumnya. Menarik."
"Profesor. Terima kasih sudah menerima saya."
"Bumi. Saya baca proposal kau—email yang kau kirim. Pertanyaan kau spesifik dan tidak naif. Kau punya pengalaman pribadi, kan?"
Bumi menelan ludah. Profesor sudah membaca dia sebelum mereka bertemu.
"Profesor. Iya. Saya punya kapasitas yang... saya pikir bisa diukur dengan instrumen neuroscience."
"Bumi. Ceritakan."
Bumi cerita. Tidak semuanya—dia sudah belajar dari Bapaknya, dari Mas Dharma, untuk tidak buru-buru. Tapi dia cerita versi yang science-friendly: "saya merasa pola pikir tertentu yang berbeda dari teman saya, dan saya ingin riset apakah ada signature neurologis yang membedakan."
Profesor Hendarwati mendengarkan. Tidak interupsi. Saat Bumi selesai, dia bicara pelan.
"Bumi. Saya percaya kau."
"Profesor?"
"Saya 25 tahun di neuroscience. Saya ketemu ratusan anak yang bilang mereka 'merasa berbeda.' Saya scan otak mereka. 99% adalah ADHD, autisme, atau sensori atypicality biasa. Tapi ada 1%—sangat sedikit—yang scan-nya menunjukkan pola yang saya tidak bisa jelaskan dengan textbook. Pola yang... terhubung dengan sesuatu yang saya tidak punya nama untuknya."
Bumi menahan napas.
"Profesor. Anda bersedia... bersedia kerja sama dengan saya?"
"Bumi. Apa yang kau tawarkan?"
"Saya mahasiswa Tek Info. Saya bisa bangun software analisis pattern—machine learning yang scan data fMRI dan deteksi pola yang Anda bilang 'tidak bisa dijelaskan textbook.' Kalau pola itu konsisten di banyak subjek, kita publikasi paper bareng."
Profesor Hendarwati berpikir lama.
"Bumi. Saya akan bersedia. Tapi dengan syarat."
"Apa, Profesor?"
"Pertama, kau jadi research assistant resmi saya—ada gaji kecil. Saya tidak mau eksploitasi mahasiswa. Kedua, semua data yang kita kumpul, kita simpan untuk satu tujuan: paper akademik publikasi. Bukan komersial, belum."
"Profesor, suatu hari saya mau bangun perusahaan dari riset ini."
"Bumi. Saya tahu. Saya baca antara baris-baris email kau. Tapi—tunggu sampai paper publikasi. Setelah itu, kau boleh bangun perusahaan dengan basis paper kita. Saya akan jadi advisor, bukan founder. Itu deal saya."
Bumi mengulurkan tangan. "Deal."
Mereka jabat tangan. Bumi yang sembilan belas dengan Profesor Hendarwati yang empat puluhan. Awal sebuah kerjasama yang akan bertahun-tahun.
***
Malam itu, Bumi WA Lila:
*"Lila. Profesor Hendarwati setuju. Saya jadi research assistant-nya mulai semester depan. Plus dia sediakan akses ke fMRI lab UNPAD."*
*"Bumi! Selamat. Anomali blueprint-nya makin nyata."*
*"Iya. Tapi Profesor minta saya tunggu publikasi paper sebelum bangun perusahaan."*
*"Berapa lama kira-kira sampai publikasi?"*
*"Mungkin tiga tahun. Saya mengumpul data, bangun model ML, analisis. Lalu paper draft, peer review, publikasi."*
*"Tiga tahun. Pas saya lulus SMA dan masuk SBM ITB."*
*"Lila. Timing kita bagus."*
*"Bumi. Anomali akan dimulai saat kita lulus. Persis."*
Bumi tertawa di kost-nya.
Anomali memang punya jadwal sendiri—jadwal yang Bumi dan Lila tidak rancang, tapi yang terungkap perlahan-lahan saat mereka mengikuti instinct yang dilatih sejak kecil.