Bumi semester lima saat panggilan datang dari Mira di Jakarta.
Pukul lima pagi. HP Bumi bergetar di nakas. Bumi yang biasanya bangun jam tujuh, langsung sadar—telepon jam segini bukan kabar baik.
"Bunda."
"Bumi. Kakek..."
Bumi duduk di kasur. Tahu sebelum Mira selesai kalimat.
"Kakek sudah pergi tadi malam. Tidur, tidak bangun. Bunda baru tahu pagi tadi pas ke Cibubur antar sarapan."
Bumi menutup matanya. "Bunda. Saya pulang sekarang. Kereta paling pagi."
"Iya, sayang. Pemakaman besok pagi di Cibubur. Bumi datang."
***
Bumi naik kereta paling pagi dari Bandung. Di kereta, dia tidak menangis—belum. Cuma duduk, memandang jendela, mengingat Pak Wirya.
Kakeknya. Yang umur enam memberinya kalung beringin yang masih dia pakai. Yang ajarin mantra perlindungan. Yang setiap kunjungan Cibubur sambut Bumi dengan ayunan rotan dan teh manis.
Pak Wirya delapan puluh tiga saat dia pergi. Umur yang panjang dan baik. Pria yang Reza pernah bilang "tanpa Pak Wirya, saya mungkin tidak akan selamat dari Sistem dulu."
Bumi sampai di Jakarta pukul sebelas siang. Reza menjemput di Stasiun Gambir. Mereka tidak banyak bicara—Bumi memeluk Bapaknya di peron, lama.
***
Pemakaman dilaksanakan di TPU Cibubur, dekat rumah Pak Wirya. Sederhana—keluarga inti, beberapa tetangga lama, beberapa pasien Pak Wirya yang sudah jadi sahabat selama bertahun-tahun.
Mira menangis pelan. Bunda yang tegas dan kuat, sekarang di pemakaman ayahnya, kelihatan rapuh untuk pertama kali.
Surya yang sekarang enam belas, juga menangis—diam-diam, tidak suara, tapi air mata di pipinya.
Paman Bima datang dari Yogyakarta dengan Mbak Lestari. Bima menatap kakaknya yang sekarang sendirian sebagai anak Pak Wirya—Mama Sari sudah lama pergi, sekarang Pak Wirya ikut.
"Mbak."
"Bima."
Mereka peluk. Lama.
Bumi berdiri di samping Lila—Lila yang juga datang dari Jakarta dengan keluarganya. Pak Anto, Bu Yana, Aldo (sekarang dua puluh tiga, kerja di bank), Lila tujuh belas.
Lila menggandeng tangan Bumi. Bumi tidak menarik.
"Lila. Kakek pergi."
"Iya, Bumi. Tapi Kakek bahagia. Saya merasa."
Bumi menatap Lila. "Kamu... merasa?"
"Iya. Saya buka jendela kepala saya tadi pagi sebelum berangkat. Kakek—energi-nya—tenang. Damai. Bukan takut, bukan sedih. Cuma damai."
Bumi mengangguk. Air mata kecil di pipinya.
"Kakek mengajari saya banyak. Mantra perlindungan, dia kasih kalung yang masih saya pakai."
"Kakek juga ajarin saya. Walaupun saya cuma cucu adopsi."
"Lila. Kakek sayang kamu seperti cucu sungguhan. Kamu tahu itu."
"Iya, Bumi."
***
Setelah pemakaman, semua kembali ke rumah Cibubur untuk takziah. Reza, Mira, Bumi, Surya berdiri di teras yang Pak Wirya buat sendiri tiga puluh tahun lalu. Ayunan rotan masih di sana. Kursi dari kayu jati yang Pak Wirya sering duduki.
Reza menatap teras. "Mira. Saya harus jaga rumah ini."
"Reza?"
"Saya tahu Bunda kamu pergi tujuh tahun lalu, sekarang Bapak kamu juga. Rumah ini... rumah ini akan Bunda dan Bapak. Saya tidak mau dijual. Saya mau tetap bisa datang setiap weekend, ngajak Bumi dan Surya, ngajak cucu kalau Bumi suatu hari punya anak."
Mira memeluk suaminya. "Reza. Iya."
Bumi yang dengar dari belakang, ikut peluk. Surya juga.
Empat orang di teras Cibubur—rumah Pak Wirya yang sekarang akan jadi rumah keluarga.
***
Malam itu, sebelum Bumi naik kereta kembali ke Bandung, dia ke teras Cibubur sendirian. Membuka jendela kepalanya—pelan, hati-hati.
Pak Wirya tidak ada. Tidak sebagai awan, tidak sebagai energi yang bisa Bumi lihat.
Tapi Bumi merasa sesuatu yang hangat. Bukan dari luar—dari dalam dirinya. Seperti Pak Wirya menanam sesuatu di Bumi delapan tahun lalu saat dia kasih kalung, dan sekarang sesuatu itu bergerak.
*"Kakek,"* Bumi pikirkan—bukan ke awan apapun, cuma ke memori. *"Saya akan terus pakai kalung ini sampai saya tidak butuh lagi. Saya akan terus ajarin mantra ke anak-anak yang butuh. Saya akan jaga apa yang Kakek mulai."*
Bumi menutup jendela kepalanya.
Pulang ke kereta. Kembali ke Bandung. Ke Anomali yang masih tiga tahun jauh.
Tapi Pak Wirya akan selalu jadi pondasi—Bumi tahu ini sekarang lebih dari sebelumnya.