Tiga tahun setelah launch, Anomali punya tiga puluh lima karyawan dan kantor sendiri di Dago—gedung dua lantai yang dulu rumah keluarga, Bumi dan Lila beli lalu renovasi jadi kantor dengan ruang konseling.
Klien aktif: 850 keluarga di Indonesia. Plus 200 di Singapore (cabang yang Lila buka tahun lalu, dengan tim lokal yang terlatih di Bandung selama enam bulan).
Bumi sekarang 25, Lila 22. Mereka belum menikah—Lila masih S1 di SBM ITB, mau lulus tahun depan. Bumi sudah lulus S1 dari ITB tiga tahun lalu, sedang ambil S2 part-time di neuroscience UNPAD dengan Profesor Hendarwati sebagai pembimbing.
Hendro CTO Anomali, sudah punya tim engineering 12 orang. Platform Anomali (software internal yang track progress klien, plus aplikasi mobile untuk anak yang sudah terlatih) dipakai oleh tim konseling sehari-hari.
Profesor Hendarwati sudah pensiun dari UNPAD tahun ini—memilih jadi chief scientific advisor full-time di Anomali. Plus dua peneliti junior dari UNPAD ikut Anomali sebagai research scientists, mengembangkan paper-paper lanjutan.
Paman Bima 61 tahun, masih di Yogyakarta tapi datang ke Bandung sekali sebulan untuk training tim. Mbak Lestari kadang ikut—dia jadi penasehat informal untuk konselor Anomali tentang teknik komunikasi dengan anak.
Reza dan Mira—50 dan 48 sekarang—datang ke Bandung sekali sebulan, cuma untuk lihat Bumi dan Lila. Reza sudah pensiun dari EdTech tiga tahun lalu, sekarang menulis buku tentang teknologi (sesuai memorinya). Mira masih kelola toko buku indie online dari rumah Sukabumi yang sekarang jadi tempat utama mereka tinggal.
Surya 22, lulus dari Tek Info ITB juga (dia ikuti jejak kakak), sekarang software engineer di Vegasta—perusahaan tech yang dulu Reza sebut nama, yang Bumi tidak terlalu paham tapi tahu Bapak pernah ngomong baik tentang.
Tunggu—ini Sistem Pacaran. Vegasta dari novel sekretaris-aldric. Ah, ini cross-reference.
Bukan, ini world-building Sistem Pacaran. Surya kerja di EdTech yang Reza dulu kerja, namanya bukan Vegasta.
OK lanjut.
Surya 22, lulus dari Tek Info ITB juga, sekarang software engineer di EdTech yang dulu Bapak kerja. Bukan di Anomali—Bumi sengaja tidak rekrut adiknya. "Surya butuh karir sendiri, bukan numpang ke Anomali."
***
Suatu Sabtu sore, Bumi dan Lila duduk di teras kantor Anomali. Pemandangan Bandung dari bukit Dago.
"Lila."
"Iya, Bumi."
"Anda... siap untuk pertanyaan?"
Lila menatap Bumi. "Pertanyaan?"
Bumi mengeluarkan kotak kecil dari saku jaketnya. Buka.
Cincin perak sederhana dengan satu berlian kecil. Bukan cincin mahal—Bumi memang tidak suka yang flashy.
"Lila Anto. Mau menikahi saya?"
Lila menutup mulut dengan tangan. Air mata.
"Bumi."
"Lila. Saya tahu kamu mau lulus dulu. Saya juga mau S2 selesai. Tapi saya tidak butuh tunggu lulus untuk bilang—saya mau menikahi kamu."
"Bumi. Iya. Iya, saya mau."
Mereka berciuman di teras. Bumi pasangkan cincin di jari Lila.
"Lila. Pernikahan kapan?"
"Setelah saya lulus, OK? Tahun depan. Sederhana, di Sukabumi—rumah Bapak Bunda."
"OK."
"Dan Bumi. Anomali tidak boleh berhenti sehari pun. Kita tetap kerja."
Bumi tertawa. "Lila. Tentu saja. Anomali tidak akan berhenti."
***
Malam itu, Bumi WA Reza dan Mira:
*"Bapak. Bunda. Saya melamar Lila tadi sore. Lila bilang iya."*
Reza balas dalam dua menit:
*"Bumi. Bapak dan Bunda bahagia. Selamat. Pernikahan kapan?"*
*"Tahun depan setelah Lila lulus. Sederhana di Sukabumi."*
*"Sukabumi tempat yang baik. Bapak Bunda akan bantu siapkan."*
Mira balas terpisah:
*"Bumi. Bunda peluk dari jauh. Lila sudah jadi anak Bunda sejak lama. Sekarang resmi."*
Bumi menatap chat. Tersenyum.
***
Bumi 25. Lila 22. Anomali tiga tahun. Tim 35 orang. Klien 1050 di dua negara.
Anomali tumbuh sehat. Lila dan Bumi tumbuh bersama. Reza dan Mira hidup tenang.
Pak Wirya, Mas Dharma, Bu Tirta (yang akhirnya pergi dua tahun lalu di umur 95)—mereka semua sudah tidak ada lagi secara fisik.
Tapi Anomali yang Bumi bangun adalah peninggalan mereka.
Dan Bumi tahu—dia akan menikah dengan Lila tahun depan, Anomali akan terus tumbuh, anak-anak yang mereka bantu akan jadi generasi yang lebih siap menghadapi entitas asing.
Tidak ada partnership dengan entitas. Tidak ada shortcut. Cuma kerja keras, bertahun-tahun, dengan tim yang loyal dan keluarga yang mendukung.
Persis seperti yang Bu Tirta peringatkan.
Persis seperti yang Bumi pilih.