Setahun kemudian, di rumah Sukabumi yang dulu Reza dan Mira beli sebagai rumah weekend, sekarang jadi tempat tinggal utama mereka—Bumi dan Lila menikah.
Rumah Sukabumi yang Bumi tumbuh kunjungi sejak kecil—kebun belakang dengan pohon mangga, kandang ayam, kursi rotan teras yang Reza pernah duduki dengan Mira di pagi-pagi yang berkabut.
Pernikahan sederhana. Empat puluh tamu. Keluarga inti dari kedua sisi:
- Reza, Mira, Surya
- Bu Yana, Pak Anto, Aldo (dengan istrinya, Wina)
- Paman Bima, Mbak Lestari
- Tim inti Anomali: Hendro dengan istri (Hendro menikah tahun lalu dengan teman SMP Surabaya-nya), Profesor Hendarwati dengan suaminya, beberapa karyawan senior
- Beberapa teman SMA Bumi dan Lila
- Beberapa klien Anomali yang sudah jadi keluarga (Pak Bambang, Bu Sari, Davin yang sekarang 14 dan sudah selesai program training; mereka bukan klien lagi tapi tetap kontak)
Reza yang memimpin upacara—dia tidak penghulu, tapi Lila dan Bumi minta dia jadi orang yang membaca sumpah. Pak Anto kelihatan setuju, walaupun dia tidak ikut bicara di acara.
Sumpah Bumi:
"Lila. Saya kenal kamu sejak kamu delapan, saat Bunda ajak saya ke rumah kalian dengan kue lapis Surabaya. Saya sebelas waktu itu, tidak punya banyak pikiran tentang masa depan."
"Tapi malam itu saya pulang dan bilang ke Bunda: 'Lila punya awan. Lila perlu bantuan.' Bunda dan Bapak ajari saya cara mendekati Lila pelan-pelan, tanpa memaksa."
"Empat tahun saya jadi sahabat Lila tanpa pretensi apa pun. Lalu Lila yang bilang—dia mau jadi sesuatu yang lebih dari sahabat. Saya yang awalnya kaget, lalu sadar saya juga merasa begitu sejak lama."
"Empat tahun lagi kita pacaran jarak jauh, lalu Bandung. Bersama membangun Anomali. Bersama menghadapi klien yang sulit, masalah operasional, drama tim."
"Lila. Saya tidak tahu cara mencintai sebelum saya kenal kamu. Sekarang saya tahu—mencintai bukan tentang merasa, tapi tentang memilih. Saya memilih kamu hari ini, dan saya akan memilih kamu setiap pagi sampai akhir hidup saya."
Lila menangis di altar. Bumi juga.
Sumpah Lila:
"Bumi. Saya delapan tahun saat saya pertama kali lihat kamu di pintu rumah saya. Mata kamu beda dari anak lain seumur saya. Mata yang sudah tahu sesuatu yang saya belum tahu."
"Saya sebelas saat saya bertanya pertama kali tentang suara di kepala saya. Kamu yang ajari saya prinsip dasar—'pikir sendiri dulu.'"
"Saya lima belas saat saya bilang ke kamu di Dago Pakar—'saya akan menunggu sampai kita siap.' Kamu mengangguk. Tiga tahun kita tunggu."
"Sekarang saya 23. Bumi 26. Anomali empat tahun. Saya tahu hidup saya akan jadi seperti apa kalau saya tidak ketemu kamu—biasa, tenang, mungkin bahagia. Tapi tidak akan punya tujuan yang ini."
"Bumi. Saya cinta kamu. Dengan semua yang kita bangun bareng. Selamanya."
Mereka berciuman. Tamu bertepuk tangan.
***
Setelah upacara, pesta sederhana di kebun belakang. Mira masak ayam taliwang resep Lombok yang dia pelajari dari Ayah dulu. Bu Yana bawa kue lapis Surabaya—kue yang sama yang dulu dia bawa saat pertama kali pindah ke sebelah rumah Bumi delapan belas tahun lalu.
Surya yang sekarang 23, jadi MC informal pesta. Cerita-cerita lucu tentang masa kecil dengan kakaknya. "Kakak saya selalu bijak banget. Saya yang biasa-biasa saja. Tapi sekarang saya sadar—kakak saya bijak karena dia harus, saya biasa karena saya beruntung. Itu OK."
Tamu tertawa. Bumi memeluk adiknya.
Paman Bima berdiri untuk speech. Pria 62 tahun yang dulu autis remaja, sekarang konselor terkenal di komunitas khusus.
"Bumi. Saya kenal kamu sebelum kamu lahir—lewat awan yang Bunda kamu bawa di kepala saat kamu di kandungan. Saya tahu kamu akan jadi seseorang yang membantu banyak anak. Hari ini, saya bersaksi—kamu sudah jadi orang itu, dan dengan Lila di samping kamu, kamu akan jadi lebih lagi."
Bumi menutup matanya. Air mata.
***
Bulan madu mereka di Bali—bukan resort mewah, vila kecil di Ubud yang Lila pilih. Dua minggu istirahat, sebelum kembali ke Anomali.
Saat mereka pulang, Anomali sudah tumbuh lagi—HR baru rekrut lima karyawan. Hendro launch update aplikasi mobile baru. Klien di Singapore tambah tiga puluh. Plus permintaan dari Manila untuk cabang Filipina.
Bumi dan Lila kembali kerja di Senin pagi. Sebagai suami istri sekarang. Sebagai co-founders yang sudah lima tahun bersama.
Anomali masuk fase berikutnya—internasional.
***
Malam pertama setelah pulang dari Bali, Bumi dan Lila duduk di teras kantor Anomali Bandung. Pemandangan kota di bawah, sama dengan tiga tahun lalu saat Bumi melamar Lila.
"Lila."
"Iya, suamiku."
Bumi tertawa. "Saya belum biasa mendengar kata itu."
"Saya juga belum biasa bilang. Tapi saya akan biasa."
Mereka pegangan tangan. Memandang Bandung.
Anomali tumbuh.
Bumi dan Lila tumbuh bersama.
Mas Dharma, Pak Wirya, Bu Tirta—mereka semua sudah tidak ada, tapi peninggalan mereka hidup di pekerjaan ini.
Yang akan datang—internasional, lebih banyak klien, lebih banyak entitas yang Anomali harus hadapi—Bumi dan Lila tidak tahu pasti.
Tapi mereka siap.