Pukul tujuh pagi, Bumi dan Lila duduk di teras rumah dengan kopi. Cahaya masih tidur—biasanya dia bangun jam delapan, lalu sarapan dengan Bunda-nya.
"Lila. Saya cerita dulu."
Bumi cerita mimpinya. Detail demi detail. Perempuan tua dengan jas putih. Penawaran 5% kepemilikan plus akses data klien. Argumen "Anomali akan jangkau lebih banyak anak."
Lila mendengarkan. Tidak interupsi. Saat Bumi selesai, dia menatap suaminya.
"Bumi. Anda tolak."
"Iya."
"Anda yakin tolak benar?"
"Lila. Saya yakin. Bu Tirta peringatkan persis ini. Plus surat versi Bumi masa depan—yang dulu awan ungu menunggu di luar pikiran saya saat saya kecil. Mereka semua bilang sama: tolak partnership."
Lila mengangguk pelan.
"Bumi. Tapi argumen perempuan itu—'anak yang tidak akan terjangkau tanpa kami akan mati'—itu argumen berat."
"Iya. Saya tahu."
"Apakah... apakah ada cara verifikasi argumen itu? Apakah anak-anak benar mati tanpa partnership mereka?"
Bumi memikirkan. "Lila. Saya tidak bisa verifikasi. Saya tidak punya data dari mereka. Tapi—"
"Tapi?"
"Tapi saya pikir argumen itu manipulasi standar. Mereka tahu saya values 'menyelamatkan anak.' Mereka pakai itu sebagai leverage. Sama seperti awan Davin dulu yang kasih info pribadi tentang Kakek saya untuk bangun trust dengan Davin."
Lila mengangguk. "Iya. Itu pattern manipulasi."
"Plus—Lila—kalau argumen mereka benar dan kita tolak, dan ada anak-anak yang mati, itu bukan tanggung jawab kita. Tanggung jawab mereka, kalau mereka punya teknologi yang bisa selamat tapi mereka tahan untuk leverage."
"Bumi. Itu argumen yang lebih kuat."
***
Mereka diam sebentar. Minum kopi. Cahaya di kamar bawah mulai bangun—suara dia panggil "Bunda!"
Lila berdiri. "Bumi. Saya bersama Cahaya. Anda?"
"Saya akan email Profesor Hendarwati pagi ini. Cerita mimpi semalam. Minta saran."
Lila mencium kening suaminya. Pergi ke kamar Cahaya.
***
Bumi kirim email ke Profesor Hendarwati pukul setengah delapan pagi. Profesor balas pukul sembilan—dia memang bangun pagi.
Email Profesor:
*"Bumi. Saya kira ini akan terjadi suatu hari. Anda sudah lakukan yang benar."*
*"Tapi saya saran tiga hal:"*
*"1. Bumi update buku catatan Anda dengan detail mimpi semalam. Mungkin ada entitas lain yang datang dengan pendekatan yang sama—data ini bisa membantu strategi defensif kita."*
*"2. Bumi siapkan tim Anomali untuk kemungkinan eskalasi. Kalau perempuan dalam mimpi benar—'entitas lain yang lebih agresif akan datang'—kita harus siap."*
*"3. Bumi pertimbangkan bertemu Profesor Tanaka dari Tokyo University. Beliau punya riset paralel tentang 'inter-dimensional contact' yang Anda mungkin akan tertarik. Saya kontak beliau atas nama Anda."*
*"Bumi—saya bangga sama Anda."*
Bumi balas: *"Profesor. Terima kasih. Saya akan kerjakan tiga rekomendasi."*
***
Pagi itu di kantor Anomali, Bumi memanggil rapat pimpinan eksekutif: Lila (COO), Hendro (CTO), Maria (Asia regional director, datang dari Manila), Akira (Tokyo regional director), Priya (Mumbai regional director). Plus Profesor Hendarwati yang dial-in lewat video.
Bumi cerita semuanya. Mimpi. Penawaran. Tolak. Argumen.
Tim diam. Lalu Akira—yang Jepang, biasanya tenang—bicara.
"Bumi. Saya dengar tentang ini di Tokyo dua bulan lalu. Profesor Tanaka—yang Profesor Hendarwati sebut tadi—dia juga didekati entitas dengan penawaran serupa. Beliau juga tolak."
"Akira. Anda kenal Profesor Tanaka?"
"Iya. Beliau kolega akademik saya sebelum saya pindah ke industri. Beliau yang menyarankan saya kerja dengan Anomali tahun lalu—dia tahu pekerjaan Anda dan Profesor Hendarwati."
Lila menatap Akira. "Akira. Anda tidak pernah cerita ini ke kami."
"Saya tidak yakin sampai sekarang. Tapi setelah Bumi cerita mimpinya, saya yakin—Profesor Tanaka dan Bumi disekati entitas yang sama. Atau setidaknya jaringan entitas yang sama."
Hendro bicara: "Bumi. Apakah kita pakai ini sebagai data point? Mungkin Anomali bukan satu-satunya target."
Bumi mengangguk. "Hendro. Iya. Profesor Hendarwati saran kita siapkan tim untuk eskalasi. Saya pikir kita mulai dengan: setiap regional director harus document setiap kontak entitas yang dia atau timnya alami. Hendro bangun internal database untuk tracking ini."
"OK. Saya bangun dalam dua minggu."
Maria: "Bumi. Saya juga punya satu kontak yang saya tidak laporkan formal. Saya kira itu dream cuma. Tapi sekarang—"
"Maria. Cerita."
"Tiga bulan lalu. Saya mimpi pria muda Italia. Bilang dia dari 'kelompok yang membantu evolusi manusia'. Tawarkan saya akses ke dataset global anak-anak dengan kapasitas kalau saya share data Anomali Manila."
"Anda tolak?"
"Iya. Saya kira itu mimpi gila. Tapi sekarang saya sadar—itu test approach mereka di saya."
Bumi menatap timnya. Enam orang di rapat (plus Profesor di video). Setidaknya tiga di antara mereka sudah dikontak entitas.
"Tim. Mulai sekarang—Anomali punya kebijakan baru. Setiap kontak entitas, formal atau dalam mimpi, harus dilaporkan dalam 24 jam ke saya atau Lila. Kita track semuanya. Kita tidak akan partnership dengan entitas mana pun, tapi kita akan mengerti pola mereka."
Tim mengangguk.
Profesor Hendarwati di video bicara: "Bumi. Anda mengubah Anomali dari 'perusahaan konseling' ke 'organisasi defensif.' Itu evolusi yang tepat."
"Profesor. Iya. Saya pikir itulah yang Anomali harus jadi sekarang."
***
Pulang ke rumah malam itu, Bumi memeluk Cahaya yang sudah empat tahun, lebih lama dari biasa.
"Cahaya. Bapak akan jaga kamu. Tidak peduli siapa yang datang."
Cahaya menatap Bapak-nya.
"Bapak. Cahaya baik-baik saja. Cahaya pakai kalung Kakek Buyut."
"Iya, sayang. Pakai terus."
Cahaya mengangguk. Memeluk Bapaknya.
Anomali masuk fase baru. Tidak cuma membantu klien—tapi juga melindungi diri dari entitas yang akan datang lagi.
Bumi siap. Lila siap. Tim siap.
Mereka tidak tahu seberapa parah eskalasi-nya. Tapi mereka siap.