Enam bulan setelah mimpi pertama, eskalasi datang.
Bumi yang notice pertama. Klien Anomali yang biasanya stabil mulai mengalami "regression"—anak-anak yang sudah belajar menolak suara, tiba-tiba mulai dengar suara baru yang lebih persuasif. Dalam dua bulan, 12% klien Anomali Bandung melaporkan regression. Persentase yang lebih tinggi dari baseline normal.
Lila yang lihat data dari Manila, Tokyo, Singapore: pola sama. Regression naik 10-15% di setiap kantor.
"Bumi. Ini bukan kebetulan."
"Iya, Lila. Mereka serang anak-anak kita."
Bumi panggil rapat tim eksekutif darurat. Profesor Hendarwati datang langsung—dia 66 sekarang, sudah pensiun penuh, tapi situasi ini memanggil dia kembali.
"Bumi. Ini eskalasi yang Anda peringatkan. Mereka tidak terima Anda tolak partnership, jadi mereka serang ekosistem Anomali."
"Profesor. Apa yang kita lakukan?"
"Bumi. Kita perlu... kita perlu intelligence dari sisi mereka."
"Maksudnya?"
"Kita perlu kontak entitas yang baik. Yang tidak bagian dari kelompok yang serang kita. Mungkin lewat Bumi—Anda kontak versi tua diri Anda dulu di teras kost Bandung. Mungkin dia bisa kasih info."
Bumi memikirkan. Awan ungu yang dulu—Bumi-versi-80-tahun. Yang sudah berjanji tidak akan kembali sampai partnership ditawarkan.
Bumi sudah menolak partnership. Mungkin sekarang waktu yang tepat untuk kontak.
"Profesor. Saya akan coba malam ini."
***
Malam itu, Bumi di teras rumah Bandung-nya. Cahaya sudah tidur. Lila duduk di samping Bumi, tahu apa yang akan terjadi—Bumi sudah cerita rencana.
Bumi membuka jendela kepalanya. Lebih lebar dari biasanya. Lalu memikirkan dengan tegas:
*"Bumi-versi-80. Anda di sana?"*
Hening. Sepuluh detik. Tiga puluh detik. Satu menit.
Lalu:
*"Bumi. Saya di sini."*
Bumi bisa rasakan awan ungu yang dulu—sekarang lebih jauh, di luar atmosfir bumi mungkin, atau di dimensi yang berbeda.
*"Anda tahu apa yang terjadi?"*
*"Iya, Bumi. Saya tahu. Saya juga melawan kelompok yang sama di masa saya."*
*"Anda menang?"*
*"Saya menang sebagian. Tapi dengan kerugian. Itu sebabnya saya datang ke Anda di kost dulu. Untuk mencegah kerugian saya."*
Bumi menelan ludah.
*"Apa kerugiannya?"*
*"Bumi. Saya akan jujur. Di masa saya—ini terjadi tiga tahun dari sekarang Anda—Cahaya akan jadi target."*
Bumi membeku.
*"Cahaya?"*
*"Iya. Mereka tidak bisa serang Anda atau Lila langsung—Anda berdua sudah terlalu kuat dengan training yang sudah bertahun-tahun. Tapi Cahaya umur empat sekarang, otaknya masih berkembang. Mereka akan target dia. Cahaya yang dewasa akan menyalahkan Anda kalau tidak mencegah."*
Bumi tutup matanya. Tangan Lila menggenggam tangannya.
*"Bagaimana cara mencegah?"*
*"Bumi. Saya tidak punya solusi sempurna. Tapi saya punya saran:"*
*"1. Tarik Cahaya dari sosial publik. Anak Anomali tidak boleh kelihatan di media, di Instagram Anomali, di apa pun yang membuat dia identifiable. Mereka butuh tahu Cahaya untuk target Cahaya."*
*"2. Pindah ke Sukabumi. Tinggal dengan Bapak Bunda Anda. Energi tempat itu—rumah Pak Wirya, plus saya curiga ada residual energi positif dari Pak Wirya—akan melindungi Cahaya."*
*"3. Tutup Anomali untuk publik—bukan tutup operasi, tapi keluar dari spotlight publik. Profesor Hendarwati jadi face of Anomali bukan Anda. Mereka tidak bisa target Cahaya kalau mereka tidak yakin Anda Bapak Cahaya."*
Bumi terdiam.
*"Versi-80. Itu... itu drastis. Anomali masih aktif tapi saya jadi shadow CEO?"*
*"Iya. Saya tahu itu sulit. Tapi di masa saya, saya tidak lakukan ini, dan Cahaya umur tujuh diserang—dia bertahan, tapi dengan trauma yang dia bawa sampai dewasa."*
*"OK. Saya pertimbangkan."*
*"Bumi. Pertimbangkan cepat. Anda punya enam bulan."*
*"Mengapa enam bulan?"*
*"Karena di masa saya, serangan terjadi saat Cahaya umur empat setengah. Anda sekarang Cahaya empat. Enam bulan."*
Bumi tutup jendelanya. Buka mata.
Lila menatap suaminya.
"Bumi?"
Bumi cerita semuanya ke Lila. Saat dia selesai, Lila menggenggam tangan Bumi lebih erat.
"Bumi. Kita pindah ke Sukabumi."
"Lila—"
"Tidak ada negosiasi. Cahaya dulu. Anomali kedua. Saya yang ngomong ke tim besok—Profesor Hendarwati jadi face of Anomali, kita pindah ke Sukabumi, Cahaya tidak boleh muncul di media."
Bumi menatap istrinya. "Lila. Anda yakin?"
"Bumi. Saya tahu sejak Cahaya lahir bahwa kita akan harus berkorban suatu hari. Sekarang waktunya."
***
Tiga bulan kemudian, Bumi-Lila-Cahaya pindah ke Sukabumi. Tinggal di rumah orangtua Bumi—Reza dan Mira yang sekarang hampir 60, senang sekali punya cucu di rumah setiap hari.
Anomali tetap operasi. Profesor Hendarwati keluar dari pensiun untuk jadi public face. Bumi remote dari Sukabumi—video call setiap pagi dengan tim. Lila yang ke Bandung sekali seminggu untuk supervisi langsung.
Cahaya umur empat setengah. Bermain di kebun belakang Sukabumi yang sama dengan kebun Bumi tumbuh dulu. Pohon mangga, ayam, kucing.
Awan-awan yang dulu berdiri jauh dari kepala Cahaya—sekarang lebih jauh lagi. Mungkin mereka tidak bisa masuk Sukabumi. Mungkin energi Pak Wirya yang masih ada di rumah ini.
Bumi tidak tahu pasti. Tapi dia tahu satu hal—Cahaya aman.
Sementara.