Tiga minggu kemudian, Sistem memberi misi baru.
[MISI 5: TEMUI KELUARGA MIRA. WAKTU: 30 HARI.]
Reza membaca misi sambil duduk di kamar Mira—yang sekarang dia kunjungi setiap dua-tiga hari. Mira tinggal sendiri di apartemen kecil di Tebet, satu kamar tidur dan satu ruang tengah dengan dapur yang menyatu. Apartemen yang Mira sewa dari kantornya dengan cicilan bulanan yang dipotong langsung dari gaji.
"Mira. Misi 5."
"Apa?" Mira duduk di sofa, baca novel yang baru. Kucing oranye Kopi tertidur di pangkuannya. Susu tabby berkeliaran di lantai.
"Temui keluarga Anda."
Mira menutup novel. Mengernyit.
"Reza. Itu... itu cepat. Saya baru kenal kau lima minggu. Belum sempat bawa kau ke teman saya, apalagi keluarga."
"Saya tahu. Sistem tidak peduli timeline yang normal."
Mira menatap Reza. Pikir sebentar. Lalu:
"Reza. Kalau tidak misi, kapan Anda mau temui keluarga saya?"
"Mira. Saya... tergantung Anda. Saya tidak punya jadwal di kepala."
"Saya akan kenalkan Anda ke keluarga saya. Tapi bukan untuk misi. Karena saya... saya juga ingin Anda kenal mereka. Apalagi setelah cerita yang Anda kasih. Ayah saya psikolog—mungkin dia bisa bantu kita."
Reza tersenyum.
"Mira. Iya. OK."
Dua minggu kemudian, di hari Sabtu, mereka pergi ke rumah keluarga Mira di Cibubur. Reza beli oleh-oleh kue lapis Surabaya dari toko di jalan keluar tol—dia baca di blog kalau orang tua Mira sukanya makanan tradisional. Mira menahan tertawa di mobil saat Reza grogi memilih kue di display—"Reza, kau kelihatan kayak mau wawancara kerja bukan ketemu mertua."
Rumah orang tua Mira sederhana. Satu lantai, beratap genteng, halaman depan dengan pohon mangga yang sedang berbuah. Di teras ada ayunan rotan yang Mira bilang ayahnya buat sendiri sepuluh tahun lalu.
Ayah Mira—Pak Wirya, lima puluh sembilan tahun—membuka pintu dengan senyum yang Reza rasakan tulus. Ibu Mira—Bu Sari, lima puluh enam—keluar dari dapur dengan celemek, bilang ayam taliwang udah hampir matang. Adik laki-laki Mira—Bima, delapan belas tahun, tinggi kurus dengan kacamata bulat—muncul di belakang, melihat Reza dengan ekspresi yang Reza tidak bisa baca.
"Mas Reza. Selamat datang."
"Pak. Bu. Terima kasih sudah menerima saya."
Mereka makan bersama di meja makan kayu jati yang Reza yakin lebih tua dari dia. Ayam taliwang yang Bu Sari masak ternyata dengan resep Lombok asli—Pak Wirya bilang dia kerja di Lombok dulu sebagai psikolog konsultan, dan resep ini dapat dari teman dukun di sana. Reza memilih untuk tidak menanyakan terlalu jauh tentang teman dukun.
Pak Wirya menanyakan banyak tentang pekerjaan Reza. Reza sudah dapat kerja baru tiga minggu lalu—freelance contract dengan sebuah perusahaan EdTech yang Mira temukan dari iklan LinkedIn untuknya. Bukan banyak gaji, tapi cukup untuk hidup, dan ada peluang untuk full-time setelah dua bulan. Pak Wirya mengangguk-angguk, tanya tentang ibu Reza di Solo, tanya tentang rencana karir lima tahun.
Bima—yang dari awal makan tidak bicara—saat Bu Sari menyajikan dessert pisang goreng, tiba-tiba menatap Reza.
"Mas Reza."
Suara Bima pelan. Nada datar. Tidak emosional.
"Iya, Mas Bima."
"Anda ada... ada yang tidak terlihat di kepala Anda."
Reza menjatuhkan sendok pisang goreng. Bunyinya bertabrakan dengan piring.
Mira menatap adiknya. Lalu Reza. Lalu kembali ke Bima.
"Bima. Apa yang Anda lihat?"
Bima diam sebentar. Memikirkan kata-kata. Reza tahu sekarang, dari cerita Mira, kalau Bima butuh waktu lebih untuk merangkai kalimat.
"Sesuatu seperti... awan kecil. Di bagian kanan kepala Mas Reza. Bukan jelek, bukan baik. Cuma... asing. Tidak dari sini."
"Tidak dari sini?"
"Bukan dari Indonesia. Bukan dari bumi. Saya tidak yakin."
Pak Wirya menatap Reza dengan tatapan yang berubah—dari ramah menjadi tegas. Bukan marah. Tapi serius.
"Mas Reza. Bima tidak biasanya bicara tentang hal seperti itu di depan orang baru. Dia... dia memilih untuk diam biasanya."
Reza menelan ludah. Mira mencengkeram lututnya di bawah meja.
"Pak. Saya... saya tidak tahu harus bilang apa. Atau kalau saya boleh bilang."
"Mas Reza. Bima jujur. Apa yang dia lihat—dia lihat. Saya sebagai psikolog, saya tidak menyarankan Mas mengabaikan apa yang Bima lihat. Saya juga tidak menyarankan Mas takut. Saya menyarankan Mas... bicara, kalau Mas mau."
Setelah makan malam, Pak Wirya mengajak Reza ke teras. Mira ikut, tanpa diminta. Bu Sari membawa Bima ke kamarnya untuk malam—Bima tidur lebih awal dari keluarga lain.
Pak Wirya menatap Reza di ayunan rotan.
"Mas Reza. Saya psikolog tiga puluh tahun. Saya melihat banyak kasus aneh—pasien yang dengar suara, pasien yang punya pengalaman keluar tubuh, pasien yang yakin diawasi entitas. Saya tidak akan memaksa Anda jelaskan apa yang Bima lihat. Saya cuma minta—kalau Anda butuh seseorang untuk bicara, saya di sini. Profesional atau tidak, itu pilihan Anda."
Reza menundukkan kepala. Mira di sebelahnya menggandeng tangan dia.
"Pak. Terima kasih."
"Mas Reza. Saya akan sangat blak-blakan sekarang. Anda... pelan-pelan dengan Mira. Mira putri saya. Saya akan menjaga dia. Kalau Anda menyakiti dia—sengaja atau tidak—saya akan tahu. Tapi kalau Anda... membutuhkan bantuan untuk apa pun yang Bima lihat, saya juga di sini."
"Pak. Saya... saya cinta Mira."
Reza mengejutkan dirinya sendiri. Dia belum pernah bilang itu ke siapa pun, termasuk Mira. Tapi keluar begitu saja. Tepat di depan ayah Mira.
"Saya tahu, Mas Reza." Pak Wirya tersenyum kecil. "Mira juga tahu. Saya sudah lihat dari cara dia ngobrol di telepon dengan Anda dua minggu terakhir."
Mira tersipu di sebelah Reza.
[MISI 5 SELESAI.]
[REWARD: 3 COIN.]
[INVENTORY: 10 COIN.]
[NEXT MISI: MENIKAHI MIRA. WAKTU: 1 TAHUN.]
Reza menatap pikirannya. Hatinya membeku.
"Sistem—"
[REZA. MISI INI WAJIB. KALAU TIDAK SELESAI, KONSEKUENSI BESAR. JANGAN BERMAIN.]
Reza menatap langit dari teras. Bintang sedikit di Jakarta tapi ada—keluarga Mira tinggal di pinggiran, polusi cahaya tidak seburuk pusat kota.
Dia tidak bicara dengan Mira tentang misi baru malam itu. Mereka tidur di rumah orang tua Mira—Reza di kamar tamu, Mira di kamar lamanya. Dia akan bicara besok pagi, di mobil saat pulang ke Jakarta, jauh dari telinga keluarga Mira.
Sebelum tidur, Reza pikir keras: "Dharma."
Tidak ada balasan dari Sistem. Sistem tidak tahu siapa Dharma sekarang—Reza belum pernah simpan namanya di kontak HP, semua komunikasi lewat Facebook yang Reza akses cuma di kafe internet di mall.
"Dharma. Saya akan menelepon Anda besok dari telepon umum. Saya butuh bantuan. Sistem mengeskalasi."
Tapi Reza tidak menelepon Dharma besok.
Karena besok pagi, sebelum sarapan, Sistem mengirim pesan tambahan yang membuat Reza muntah di kamar mandi rumah Mira.