Tiga hari kemudian, Reza dan Mira ketemu lagi.
Reza memilih kafe yang berbeda kali ini—di lantai dasar mall di Tebet, kursi sudut di sebelah jendela yang menghadap food court. Tempat ramai dengan musik lounge yang volumenya cukup keras untuk menutupi percakapan dari meja sebelah, tapi cukup pelan untuk dia dan Mira ngobrol tanpa berteriak.
Reza meletakkan HP di tas. Menutup ritsleting tas. Lalu meletakkan tas di lantai di bawah kursi. Tidak akses, tidak kamera, tidak mikrofon yang mendengar dengan jelas. Dia juga matikan Apple Watch—dia baru sadar Mira pakai—dengan alasan yang dia harap masuk akal: "Mira, baterai jam saya hampir habis."
"Mira."
"Reza."
"Saya... saya ingin cerita sesuatu. Mungkin Anda akan kira saya gila. Tapi saya butuh Anda dengar tanpa interupsi. Sampai akhir."
Mira mengangguk pelan. Mata serius. Memori Reza menangkap detail kecil—tahi lalat di pelipis kanan, lagi.
Reza cerita. Semua. Dari dipecat di hari Selasa. Dari kontrakan kecil yang hujan bocor. Dari doa kosong di kasur. Dari Sistem yang muncul tanpa diundang. Dari misi pertama yang membawa dia ke chat Tinder yang sudah empat minggu tergeletak. Dari hubungan dengan Mira yang—dia akui sambil menatap meja, tidak berani lihat mata Mira—dimulai sebagai misi.
Dari boost emosi yang membuat dia tidak yakin mana yang asli dan mana yang dipompa.
Dari kunjungan kemarin ke Dharma di Bandung. Dari penemuan bahwa Sistem ini... mungkin akan menyakiti Mira.
Reza cerita selama dua puluh menit. Tanpa pause. Mira tidak interupsi. Kopi mereka—kali ini pesan duluan—dingin di meja, tidak tersentuh.
Saat Reza selesai, Mira diam lama. Lima menit. Reza menghitung di kepalanya seperti orang yang lagi nunggu hasil wawancara kerja.
Reza menutup matanya. Siap untuk Mira berdiri dan pergi. Siap untuk kembali ke kontrakan, memutus kontak, menjadi orang yang Sistem lupakan karena sudah tidak ada misi yang relevan. Siap untuk hidup yang lebih kecil tapi lebih jujur.
Tapi Mira tidak pergi.
Mira menatap Reza dengan mata yang serius. Tangan dia di atas meja, terkepal sebentar, lalu rileks.
"Reza."
"Iya."
"Saya... saya tidak akan bilang saya percaya kau seratus persen."
"Saya tahu—"
"Tapi saya juga tidak akan bilang kau gila."
Reza membuka mata. Menatap Mira.
"Mira?"
"Reza. Adik saya—Bima, yang autis—kadang melihat hal-hal yang orang lain tidak lihat. Sejak kecil. Dia pernah cerita tentang... 'energi' yang masuk ke kepala orang. Awan, dia sebut. Kami pikir dulu itu cuma imajinasi anak-anak. Kami berharap dia akan tumbuh dari fase itu. Tapi dia tidak tumbuh, dan ternyata... dia tidak salah."
"Mira—"
"Reza. Apa yang kau cerita... mungkin lebih nyata dari yang dunia mau akui. Saya tumbuh dengan adik yang melihat dunia berbeda. Saya... saya belajar untuk tidak buru-buru bilang sesuatu tidak ada cuma karena saya tidak melihatnya."
Reza tidak bisa menahan. Air matanya turun. Cepat. Dia mengusap dengan punggung tangan, malu, tapi tidak bisa berhenti.
"Mira. Saya... saya tidak mau kau terlibat. Sistem mungkin akan menyakiti Anda."
Mira mengulurkan tangan. Memegang tangan Reza di atas meja. Tangannya hangat. Lembut. Sangat berbeda dari "boost" yang Sistem pompa—ini terasa nyata, terasa seperti pijatan ringan dari orang yang Reza yakin sungguhan ada.
"Reza. Kau terlibat saya saat kau cerita ini. Saya sudah terlibat juga sekarang. Tidak bisa dibatalkan."
"Mira—"
"Reza. Dengar. Saya suka kau—yang asli. Yang takut, yang tidak punya uang, yang bingung, yang dipecat di hari Selasa. Itu kau. Boost atau bukan, saya suka KAU. Bukan versi kau yang dipompa Sistem."
Reza menatap Mira. Mata Mira juga sembab.
"Mira. Saya juga suka kau. Asli. Saya pikir saya tidak yakin saat boost aktif, tapi—saat Mira pegang tangan saya sekarang, saya tahu. Yang saya rasakan ini, ini saya. Bukan Sistem."
"OK. Sekarang kita pikirkan strategi."
Reza tertawa kecil. Air mata masih.
"Mira, kau aneh."
"Ayah saya psikolog. Ibu saya guru bahasa Sansekerta. Saya dibesarkan untuk percaya hal yang aneh, dan dilatih untuk pikir strategis tentang hal yang aneh itu."
Mereka berdiskusi di kafe selama dua jam. Coffee mereka diganti dua kali. Mira mengeluarkan buku catatan kecil dari tas-nya—Reza tertawa, "Mira pakai notebook fisik di tahun 2025?"—dan mulai mencatat poin demi poin.
Strategi yang mereka sepakati:
1. Reza tidak akan menolak misi langsung. Dia akan "menyelesaikan" misi tapi dengan motivasi yang berbeda—bukan untuk Sistem. Mengganti tujuan, seperti yang Dharma sarankan.
2. Mira akan tahu setiap misi yang Sistem berikan. Mereka akan bekerja sama untuk menjadikan setiap misi sebagai bagian hubungan asli mereka, bukan transaksi dengan Sistem.
3. Reza akan tetap kontak dengan Dharma. Lewat surat, telepon umum, atau pertemuan langsung. Tidak via WhatsApp atau email yang Sistem bisa baca.
4. Mira tidak akan pernah menyebut Sistem ke siapa pun. Tidak ke keluarga, tidak ke teman dekat di kantor. Belum.
5. Kalau Mira merasakan ada yang aneh di tubuhnya—pening tiba-tiba, mimpi yang aneh, perasaan diawasi—dia akan langsung kontak Reza.
Setelah strategi disetujui, Mira menutup notebook. Menatap Reza.
"Reza. Misi Anda saat ini... apa?"
"Cium Anda dalam 14 hari. Sekarang... 11 hari tersisa."
Mira tertawa. Tertawa lepas, yang membuat dua orang di meja sebelah menoleh.
"Reza."
"Iya."
"Saya kira misi ini... mudah dipenuhi."
Sebelum Reza bisa menjawab, sebelum dia bisa memprotes bahwa ini tidak boleh karena alasan misi, Mira mencondongkan tubuhnya ke depan. Mencium dia. Di bibir. Pelan. Dua detik. Cukup lama untuk dia rasakan, cukup pendek untuk masih sopan di kafe umum.
[MISI 4 SELESAI. CIUMAN PERTAMA: BERHASIL.]
[REWARD: 3 COIN.]
[INVENTORY: 7 COIN.]
Tapi Reza tidak peduli reward. Tidak peduli coin. Yang dia peduli adalah Mira di hadapannya, dengan mata yang sayang, dengan lipstik yang sedikit bekas di pinggir bibirnya, yang baru saja menerima dia—termasuk Sistem yang gila di kepalanya.
"Mira."
"Iya, Reza."
"Itu... itu yang asli, kan? Bukan boost?"
Mira tertawa lagi. "Reza, saya yang cium kamu, bukan Sistem yang cium kamu. Tentu asli."
Reza mengangguk. Tertawa juga. Untuk pertama kali dalam seminggu, hidupnya terasa milik dia sendiri.
Sebagian.