Dharma berdiri. Membuka peti kayu di sudut pondok—menarik kunci kecil dari kalung yang dia pakai di balik kaos. Mengeluarkan buku tulis usang. Sampul cokelat, tepi sudah lecet, halaman-halamannya menguning.
"Reza. Saya catat semua tentang Sistem yang saya alami. Selama tujuh tahun, saya cari pola. Saya tulis setiap eksperimen yang saya lakukan terhadap dia. Saya temukan beberapa hal."
Dharma menyerahkan buku ke Reza. Reza buka. Tulisan tangan rapi—Dharma yang dulu jenius IT memang detail. Halaman pertama: tabel berisi tanggal, jenis misi, reward, penalti. Halaman kedua: diagram alur. Halaman ketiga: sketsa "toko" Sistem versi Dharma, dengan item-item yang sebagian Reza kenali dari Sistem-nya sendiri.
"Pertama," Dharma menunjuk halaman tertentu, "Sistem tidak bisa lihat kau kalau kau tidak punya alat elektronik di sekitar. HP, laptop, smartwatch, kamera CCTV publik. Itu cara dia akses dunia kau. Putus akses—dia buta. Yang kau lakukan tadi pagi dengan loker stasiun, itu efektif. Pondok ini juga sengaja saya bangun jauh dari rumah utama, tidak ada listrik, tidak ada wifi yang menjangkau."
"OK."
"Kedua, Sistem tidak bisa membaca pikiran natural. Dia mendengar kalau kau bicara langsung pada-nya, atau pikir nama-nya dalam bentuk perintah. Tapi pikiran natural kau—lamunan, mimpi, ingatan—dia tidak akses. Ini batas yang paling jelas dari yang saya temukan."
"Saya curiga itu juga."
"Ketiga," Dharma menatap Reza dengan serius. "Sistem tidak bisa dihapus dengan kekerasan atau penolakan langsung. Kalau kau menolak misi, kau dihukum. Tapi kalau kau... mengganti tujuan misinya, dia bingung."
"Mengganti tujuan?"
"Iya. Misalnya, misi kau adalah cium Mira dalam 14 hari. Kalau kau menolak total, hukuman. Tapi kalau kau mencium Mira tapi dengan motif yang berbeda—bukan untuk menyelesaikan misi, tapi karena kau memang mau, atau untuk melindungi Mira dari Sistem itu sendiri—Sistem... kebingungan. Dia tidak bisa mengklasifikasikan apakah itu sukses atau gagal."
"Bagaimana itu menghapus dia?"
"Tidak menghapus. Tapi membuat dia... tidur. Diam. Lemah."
Reza mencerna ini. Mengingat-ingat ciuman dahi yang dia berikan ke Mira tadi malam. Bukan misi, bukan paksaan, cuma khawatir. Sistem tidak komentar tentang itu—tidak naik poin, tidak turun. Reza tidak sadar saat itu, tapi sekarang dia mengerti: Sistem bingung mengkategorikan.
"Mas Dharma. Tujuan saya yang asli—saya... saya sebenarnya suka Mira. Sungguh suka. Bukan karena Sistem."
"Reza."
"Iya."
"Itu... itu bagus dan jelek."
"Bagus dan jelek?"
"Bagus, kau bisa membedakan. Banyak orang tidak bisa. Mereka jatuh cinta lewat boost dan pikir itu asli, lalu Sistem bisa mempergunakan cinta mereka sebagai pengikat tanpa mereka sadari."
"Jelek?"
Dharma berhenti sebentar. Menatap kebun di luar pondok. Suara ayam berkokok di kejauhan.
"Sistem kau sekarang masuk fase yang lebih dalam. Fase yang sistem saya tidak pernah masuk, karena saya tidak punya pacar di hidup saya saat itu. Sistem kau akan semakin sulit dihilangkan. Karena kalau kau mencintai Mira sungguhan, Sistem akan mempergunakan Mira sebagai pengikat baru."
Reza menutup matanya.
"Apa maksudnya?"
"Reza. Sistem akan mulai mengancam Mira. Kalau kau menolak misi, Mira yang terkena. Kecelakaan. Sakit. Putus dengan kau secara dramatis. Sistem akan membuat kau pikir kau tidak bisa hidup tanpa-nya, untuk menjaga Mira."
Reza menelan ludah. Teh-nya sudah dingin, dia minum saja sisa.
"Mas Dharma. Bagaimana kalau saya... kalau saya beritahu Mira tentang Sistem? Lebih cepat lebih baik?"
Dharma berpikir lama. Memandang langit-langit pondok yang kayunya berlubang sedikit, memperlihatkan sinar matahari yang sudah condong ke barat.
"Reza. Saya tidak tahu. Tidak banyak orang yang Sistem-nya aktif. Yang saya tahu lewat forum, ada belasan, tapi semua anonim. Kebanyakan dari mereka tidak pernah cerita ke siapa pun."
"Mas pernah?"
Dharma tertawa pelan. Pahit.
"Saya satu-satunya yang saya tahu pernah mau cerita ke pacar saya dulu. Tujuh tahun lalu, saat Sistem saya masih awal. Pacar saya pikir saya gila. Putus dengan saya seminggu kemudian. Lalu saya dipecat dari Google karena performa drop. Lalu sistem saya gilas saya makin keras, sampai saya pulang ke sini."
"Ironis."
"Iya."
Reza memikirkan. Menatap buku Dharma di tangannya. Menatap Dharma. Menatap kebun di luar.
"Mas Dharma. Saya akan coba sesuatu. Saya akan ceritakan semua ke Mira. Kalau dia tidak percaya, dia akan putus dengan saya, dan saya kembali ke saat sebelum Sistem aktif—jomblo, dipecat, hidup biasa. Itu sebenarnya tidak buruk dibandingkan ini. Kalau dia percaya... kita lawan bersama."
Dharma mengangguk. Pelan. Dengan ekspresi yang Reza tidak bisa baca antara kagum dan khawatir.
"Reza. Berhati-hati. Ini tidak mudah."
"Mas. Apakah Anda... apakah Anda akan bantu? Saya butuh seseorang yang lebih senior dari saya di luar Mira."
Dharma diam. Lama. Lebih dari satu menit. Reza tidak mendesak.
Akhirnya:
"Reza. Saya sudah lari tujuh tahun. Saya tidak yakin saya masih punya keberanian. Tapi saya akan kasih kau apa yang saya tahu. Saya akan kasih kau buku ini—kau bawa pulang, fotokopi, kembalikan ke saya saat selesai. Dan kalau kau perlu bantuan teknis—saya bisa coding lagi sebentar. Bukan untuk Sistem, untuk hal lain. Misalnya, cara mendeteksi kalau Sistem kau mengintervensi HP kau."
"Mas. Terima kasih."
Reza menutup buku Dharma. Memasukkan ke tas-nya. Pamit setelah secangkir teh terakhir, kali ini lebih cepat karena dia harus naik kereta sore agar HP-nya tidak terkunci di loker terlalu lama.
Dharma mengantar dia sampai pintu pagar. Sebelum Reza naik Grab ke stasiun, Dharma berkata:
"Reza."
"Iya."
"Satu hal lagi. Mungkin yang paling penting."
"Apa, Mas?"
"Sistem-sistem ini... saya pikir mereka punya tujuan yang lebih besar dari yang kelihatan. Misi-misi kecil itu cuma cover. Yang sebenarnya mereka mau—saya tidak tahu. Tapi saya pikir, untuk kau, mereka punya tujuan spesifik yang melibatkan Mira."
Reza menatap Dharma.
"Mas. Apa maksudnya?"
"Saya belum yakin. Tapi nanti saya cek riset saya, saya kabari kau. Untuk sekarang—lindungi Mira. Apa pun yang terjadi."
Reza mengangguk. Naik Grab. Pulang ke Jakarta dengan kereta sore. Mengambil HP dari loker stasiun pukul sembilan malam.
Menyalakan HP.
[REZA. KAU PERGI KE MANA TUJUH JAM?]
Reza tidak menjawab. Pikir keras dengan kalimat perintah: "Sistem, saya pulang ke ibu saya di Solo. Kereta cepat. Cuma kunjungan singkat."
[OK. MISI 4 MASIH AKTIF. 12 HARI LAGI.]
Reza menyimpan HP. Pergi ke kontrakan.
Lalu di kamar, dia memikirkan Mira. Tentang bagaimana menceritakan ini ke dia tanpa kelihatan gila. Tanpa Mira lari. Tanpa Sistem mendengar.