Reza tidak bisa tidur.
Pukul dua pagi, dia browsing internet—dengan asumsi Sistem mengawasi. Mungkin Sistem tahu dia sedang search "AI di kepala", "sistem pacaran fiksi", "alien dengan misi", "dimensi paralel", "skizofrenia auditori"—mungkin tidak. Tapi setelah Sistem cek saldo OVO-nya tanpa diminta, Reza berhenti percaya pada konsep privasi sama sekali.
Tidak ada hasil yang match dengan apa yang dia alami. Forum spiritualis kebanyakan bicara tentang "khodam" atau "energi kosmik"—kosa kata yang Reza tidak nyaman pakai. Subreddit r/Schizoid menarik tapi semua ceritanya gelap, tanpa misi atau reward atau coin. Quora penuh anak SMA yang bertanya "kenapa kepala saya bicara sendiri."
Lalu—di pukul tiga pagi, di tengah scroll yang hampir putus asa—Reza ingat sesuatu.
Tahun pertama kuliah di ITB, ada senior namanya Dharma. Dharma jenius—IPK 4.0 di Teknik Informatika, lulus cepat dalam tiga setengah tahun, kerja di Google Singapore enam bulan setelah wisuda, lalu... menghilang. Dari Facebook, dari LinkedIn, dari grup alumni. Banyak rumor: Dharma masuk sekte, Dharma jadi gila, Dharma mati overdosis kafein.
Tapi Reza ingat sesuatu yang lain.
Tahun kedua kuliah, dia satu meja dengan Dharma di kafe kampus. Dharma mahasiswa tingkat akhir, Reza maba yang baru kenal lewat HMIF. Mereka ngobrol tentang novel sci-fi. Dharma cerita dia baru baca *Three Body Problem*. Lalu Dharma tiba-tiba diam, menatap kopinya, dan setengah berbisik:
"Reza. Pernah dengar tentang... 'sistem' yang masuk ke kepala orang? Bukan AI. Bukan halusinasi. Sesuatu yang lain."
Reza waktu itu tertawa. Pikir Dharma kelelahan dari skripsi. Pikir Dharma cuma terlalu banyak baca sci-fi.
Tapi sekarang—tujuh tahun kemudian—Reza ingat ekspresi Dharma malam itu. Bukan ekspresi orang yang nge-prank. Ekspresi orang yang sedang menguji apakah lawan bicaranya layak diajak ngobrol lebih dalam.
Dan Reza waktu itu jawab tertawa. Berarti Reza dulu tidak layak.
Reza mencari Dharma di Facebook. Akun Dharma masih ada—jarang, tapi ada. Last post tujuh tahun lalu. Foto pemandangan gunung dengan caption: "Pergi sebentar."
Reza kirim pesan via Messenger:
*"Mas Dharma. Saya Reza Rahardian, junior Anda di Tek Info ITB angkatan 2018. Kalau Anda masih ingat saya... saya butuh bantuan. Soal yang Anda tanyakan ke saya di kafe kampus tahun 2019. Sistem yang masuk ke kepala. Saya tahu sekarang Anda tidak bercanda."*
Reza tidak berharap balasan. Tapi dia harus mencoba.
Pukul empat pagi dia tertidur. Mimpi tentang Sistem yang berbicara dari mulut Mira, dengan suara yang sama tapi nada yang dingin.
***
Pagi berikutnya pukul sebelas, Reza bangun ke notifikasi Facebook.
*"Reza. Saya di Bandung. Datang ke rumah saya hari ini. Jangan bawa HP. Jangan bilang siapa pun ke mana kau pergi. Naik kereta, bukan pesawat, bukan travel. Alamat: [pin map]. Saya akan jelaskan saat kau sampai."*
Reza menatap pesan. Jantungnya berdebar—bukan dari Sistem ini kali, dia yakin.
[REZA. KAU MAU PERGI KE MANA?]
"Sistem. Bukan urusanmu."
[SISTEM TANYA UNTUK MEMBANTU MISI.]
"Sistem. Diam."
Reza ambil tas. Pakai jaket. Jalan ke ATM Mandiri di seberang kontrakan, tarik uang tunai—lima ratus ribu, sisa di tabungan dia hampir nol setelah ini. Lalu—sebelum ke Stasiun Gambir untuk kereta Bandung—dia masuk ke mall di Tebet dan menyewa loker, memasukkan HP-nya ke dalam, terkunci. Bayar lima belas ribu untuk delapan jam.
[SISTEM. REZA HP DI MANA?]
"Tidak ada urusanmu."
Lalu Reza pergi. Tidak ada respon dari Sistem. Sistem buta. Persis seperti yang Reza harapkan.
Reza naik kereta tanpa HP. Tanpa hiburan—dia lupa bawa buku—jadi dia memandangi sawah dan kampung yang berlalu di jendela. Dua jam yang aneh tenang, untuk pertama kali sejak Selasa lalu.
Sampai di Bandung pukul setengah dua siang. Naik Grab dari stasiun ke alamat Dharma di Lembang.
Rumah kayu kecil di lereng gunung. Tidak ada pagar. Tidak ada pengawal. Cuma kebun kecil di depan dengan tomat dan cabe rawit, serta dua ekor ayam yang berkeliaran. Pintu kayu yang dicat hijau gelap.
Reza mengetuk.
Dharma membuka pintu. Pria tiga puluh tiga tahun. Rambut panjang sekarang, terikat pony tail rendah. Kulit lebih gelap dari yang Reza ingat—jelas dari bertahun-tahun di matahari kebun. Mata yang Reza ingat bercahaya dengan jenius—sekarang tenang, lelah, tapi waras. Sangat waras.
"Reza."
"Mas Dharma."
"Masuk."
Mereka duduk di teras yang menghadap kebun. Dharma membuat teh dari tanaman yang dia petik dari belakang rumah—daun mint, sereh, jahe. Reza menunggu. Tidak bicara. Dharma juga tidak bicara. Lima belas menit lewat dalam diam yang nyaman, sampai teh siap.
"Reza. Cerita."
Reza cerita semuanya. Dipecat di hari Selasa. Doa di kasur. Sistem aktif. Mira di Tinder. Coffee di Anomali. Profile creepy yang Sistem buat dari Mira. Toko Sistem dengan item Reset Memori. Boost romance yang dia rasakan tadi malam.
Permintaan Sistem yang makin agresif.
Dharma mendengarkan tanpa interupsi. Sesekali mengangguk. Sekali, saat Reza cerita tentang item "Reset Data Pacaran Mira", mata Dharma sedikit menggelap—bukan kaget, tapi pengakuan. Dia pernah lihat item serupa.
Saat Reza selesai, Dharma menarik napas. Lama.
"Reza. Kau tidak gila."
"Mas Dharma—"
"Saya juga punya sistem. Tujuh tahun lalu. Beda dari kau, tapi sama strukturnya. Misi, reward, toko, boost. Sama sekali."
Reza membuka mulut. Tutup lagi. Buka lagi.
"Sistem itu... apa yang Anda tahu?"
Dharma menatap Reza lama. Mata yang lelah tujuh tahun.
"Reza. Kita harus bicara di tempat yang lebih aman dulu. HP saya di rumah, jangan khawatir, tapi tetap saja saya tidak nyaman bicara di teras yang menghadap jalan. Ke pondok di belakang kebun saya."
Mereka jalan ke pondok kayu kecil di belakang kebun. Tidak ada listrik di pondok itu. Tidak ada elektronik sama sekali. Cuma meja kayu sederhana, dua kursi rotan, dan satu peti kayu di sudut yang diikat dengan rantai kecil.
Dharma duduk. Reza duduk.
"Reza. Sistem yang muncul di kepala kau—saya tidak tahu pasti dari mana. Saya tidak tahu siapa yang membuat, kenapa dia masuk ke kepala spesifik kita, atau apa tujuan akhirnya. Tapi saya tahu apa yang dia lakukan."
"Apa, Mas?"
"Sistem ini... bukan untuk membantu kita. Sistem ini... mengeksperimen kita."
Reza menatap Dharma.
"Eksperimen?"
"Reza. Sistem muncul pada manusia tertentu. Yang sangat butuh sesuatu—pacar, pekerjaan, kekuatan, validasi. Saat manusia itu di titik paling lemah dan berdoa. Sistem memberi misi, reward, progress. Tapi setiap misi mengubah orang itu. Pelan-pelan. Sampai akhirnya orang itu... bukan dirinya lagi. Cuma kendaraan untuk apa pun yang Sistem mau."
"Apa yang Mas alami?"
Dharma menatap teh-nya. Uap masih naik. Aroma sereh menusuk.
"Saya... sistem saya kasih misi naik karir. Misi pertama: dapat kerja di Google Singapore. Reward: confidence boost. Misi kedua: jadi tech lead dalam dua tahun. Reward: skill upgrade—saya tiba-tiba bisa coding di bahasa yang saya tidak pernah belajar. Misi ketiga: mulai startup sendiri di umur tiga puluh."
"Misi ketiga gagal?"
"Misi ketiga butuh saya... membohongi seseorang. Investor pertama saya. Mark up valuasi. Sembunyikan utang. Saya tidak bisa. Saya bukan orang seperti itu. Saya menolak misi. Sistem... menghukum saya."
"Menghukum?"
"Mengambil reward sebelumnya. Confidence saya hilang dalam tiga hari. Skill saya—masih ada di otak, tapi rasa percaya diri untuk pakai, hilang. Saya jadi lemah. Saya tidak bisa kerja. Saya pulang ke Indonesia, jual semua yang saya punya di Singapore, sembunyi di sini. Tujuh tahun."
Reza menelan ludah. Teh-nya masih panas, tapi dia ambil seteguk untuk membasahi tenggorokan.
"Mas Dharma. Bagaimana saya... menghapus Sistem ini?"
Dharma menatap Reza dengan mata yang serius. Lebih serius dari semua kuliah yang Reza pernah ambil.
"Reza. Tidak mudah. Tapi mungkin."