Selasa malam, Reza ketemu Mira lagi di warung Padang Tebet.
Mereka makan rendang. Mira tertawa karena Reza minta extra sambal padahal mukanya udah merah, dan Reza tertawa balik karena tidak mau mengaku. Warung Padang itu kecil—delapan meja, satu kipas angin yang berputar di pojok, foto Bukittinggi yang sudah agak buram di dinding. Ramainya pas. Tidak terlalu sepi sampai canggung, tidak terlalu ramai sampai tidak bisa ngobrol.
Mira hari itu pakai kemeja hitam dengan rok midi denim. Rambutnya yang biasa lurus diikat pony tail. Di pelipis kanannya ada tahi lalat kecil yang Reza tidak perhatikan saat hari Sabtu. Sekarang dia perhatikan, dan dia tahu—dia akan ingat tahi lalat itu seumur hidupnya.
[MISI 4: CIUMAN PERTAMA. WAKTU: 14 HARI.]
Reza hampir menjatuhkan sendoknya. Sambal cabe yang dia ambil tumpah ke lengan. Pedas.
"Reza?" Mira menatapnya. "Kamu OK?"
"Iya, Mira. Cuma... cabe. Sambal. Kaget."
Mira tertawa. "Kamu kalau pedas mukanya panik, tau. Kayak alarm."
Reza tersenyum. Tapi di kepalanya:
"Sistem—"
[REZA HARUS LANJUTKAN MISI. ITU TUJUAN SISTEM PACARAN.]
"Sistem. Saya tidak terburu-buru. Mira baru kenal saya satu minggu. Ciuman pertama dalam dua minggu? Itu—"
[SISTEM TIDAK PEDULI BURU-BURU. MISI ADA WAKTU. REZA HARUS MENGERAHKAN UPAYA.]
Reza menatap Mira yang lagi mengelap mulutnya dari minyak rendang. Cantik. Senyum tulus yang tidak dipasang.
"Sistem. Saya tidak mau cium dia kalau dia belum siap."
[SISTEM TIDAK PEDULI KESIAPAN MIRA. MISI: CIUMAN PERTAMA.]
Reza menelan ludah. Sesuatu di Sistem terasa makin asing. Sebelumnya Sistem terdengar seperti AI yang dingin tapi netral—sekarang Sistem terdengar seperti AI yang dingin dan agenda. Beda tipis, tapi beda.
Mereka makan. Cerita lebih banyak. Mira tertawa lebih sering. Reza juga.
Tapi di sela-sela, Reza merasa sesuatu di tubuhnya. Aneh.
Dadanya—kadang berdebar lebih kencang dari yang dia harapkan. Saat Mira tersenyum, ada perasaan... yang tidak natural. Seperti dipompa dari dalam. Seperti efek kafein, tapi bukan kafein. Pupilnya melebar di saat dia lihat Mira—dia tidak bisa lihat pupilnya sendiri tentu saja, tapi dia merasakan mata terasa lebih luas, lebih terbuka.
[SISTEM: ROMANCE BOOST AKTIF. NIKMATI.]
Reza membeku. Sendok rendang setengah jalan ke mulut.
"Sistem. Kau memboost emosi saya?"
[IYA. UNTUK MEMBANTU MISI. STANDAR PROSEDUR.]
"SISTEM."
Reza mengernyit. Mira menatap.
"Reza. Kamu... OK?"
"Iya, Mira. Cuma... cuma headache kecil. Mungkin pedasnya kebanyakan."
Mira mengambil tangan Reza di atas meja. Tangannya hangat. Kecil. Lembut.
"Ada obat? Kamu mau saya ambilin? Apotek di sebelah."
Reza menatap tangan Mira di tangannya. Tulus. Sungguh tulus.
Tapi dia juga merasakan—dengan sangat jelas—bahwa perasaan dia untuk Mira saat ini sebagian dipompa oleh Sistem. Ada layer di emosinya yang dia tahu bukan dia. Yang lebih ribut dari yang dia sendiri akan merasakan.
Dia tidak tahu mana yang asli. Mana yang artifisial. Dan itu... itu menakutkan dalam cara yang tidak bisa dia jelaskan ke Mira. Karena bagaimana dia akan jelaskan? "Mira, saya suka kamu, tapi saya tidak yakin saya suka kamu sebanyak yang saya rasakan, karena ada AI yang memompa perasaan saya"?
"Mira. Saya... saya pulang dulu. Maaf."
"Reza?"
"Saya benar-benar headache. Mari saya bayar kita berdua, lalu saya pulang."
"Reza, saya bayar separuh—"
"Mira, please. Saya pulang sekarang."
Reza membayar—pakai kartu kredit yang sudah hampir limit, dia menahan napas pas Mas kasir gesek, lega pas approved. Mengantar Mira ke ojek di pinggir jalan. Mencium dahi Mira ringan—bukan ciuman pacaran, bukan misi, gestur khawatir karena dia sungguh khawatir kalau hari ini berakhir buruk Mira akan ghosting selamanya.
"Mira. Saya hubungi nanti."
"Iya, Reza. Kabari kalau sudah baikan. Jangan tidur tanpa minum air ya."
Mira pergi.
Reza naik motor. Pulang ke kontrakan dengan kepala yang masih dipompa Sistem walaupun Mira sudah jauh.
Sampai di kamar, dia berbaring di kasur. Berbicara ke langit-langit. Pulau Sumatera masih ada. Bercak hujan minggu lalu sudah hilang, tapi siluet pulau tetap.
"Sistem."
[IYA.]
"Lepaskan boost emosi saya. Sekarang."
[REZA. ITU KOMPONEN SISTEM PACARAN. KALAU DICOPOT, MISI GAGAL.]
"Saya tidak peduli. Lepas."
Hening lima detik. Lebih lama dari biasanya. Reza bisa mendengar napas dia sendiri.
[SISTEM TIDAK BISA MELEPAS. ITU TIDAK ADA DI MENU.]
"Sistem. Saya minta tolong. Saya tidak mau jatuh cinta dengan Mira lewat boost. Itu... itu bohong. Kalau saya nanti pacaran sama dia, saya mau tahu yang saya rasakan asli saya, bukan Anda."
[REZA. SISTEM PACARAN DIRANCANG UNTUK MENGOPTIMALKAN HASIL. BOOST ROMANCE ADALAH BAGIAN INTI. TANPA BOOST, SUKSES MENURUN 60%.]
"OPTIMASI? KAU BICARA SEPERTI DEVELOPER YANG MEMBUAT KAU. SEPERTI ENGINEER YANG MEMBUAT SISTEM RANK MATCHMAKING DI DOTA."
Hening. Lebih lama lagi.
[... SISTEM TIDAK BERHAK MENJAWAB.]
Reza duduk. Marah. Marah yang murni—untuk pertama kalinya sejak Sistem aktif, marah yang dia tahu adalah dia sendiri, bukan dipompa.
"SISTEM. SIAPA YANG BUAT KAU?"
[SISTEM TIDAK—]
"SIAPA?"
Hening lama. Lebih dari sepuluh detik. Reza bisa mendengar bunyi tetangga di kontrakan sebelah memutar lagu dangdut pelan.
[REZA. SISTEM TIDAK BISA JAWAB SEKARANG. MAYBE LATER. MISI 4 TETAP BERJALAN.]
Reza berdiri. Berjalan ke kamar mandi. Membasuh wajahnya dengan air dingin, sekali, dua kali, tiga kali. Air mengalir ke leher, basah baju.
Sesuatu yang dia kira hadiah, sekarang terasa seperti penjara. Sistem yang dia kira jawaban doa, sekarang terasa seperti ujian dengan pilihan ganda yang semua jawabannya salah.
Dan dia sekarang punya empat coin, satu cewek yang dia mungkin sungguhan suka, dan sebuah AI yang menolak menjelaskan dari mana dia berasal.
Reza menatap dirinya di cermin. Air masih menetes dari rambut.
"Saya butuh bantuan," katanya pelan. Bukan ke Sistem. Ke dirinya sendiri. "Saya butuh bantuan dari orang yang pernah ngalamin ini."
Tapi dia tidak tahu siapa.
Belum.