Sabtu sore, pukul empat kurang lima belas menit, Reza sampai di Anomali Senopati.
Dia datang lebih awal—Sistem menyuruh dia tidak terlambat. Tidak sopan kasih cewek baru kenal nunggu di hari pertama, bilang Sistem dengan nada yang lebih mirip saran nenek daripada AI alien. Reza duduk di sofa di sudut, mengamati pintu masuk dari sela-sela tanaman gantung. Coffee shop ini lebih ramai dari yang dia bayangkan—mayoritas anak muda dengan laptop, beberapa pasangan, satu bapak yang kelihatan menunggu seseorang sambil scroll HP.
[REZA. JANGAN GUGUP. ANALISIS DATA: KETUKAN JANTUNG REZA 110 BPM. NORMAL UNTUK STRESS BERAT TAPI TIDAK BAHAYA.]
"Sistem, kau... cek detak jantung saya? Saya tidak pakai smartwatch."
[SISTEM AKSES KAMERA HP REZA YANG MENGUKUR DENYUT NADI VIA WAJAH. ITU FUNGSI BARU IPHONE 17 PRO.]
"Sistem. Saya pakai iPhone 13. Yang second pula."
[... SISTEM TIDAK BERHAK MENJAWAB.]
Reza tertawa pendek. Sistem ternyata punya banyak hal yang dia tidak mau jelaskan—dan caranya menghindar selalu sama: kalimat "tidak berhak menjawab" dengan tiga titik di depan, seolah dia ragu sendiri.
Pintu coffee shop terbuka. Sebuah cewek masuk.
Reza mengenali Mira dari foto Tinder. Tapi orangnya beda—tidak super cantik seperti foto yang biasanya disengaja, tapi cantik yang asli. Wajah yang Reza yakin dia akan lupa kalau lihat sekejap, tapi sulit dilupakan kalau sudah lihat satu menit. Memakai kemeja putih sederhana yang lengan dilipat sampai siku, celana jeans biru gelap, tas kanvas yang menggantung di pundak.
Dia berdiri di pintu, melihat sekeliling, lalu melihat Reza yang melambai sedikit dari sudut. Dia tersenyum.
"Reza?"
"Mira. Hai."
Mereka duduk. Sedikit canggung pada awal—dua introvert yang mencari pertahanan pertama. Mira mengusulkan pesan dulu. Mira pesan kopi susu. Reza pesan kopi tubruk—karena lebih murah, walaupun dia tidak mau bilang itu.
Pukul empat lima belas, percakapan mulai mengalir. Mereka tertawa tentang kucing. Mira cerita Kopi yang oranye sering tidur di laptopnya pas dia kerja from home, jadi dia harus angkat Kopi dengan satu tangan sambil ngetik dengan tangan lainnya. Reza cerita kucing tetangga di kontrakannya yang dia kasih nama "Tamu," karena tidak pernah meminta izin masuk tapi selalu minta makan.
Tentang novel. Mira cerita dia introvert berat—kerja di bank itu kerja keras karena dia harus berpura-pura ekstrovert sehari penuh. "Aku tidur jam sembilan malam. Bukan karena lelah fisik. Lelah sosial."
Reza mengangguk sungguh. "Saya juga. Saya pikir saya lelah karena coding seharian, ternyata saya lelah karena harus stand-up meeting tiap pagi pakai kamera."
Mira tertawa.
Reza cerita... versi lite-nya. Dia bilang dia "freelance programmer" lagi—tapi tidak bilang dipecat. Tidak bilang sistem alien di kepala. Tidak bilang dia datang dengan uang Rp 35.000 di OVO dan mungkin akan pulang dengan Rp 10.000 setelah bayar kopi.
Pukul lima sore, Mira menatap Reza. Cangkir kopinya tinggal seperempat.
"Reza. Kamu... kamu beda dari banyak cowok di Tinder."
"Beda?"
"Kamu... tulus. Kebanyakan cowok kalau ngobrol di app, mereka langsung mengarah ke pertanyaan yang... yah, kamu tahu. Kamu cuma chat tentang novel selama dua hari. Itu... segar."
[SISTEM: MIRA SEDANG MERASA NYAMAN. POIN ROMANCE NAIK. LANJUT DENGAN PERTANYAAN PERSONAL.]
Reza menelan ludah. Ada bagian dirinya yang ingin mengabaikan Sistem dan biarkan percakapan mengalir natural. Tapi ada bagian lain yang sudah belajar dalam tiga hari ini—Sistem jarang salah soal Mira.
"Mira. Kalau saya boleh tanya... kenapa kamu di dating apps?"
Mira tertawa. "Reza, kamu juga di dating apps. Kenapa kamu?"
"Saya... saya jomblo empat tahun. Saya udah cape sendirian. Sehari lima belas teman saya di Instagram menikah tahun lalu. Saya hadir ke delapan. Tujuh saya skip karena tidak bisa ambil cuti. Saya pulang dari semua nikahan itu dengan rasa kosong yang... yang aneh."
Mira mengangguk pelan. Diam sebentar.
"Saya juga. Putus delapan bulan lalu. Pacar saya yang sebelumnya orang baik, kami cuma... tidak cocok di akhir. Kerja saya bikin saya ketemu banyak orang tapi tidak banyak orang yang bisa saya tertarik. Dating apps rasanya lebih efisien."
"Efisien," Reza tertawa. "Saya kira saya yang aneh karena pikir gitu."
"Reza. Kita semua aneh. Cuma kita harus akui."
Mereka tertawa. Tertawa yang bukan basa-basi, tertawa yang mengisi sudut coffee shop sampai pasangan di meja sebelah menoleh sebentar.
Pukul tujuh malam, mereka masih di Anomali. Coffee mereka udah dingin, mereka pesan ulang—Mira pesan kopi susu lagi, Reza memberanikan diri pesan flat white. Cerita mereka makin dalam. Mira cerita tentang adiknya yang autis, namanya Bima, delapan belas tahun, yang kadang melihat hal-hal yang orang lain tidak lihat tapi kebanyakan diam dan baca buku. Reza cerita tentang ibunya di Solo yang janda sejak bapaknya meninggal saat Reza SMP, yang sekarang jualan kue di rumah dan menolak pindah ke Jakarta walaupun Reza selalu menawarkan.
Sebelum mereka pulang, Mira bilang:
"Reza. Saya mau ketemu kamu lagi."
"Saya juga."
"OK. Selasa malam? Ada warung Padang baru di Tebet."
"Iya."
Mira mencium pipi Reza saat pisah—gestur ringan, friendly. Cuma dua detik. Tapi Reza menerimanya dengan jantung yang sebentar berhenti, lalu berdetak terlalu cepat untuk lima belas menit setelahnya.
[MISI 3 SELESAI. KETEMU MIRA: BERHASIL. ROMANCE: AKTIF.]
[REWARD: 2 COIN.]
[INVENTORY: 4 COIN.]
[TOKO SISTEM TERBUKA. AKSES DENGAN PIKIRAN "TOKO".]
Di dalam Grab pulang—Reza akhirnya bayar Grab pakai sisa OVO karena dia terlalu capek naik motor lagi—Reza pikir "toko".
Layar muncul di kepalanya. Daftar item:
- Charm Pacaran (1 coin) — meningkatkan poin romance otomatis
- Rambut Tebal Sebulan (3 coin) — atasi kebotakan dini
- Pengetahuan Cewek Tipe X (5 coin) — info kepribadian cewek dari nama lengkap + tanggal lahir
- Confidence Booster (10 coin) — rasa percaya diri permanen, irreversible
- Reset Data Pacaran Mira (50 coin) — kembalikan Mira ke status sebelum kenal Reza, lengkap dengan memori reset
Reza menatap daftar dengan ngeri. Yang terakhir terutama. Reset memori. Yang berarti—
"Sistem. Itu daftar yang... aneh."
[SISTEM MENJUAL APA YANG MEMBANTU.]
"Reset data pacaran? Itu... itu kontrol pikiran Mira. Itu hapus memori dia tentang saya?"
[SISTEM MEMBERIKAN PILIHAN. REZA YANG MEMUTUSKAN. SISTEM TIDAK MEMAKSA.]
Reza menutup matanya. Grab masuk ke Mampang. Lampu merah lima belas detik.
Sesuatu... sesuatu mulai tidak benar dengan Sistem ini. Dia tahu sejak Sistem cek saldo OVO-nya, sejak Sistem profile Mira sampai detail penghasilan. Tapi item-item di toko itu—bukan bantuan. Itu senjata.
Dan Reza sekarang punya empat coin. Dan toko sudah terbuka.