Gama memandangi kalender yang ditinggalkan Giana di meja. Dua tanggal sudah ditandai, masing-masing dengan catatan bahwa kehadiran keluarga belum dikonfirmasi. Secara teknis, pekerjaan itu selesai. Namun, suasana rumah tetap terasa seperti ada tamu tak terlihat yang menunggu untuk dipersilakan masuk.
Diandra berdiri di ambang ruang kerja. Ia baru kembali dari rumah sakit tempatnya menjenguk Geraldi. Wajahnya lelah, tetapi sikapnya tetap terjaga. Gama berdiri untuk menyambutnya.
"Giana sudah pulang?" tanyanya.
"Sudah. Kami membahas jadwal pertemuan keluarga." Gama menunjukkan kalender. "Dea ingin mempertemukan orang tua kami sebelum pertunangan diumumkan."
Diandra melihat dua tanggal itu tanpa menyentuh kertas. "Aku belum menjanjikan akan datang."
"Aku tahu. Aku cuma ingin Ibu mempertimbangkannya."
"Gama, aku mempertimbangkan setiap hari. Itu tidak berarti jawabanku berubah." Suaranya tidak meninggi. "Aku tidak ingin kamu mengira aku menolak karena ingin mengatur hidupmu. Ada hal-hal yang belum bisa kuceritakan dengan mudah, tapi aku juga tidak akan berbohong hanya supaya kamu merasa nyaman."
Gama menahan napas. "Apa ada hubungannya dengan keluarga Dea?"
Diandra tidak segera menjawab. Ia mengalihkan pandangan ke jendela, kemudian kembali menatap putranya. "Ada urusan lama yang harus dibereskan orang dewasa sebelum kita berpura-pura semua baik-baik saja. Itu bukan alasan bagimu untuk menuduh Dea. Tapi aku juga belum siap duduk satu meja dengan keluarganya."
"Kalau Ibu tidak mau menjelaskan, bagaimana aku bisa mengambil keputusan?"
"Kamu berhak meminta penjelasan. Aku hanya minta kamu jangan memaksa jawaban dalam satu malam." Diandra menyentuh bahu Gama. "Aku tahu kamu sedang jatuh cinta. Aku tidak ingin kebahagiaanmu berubah menjadi alasan untuk mengabaikan hal yang belum kamu pahami."
Gama menunduk. Ia tidak suka berada di antara dua pihak yang sama-sama yakin dirinya benar. Ia juga tidak ingin menganggap diam ibunya sebagai bukti bahwa Dea bersalah.
"Aku akan minta Dea menjelaskan apa yang dia tahu," katanya. "Bukan menuduh. Aku hanya ingin keterbukaan."
Diandra mengangguk tipis. "Itu lebih baik daripada membuat keputusan dari dugaan."
Sementara itu, Giana telah tiba di rumah kecil yang ia tinggali bersama Rahma dan Gufta. Neneknya sedang menyusun obat harian di kotak pil, sementara Gufta mengerjakan soal matematika di meja makan. Giana meletakkan tasnya dan mencuci tangan.
"Kerjaannya lancar?" tanya Rahma.
"Lancar. Aku cuma membantu menyusun jadwal pertemuan keluarga." Giana menuangkan air untuk neneknya. "Nggak ada yang perlu dikhawatirkan."
Rahma menatapnya dengan mata yang mengenal setiap kebohongan kecil cucunya. "Kamu bilang begitu karena memang tidak ada yang perlu dikhawatirkan, atau karena kamu sedang mencoba meyakinkan diri sendiri?"
Giana tertawa pelan. "Dua-duanya sedikit. Tapi aku nggak akan mencari tahu urusan mereka."
"Bagus. Membantu orang bukan berarti harus mengambil alih hidupnya."
Kalimat itu membuat Giana diam sejenak. Ia memikirkan kembali pertemuan dengan Gama. Barangkali batas yang ia buat bukan sekadar tuntutan Aya, melainkan cara agar dirinya tidak mengulangi kesalahan lama.
Gufta mengangkat kertas matematikanya. "Kak, ini jawabannya tujuh belas atau sembilan belas?"
Giana mendekat dan memeriksa langkah hitungnya. Ia membantu menunjukkan bagian yang terlewat tanpa langsung memberikan jawaban. Gufta menemukan kesalahannya sendiri dan menghapus angka sembilan belas.
"Tuh, ternyata kamu bisa tanpa aku mengerjakan semuanya," kata Giana.
"Aku tahu. Tapi kalau aku salah, aku tetap boleh minta bantuan, kan?"
"Tentu. Minta bantuan beda dengan menyerahkan semua keputusan." Giana tersenyum dan kembali ke dapur.
Malam itu, pesan Gama masuk: Dea dan orang tuanya bersedia datang untuk makan malam keluarga. Ia bertanya apakah Giana dapat hadir sebagai Putri. Giana menjawab bahwa ia bisa hadir selama peran serta batas kontraknya dijelaskan kepada semua orang yang perlu tahu.
Balasan Gama datang setelah beberapa menit: "Setuju. Aku tidak akan meminta kamu berbohong di luar hal yang sudah kita sepakati."
Giana membaca kalimat itu, lalu menyimpan ponsel. Untuk pertama kalinya sejak menerima kontrak, ia merasa Gama memahami bahwa peran itu tidak membuatnya menjadi anggota keluarga sungguhan.
Setelah makan malam, Rahma meminta Giana membantunya memeriksa daftar belanja mingguan. Mereka mencatat kebutuhan dapur dan obat tanpa membuat perhitungan rumit. Giana beberapa kali melirik ponsel, tetapi tidak ada pesan baru dari Gama.
"Kalau ada masalah, kamu pasti mau langsung menyelesaikannya," kata Rahma sambil menutup buku belanja.
"Aku memang dibayar untuk menyelesaikan beberapa masalah."
"Yang dibayar itu pekerjaanmu. Bukan semua masalah yang kamu lihat." Rahma mengangkat wajah. "Kalau Gama bertanya, kamu boleh menjawab sesuai yang kamu tahu. Kalau tidak bertanya, kamu tidak perlu mencari-cari alasan untuk membuka percakapan."
Giana duduk di seberangnya. "Kalau aku diam dan ternyata ada orang yang dirugikan?"
"Kalau ada bahaya nyata, itu berbeda. Tapi rasa tidak nyaman saja belum tentu bahaya. Kamu harus punya alasan yang bisa kamu jelaskan, bukan hanya perasaan bahwa ada sesuatu."
Giana mengangguk. Ia tidak sepenuhnya tenang, tetapi nasihat itu membuat batasnya lebih mudah dipahami. Ia tidak akan sengaja menutup mata pada fakta, namun juga tidak akan menganggap kecurigaan sebagai fakta.
Gufta keluar dari kamar membawa buku pelajaran. Ia bertanya apakah Giana bisa membantunya mengecek satu soal lagi. Giana membantunya melihat langkah hitung yang salah, lalu meminta Gufta mencoba sendiri sampai menemukan hasilnya.
"Kalau aku berhasil, besok aku bisa kerjakan tanpa tanya Kakak," katanya.
"Boleh. Tapi kalau bingung, tetap tanya. Belajar mandiri bukan berarti harus sendirian terus."
Rahma mendengar percakapan itu dan tersenyum. Giana menyadari kalimat yang sama berlaku untuk dirinya: ia bisa menghormati batas tanpa berpura-pura tidak membutuhkan dukungan Aya dan Farel.
Sebelum tidur, ia mengirim pesan kepada Aya, mengatakan jadwal sudah disusun dan belum ada keputusan. Aya membalas bahwa ia akan menunggu sampai Giana ingin bercerita, bukan mendesaknya mencari tahu. Giana menyimpan ponsel. Malam itu ia tidak membuka nama Dea atau keluarga Pradipta di mesin pencari.
Sebelum tidur, Giana membuat salinan jadwal ke folder kerja bersama. Ia menulis catatan bahwa tanggal hanya pilihan dan belum dikonfirmasi semua pihak. Ia juga menghapus pengingat otomatis yang berbunyi “acara pertunangan”, menggantinya menjadi “tindak lanjut tanggal pertemuan”.
Perbedaan dua kata itu terasa penting. Ia tidak ingin sebuah jadwal yang belum disepakati berubah menjadi kenyataan hanya karena tertulis di kalender.
Ia teringat wajah Gama saat berkata ibunya belum siap bertemu keluarga Dea. Giana tahu betapa mudahnya menganggap seseorang sedang keras kepala atau menyembunyikan sesuatu. Namun ia juga tahu bahwa keluarga bisa memiliki alasan yang belum mampu mereka ceritakan. Ia tidak akan menyebut Diandra jahat, dan tidak akan menyebut Dea tak bersalah sebelum tahu faktanya.
Catatan itu ia tutup dengan satu kalimat: tugas saya mengatur proses, bukan menentukan siapa yang benar.