Malam itu, pertemuan keluarga kecil diadakan di rumah keluarga Pradipta. Belum ada pengumuman pertunangan, hanya makan malam untuk membicarakan rencana. Diandra belum berjanji hadir, jadi Gama tidak memaksa. Ia meminta Giana datang sebagai Putri dan membantu menjaga pembicaraan tetap pada jadwal.
Giana tiba lebih awal untuk memeriksa susunan tempat duduk dan memastikan siapa saja yang akan hadir. Rumah itu tampak tenang, tetapi pelayan beberapa kali keluar-masuk membawa piring tanpa banyak bicara. Gama menyambutnya di ruang tengah.
"Dea dan orang tuanya akan sampai sebentar lagi," katanya. "Ibu ada urusan di rumah sakit."
"Kita bisa mulai tanpa membahas keputusan Ibu. Aku akan memperkenalkan diri sebagai Putri sesuai kontrak, tapi tidak akan menjawab pertanyaan pribadi tentang keluarga yang tidak aku tahu."
Gama mengangguk. "Kalau ada yang bertanya, aku yang menjawab."
Dea datang bersama ayah dan ibunya. Mereka menyapa Giana dengan ramah. Sang ibu menatapnya sesaat lebih lama dari yang perlu, lalu menyebut nama Putri dengan mudah, seakan sudah mengenal peran itu jauh sebelumnya.
"Senang akhirnya bertemu kakaknya Gama," kata Dea. "Aku banyak dengar cerita tentang kamu."
Giana tersenyum sopan. "Semoga cerita yang baik-baik." Ia menoleh kepada Gama. "Kita mulai dari jadwal atau menu?"
Percakapan beralih ke rencana acara. Ayah Dea mengusulkan tempat yang cukup privat dan menawarkan beberapa vendor. Gama ingin acara sederhana, sementara Dea menginginkan pertemuan keluarga lebih dulu sebelum memutuskan hal lain.
Giana mencatat kebutuhan dan batas anggaran. Keluarga Dea tampak sangat siap. Mereka sudah membawa daftar tanggal, pilihan tempat, bahkan rancangan susunan acara. Itu bukan bukti adanya niat buruk, tetapi Giana mencatat bahwa persiapan mereka jauh lebih maju daripada yang disampaikan Gama.
Saat makan malam, ayah Dea menyebut keluarga Pradipta sudah lama bekerja sama dengan perusahaan keluarganya. Ia berkata hubungan bisnis lama seharusnya menjadi alasan baik untuk mempererat keluarga.
Gama mengerutkan kening. "Aku tidak tahu ada hubungan bisnis yang dekat."
"Dulu sekali," jawab pria itu. "Sebelum kamu aktif di perusahaan. Hal-hal lama yang sudah selesai."
Dea segera mengganti topik. Ia bertanya kepada Gama tentang tanggal pertunangan dan apakah ia lebih suka acara di siang atau malam hari.
Giana menunduk ke catatannya. Ia merasakan ketegangan di meja, tetapi tidak mengajukan pertanyaan tentang masa lalu. Ia hanya mencatat bahwa Gama belum mengetahui sebagian hubungan usaha yang diketahui ayah Dea.
"Kita tidak perlu menetapkan tanggal malam ini," kata Giana. "Diandra belum bisa hadir, dan Gama perlu membicarakan rencana ini dengannya."
Ayah Dea tersenyum tipis. "Tentu. Kami hanya ingin memastikan semuanya bergerak."
"Bergerak sesuai keputusan semua orang," jawab Giana. Nada suaranya tetap sopan.
Gama memandangnya sekilas, lalu setuju. "Aku ingin Ibu hadir sebelum tanggal ditetapkan."
Dea tampak kecewa, tetapi tidak membantah. Ia berkata mereka bisa menunggu beberapa hari. Ibunya menyetujui, meski segera menambahkan bahwa tempat acara perlu dipesan lebih awal.
Setelah makan, keluarga Dea pamit. Ibu Dea mengulurkan tangan kepada Giana. "Kamu mirip sekali dengan Aninta kalau sedang serius."
Giana tertegun. "Anda mengenal Kak Aninta?"
"Pernah melihat fotonya, mungkin. Nama itu cukup dikenal." Perempuan itu segera tersenyum. "Saya mungkin salah ingat."
Giana tidak mengejar jawabannya. Ia membiarkan kalimat itu lewat dan berpamitan.
Saat pintu tertutup, Gama bertanya apa yang dipikirkan Giana.
"Aku pikir pertemuan tadi berjalan sesuai tujuan. Kita punya pilihan tanggal, tapi belum membuat keputusan yang melibatkan semua orang." Ia menutup map. "Soal komentar ibunya Dea, aku tidak tahu maksudnya. Aku tidak akan menafsirkannya tanpa bukti."
Gama mengangguk. "Terima kasih sudah menjaga batas itu."
Di perjalanan pulang, Giana memikirkan nama Aninta yang terasa akrab dan komentar ibu Dea. Ia tidak mencari jawaban di internet atau menghubungi siapa pun. Ia berjanji kepada Aya untuk tidak ikut campur, dan malam ini ia menepati janjinya.
Sebelum keluarga Dea tiba, Gama menerima telepon dari ayahnya. Pria itu tidak bisa hadir makan malam karena urusan kantor yang berubah mendadak. Gama tampak kecewa, tetapi ia tidak meminta Giana menjelaskan ketidakhadiran itu seolah ia kakak kandung.
"Aku akan bilang Ayah ada pekerjaan," katanya. "Tidak perlu membuat alasan lain."
"Betul. Kalau mau menjadwalkan ulang, itu keputusan kalian. Aku bisa membantu mencari waktu setelah semua orang menjawab."
Gama menatap daftar tamu. "Kadang aku berharap orang-orang bisa datang, makan, lalu pulang tanpa menjadikan meja makan tempat berdebat."
"Kalau kamu ingin suasana ringan, kamu bisa mengatakannya sejak awal. Tapi jangan berharap semua pertanyaan hilang hanya karena menunya enak."
Ia tersenyum tipis. "Kamu terdengar seperti orang yang pernah mengatur banyak makan malam keluarga."
"Aku pernah mengatur acara klien yang keluarganya tidak sepakat soal warna taplak. Itu lebih sulit daripada kedengarannya."
Percakapan itu membuat Gama sedikit rileks. Namun ketika keluarga Dea datang, urusan lama segera muncul dalam obrolan. Ayah Dea mengenali nama perusahaan yang pernah bekerja sama dengan Pradipta. Ia menyebutnya sebagai kemitraan lama yang selesai dengan baik.
"Kalau selesai dengan baik, kenapa Ibu tidak mau bertemu?" tanya Gama.
"Orang tua kadang punya cara sendiri menghadapi masa lalu," jawab ayah Dea. "Kamu dan Dea tidak seharusnya menanggung semuanya."
Gama tidak puas dengan jawaban itu. "Aku setuju kami tidak seharusnya menanggungnya. Tapi aku juga tidak mau diminta menikah tanpa tahu hal yang memengaruhi keluarga kami."
Dea menatap ayahnya, menunggu penjelasan. Ibunya menyela dengan mengatakan mereka bisa membahas dokumen lama pada waktu yang tepat. Suaranya tenang, tetapi tangannya menggenggam serbet erat.
Giana memperhatikan tanda-tanda itu tanpa menafsirkannya. Ia tidak mencatat ekspresi sebagai bukti. Ia hanya menulis bahwa pembicaraan tentang kerja sama lama membuat suasana berubah dan Gama meminta penjelasan lebih lanjut.
Ketika percakapan kembali ke jadwal, Giana memastikan dua tanggal dicatat sebagai pilihan. Ia tidak membiarkan siapa pun menyebutnya keputusan, dan Gama mengulang bahwa ibunya harus diberi kesempatan menjawab.
Saat makan selesai, Dea membantu ibunya merapikan piring. Ia tampak ingin berbicara dengan Giana, tetapi Giana lebih dulu menanyakan apakah daftar vendor yang dibawanya sudah diterima. Dea mengangguk dan mengucapkan terima kasih.
Giana pulang dengan catatan yang faktual. Ia tidak memutuskan siapa yang bersalah atau siapa yang berbohong. Namun, kini ia tahu Gama sendiri merasakan ada informasi yang belum lengkap, dan ia memilih meminta jawaban langsung.