Hari kedua dimulai dengan laporan singkat dari Farel di grup kantor: ia akan mengurus beberapa urusan pribadi sebelum siang. Tidak ada keterangan lain. Giana membaca pesan itu saat sedang menyusun daftar kerja, lalu menyimpan ponsel. Farel tidak wajib melaporkan semua kegiatannya kepada mereka.
Aya mengirim pesan pribadi kepada Giana, bertanya apakah ada kabar baru dari Gama. Giana menjawab belum ada perubahan jadwal dan keluarga masih menunggu penjelasan Diandra. Ia tidak menambah spekulasi tentang ayah Dea yang menyebut kerja sama lama.
Menjelang siang, Gama menelepon untuk memastikan tidak ada pemesanan vendor yang berjalan. Giana menjawab tidak ada. Ia juga mengingatkan bahwa setiap rencana baru harus menunggu konfirmasi keluarga.
"Aku tahu. Aku belum mau menetapkan tanggal sampai Ibu menjelaskan yang ia tahu," kata Gama.
"Baik. Aku akan menyimpan berkas tetap terbuka tanpa menghubungi vendor."
"Terima kasih. Dan soal makan malam kemarin, aku harap kamu tidak merasa harus menyelesaikan semuanya."
Giana sempat terkejut. "Aku tidak merasa begitu. Tugasku hanya mengatur hal yang disepakati."
Gama mengucapkan terima kasih sekali lagi, lalu menutup telepon. Giana mencatat panggilan itu di berkas kerja, sekadar sebagai pembaruan status. Ia tidak menganggapnya kedekatan khusus.
Sementara itu, Farel membuka laptop pribadinya di sebuah kedai yang jauh dari kantor. Ia mengetik nomor arsip yang dikirim kenalannya ke katalog dokumen perusahaan lama. Hasil pencarian hanya menampilkan daftar proyek dan tahun penyimpanan, bukan isi dokumen. Satu nama perusahaan keluarga Dea muncul bersama nama perusahaan Pradipta pada proyek pengadaan kendaraan untuk operasional kebun usaha mereka.
Farel tidak mengunduh atau menyalin apa pun yang aksesnya dibatasi. Ia hanya mencatat nomor katalog yang tersedia untuk publik, lalu memeriksa apakah permintaan salinan bisa diajukan oleh pihak yang berkepentingan. Penjelasannya menyebut bahwa berkas tertentu hanya dapat diakses oleh perusahaan atau kuasa hukumnya.
Ia menutup halaman itu. Ia bukan pengacara, bukan bagian dari keluarga, dan bukan petugas arsip. Ia tidak akan membuat permohonan atas nama orang lain.
Farel membuka kontak Diandra. Nomor itu ia terima saat mengurus perpanjangan kontrak Gama, bukan dari penyadapan atau pencarian pribadi. Ia menimbang pesan yang hendak dikirim. Aya tadi sudah meminta agar ia tidak bergerak sendiri tanpa memberi tahu mereka. Ia tahu keputusan ini akan membuat Aya kecewa jika ketahuan.
Namun, ia juga percaya bahwa meminta percakapan bukanlah mengakses rahasia. Ia menulis dengan jujur: dirinya Farel, teman lama Gama, dan ingin bertanya tentang proyek lama yang muncul di katalog publik. Ia tidak menyebutkan bahwa ia mewakili kantor atau memiliki hak atas dokumen itu.
Diandra membalas setengah jam kemudian. Ia bersedia berbicara sepuluh menit pada sore hari di tempat umum. Ia menambahkan bahwa ia tidak akan membicarakan data pribadi atau dokumen rahasia.
Farel menjawab setuju. Ia tidak memberi tahu Aya atau Giana. Ia menyimpan ponsel dan merasa bersalah, tetapi tidak menarik pesannya. Ia akan bertanya secukupnya, lalu memutuskan apakah informasi itu memang ada gunanya.
Setelah menutup katalog, Farel menatap layar ponsel cukup lama. Ia tahu Aya akan merasa dikhianati kalau tahu ia menghubungi Diandra tanpa bicara dulu. Namun, ia juga tahu Diandra bukan sekadar pihak dalam urusan bisnis; ia ibu dari teman lama yang selama ini ia anggap sulit didekati. Farel ingin meminta penjelasan, bukan membuat laporan penyelidikan.
Ia menulis pesan itu berulang kali. Versi pertama terlalu banyak menyinggung dugaan. Ia menghapusnya. Versi kedua terdengar seperti meminta rahasia keluarga. Ia menghapus lagi. Akhirnya ia hanya menyebut nomor katalog publik dan meminta waktu bicara singkat, sambil menjelaskan bahwa ia tidak meminta dokumen tertutup.
Sebelum mengirim, ia memeriksa kontak. Nomor itu tercantum pada lembar perpanjangan kontrak Gama sebagai kontak keluarga untuk kebutuhan acara, bukan nomor yang ia dapatkan dengan cara khusus. Ia mengingatkan diri bahwa menggunakan nomor itu untuk urusan lain tetap berarti ia harus jujur soal tujuannya.
Balasan Diandra datang: “Saya bisa bertemu sebentar. Saya tidak akan membahas hal yang bersifat rahasia.”
Farel mengiyakan. Ia menetapkan waktu setelah jam kerja dan memilih tempat umum. Ia tidak meminta Aya mengubah jadwal atau menggunakan mobil kantor. Semakin ia merapikan hal-hal praktis itu, semakin jelas ia sadar bahwa ia tetap sedang mengambil langkah yang sengaja ia sembunyikan dari orang terdekatnya.
Ia menutup layar dan mengirim pesan kerja kepada Giana mengenai kuitansi yang perlu diarsipkan. Percakapan mereka hanya soal kontrak. Ia tidak ingin menyelipkan pertanyaan tentang Dea atau keluarga Pradipta di dalam urusan kantor.
Sebelum meninggalkan kedai, ia menulis satu kalimat di catatan pribadi: “Jangan simpulkan hubungan proyek dan kecelakaan tanpa dokumen.” Ia membaca kalimat itu sekali lagi, lalu memasukkan ponsel ke saku.
Ia juga memeriksa kembali jadwalnya sendiri. Pertemuan dengan Diandra tidak berada dalam jam kerja dan tidak menggunakan dana layanan. Ia sengaja menuliskannya di kalender pribadi, terpisah dari jadwal kontrak Gama. Jika nanti ada yang bertanya, ia tidak ingin menyamarkan langkah itu sebagai bagian dari pekerjaan.
Ia sempat membuka percakapan dengan Aya, lalu menutupnya tanpa mengetik. Ia bisa saja memberitahu Aya sekarang, tetapi ia tahu Aya akan menanyakan alasan dan Farel belum menyiapkan jawaban yang rapi. Ia sadar alasan itu terdengar kekanak-kanakan. Menghindari percakapan hanya membuat rasa bersalahnya semakin jelas.
Farel menyimpan catatan publik dalam folder pribadi dan menandai tautan sumbernya. Tidak ada salinan dokumen terbatas, tidak ada informasi klien yang ia bawa dari kantor. Ia berencana bertanya satu kali kepada Diandra, lalu berhenti jika percakapan tidak menghasilkan sumber yang dapat diverifikasi.
Sebelum meninggalkan kedai, ia mengatur pengingat pribadi untuk memeriksa apakah ada jawaban dari Diandra. Ia tidak akan mengirim pesan berulang kali. Jika perempuan itu tidak ingin berbicara, Farel akan menghormati penolakannya dan menutup urusan tersebut.
Ia tetap tahu ia mungkin harus menerima jawaban bahwa tidak ada informasi yang bisa dibagikan, dan ia berjanji tidak akan memaksa.