Diandra memilih bertemu di sebuah kedai kecil dekat rumah sakit. Ia datang tanpa pengawal atau berkas. Farel berdiri menyambutnya dan langsung menjelaskan batas percakapan itu.
"Saya melihat katalog arsip publik yang mencatat proyek lama perusahaan keluarga Ibu dan keluarga Andriano. Saya tidak meminta isi berkas pribadi. Saya hanya ingin tahu apakah nama proyek itu memang berkaitan dengan perselisihan yang Ibu maksud."
Diandra menatapnya beberapa saat. "Kamu bilang ini urusan pribadi, bukan pekerjaan Gama?"
"Betul. Saya tidak membawa berkas klien. Saya juga tidak akan mengutip Ibu kepada Gama tanpa izin."
"Bagus. Karena saya tidak bisa memberikan dokumen perusahaan atau membahas hal yang masih menjadi urusan hukum." Ia menyentuh cangkir tehnya. "Tapi saya bisa mengatakan bahwa ada sengketa lama mengenai pengadaan dan perawatan kendaraan operasional. Kedua keluarga memiliki peran yang berbeda. Itu terjadi jauh sebelum Gama mengelola perusahaan."
Farel menahan diri agar tidak bertanya apakah mobil keluarga Giana termasuk dalam sengketa itu. Ia belum tahu nama keluarga Giana pernah muncul di dokumen yang ia lihat, dan ia tidak ingin menyambungkan hal yang belum terbukti.
"Apakah sengketa itu sudah selesai?" tanyanya.
"Secara bisnis, ada penyelesaian. Secara hubungan keluarga, tidak semua orang merasa puas. Saya tidak tahu semua yang dilakukan pihak Andriano setelah itu." Diandra menggeleng. "Saya juga tidak bisa memastikan bahwa proyek itu terkait kecelakaan yang pernah terjadi. Jangan menyatukan dua peristiwa hanya karena tanggalnya berdekatan."
Peringatan itu penting. Farel bertanya apakah ada sumber resmi yang bisa ia sarankan kepada Gama.
"Gama harus berbicara dengan saya dan ayah Dea sendiri. Untuk catatan proyek, pihak yang berhak dapat meminta melalui kuasa hukum atau pengelola arsip. Jangan memakai nama saya untuk meminta akses." Diandra berdiri. "Saya tidak ingin kecurigaanmu membuat keluarga itu merasa dituduh lagi."
"Saya mengerti. Terima kasih sudah meluangkan waktu."
"Jangan bilang kepada Gama bahwa saya sudah menjelaskan semuanya. Saya tidak melakukannya. Saya hanya menjelaskan batas yang bisa saya sampaikan." Diandra melangkah pergi, lalu berhenti sejenak. "Dan jangan membuat keputusan untuknya. Dia sudah dewasa."
Farel mengangguk. Percakapan itu kurang dari sepuluh menit. Ia mendapat satu fakta yang bisa diuji—ada sengketa pengadaan kendaraan—dan beberapa hal yang belum diketahui. Tidak ada nama pelaku, tidak ada bukti sabotase, dan tidak ada alasan untuk menuduh siapa pun.
Di kantor, Aya sedang menata jadwal staf. Farel kembali menjelang sore dan meletakkan kunci mobil di tempatnya. Ia tidak langsung mengaku bertemu Diandra. Ia mengatakan urusan pribadinya selesai dan bertanya apakah ada kabar dari Giana.
Aya memperhatikannya. "Kamu kelihatan lebih banyak mikir daripada biasanya."
"Aku memang banyak pikiran."
"Itu bukan jawaban." Aya tidak mendesak. "Kalau kamu sudah siap, kita bicara malam ini."
Farel mengangguk. Ia merasa kebohongannya bukan pada apa yang ia katakan, melainkan pada bagian penting yang ia tahan. Ia akan mengungkapkannya, tetapi belum sekarang. Ia ingin memeriksa dulu apakah pengetahuan dari Diandra bisa diverifikasi lewat sumber yang sah.
Giana datang untuk mengambil map kontrak. Ia hanya bertanya apakah Farel sudah memeriksa jadwal kantor. Farel menjawab sudah. Ia tidak menyebut pertemuan itu.
Giana pergi tanpa curiga. Farel menatap pintu yang tertutup dan tahu bahwa ia telah membuat pilihan yang akan punya akibat di antara mereka.
Diandra bertanya dari mana Farel mengenal keluarga Gama. Farel menjelaskan bahwa ia dan Gama pernah berteman sejak remaja, meski hubungan mereka tidak selalu dekat. Ia tidak menceritakan isi kontrak Giana atau percakapan pribadi Gama dengan ibunya.
"Saya tidak datang sebagai wakil Gama," katanya. "Saya juga tidak ingin membuat Ibu merasa harus menjawab. Saya hanya melihat catatan proyek publik dan ingin memahami batas informasi yang boleh saya cari."
Diandra mengangguk pelan. "Kalau begitu, batasnya sederhana. Jangan meminta berkas yang bukan hakmu. Jangan menganggap nama perusahaan pada satu proyek membuktikan kesalahan seseorang. Dan jangan menyebarkan percakapan ini sebagai sumber resmi."
Farel mencatat nama kategori dokumen yang mungkin tercantum pada arsip publik: pengadaan dan perawatan kendaraan operasional. Ia tidak meminta nomor kendaraan atau identitas pengemudi. Diandra tidak menyebut rincian yang tidak dapat ia buktikan.
"Ada laporan bahwa pernah terjadi kecelakaan setelah masa proyek itu?" tanya Farel dengan hati-hati.
Diandra menatapnya lama. "Saya tahu ada kecelakaan yang mengubah hidup beberapa keluarga. Tapi saya tidak bisa mengatakan bahwa proyek itu penyebabnya. Saya juga tidak akan menghubungkan dua hal hanya karena kendaraan terlibat. Itu bisa menyakiti orang yang sedang berduka dan menyesatkan Gama."
Farel menundukkan kepala. Ia menyadari pertanyaannya sudah mendekati batas. "Saya mengerti. Saya tidak akan menggunakan jawaban itu sebagai bukti."
"Kalau keluarga korban ingin mencari kejelasan, mereka berhak mendapatkan proses yang benar. Tetapi itu bukan sesuatu yang bisa saya selesaikan lewat percakapan sepuluh menit." Diandra berdiri. "Saya bisa memberi tahu Gama bahwa saya bersedia berbicara dengannya. Selebihnya, dia perlu meminta sendiri."
Farel mengucapkan terima kasih dan tidak menahan Diandra untuk pertanyaan tambahan. Ia keluar beberapa menit setelahnya, lalu berjalan sebentar sebelum kembali ke mobil. Ia merasa mendapat bantuan, tetapi bantuan itu justru membuat batas pengetahuannya semakin jelas.
Ia membuka catatan dan menulis tiga poin: ada sengketa pengadaan/perawatan; penyelesaian bisnis pernah terjadi; kaitannya dengan kecelakaan belum diketahui. Ia tidak menulis kesimpulan lain. Setelah itu ia menghapus draf pesan yang sempat ingin ia kirim kepada Gama, karena belum ada informasi yang layak disampaikan sebagai fakta.
Di perjalanan pulang, Farel memutuskan tidak menyimpan catatan percakapan di ponsel kantor. Ia menuliskannya pada buku pribadinya, membatasi isi pada fakta yang ia dengar dan menandai bahwa semua itu belum diverifikasi. Ia tidak ingin catatannya berubah menjadi dokumen yang tampak resmi.
Ia pulang tanpa mengirim ringkasan kepada siapa pun, karena percakapan pribadi itu belum menjadi informasi yang dapat dipakai orang lain.
Giana menjaga batas percakapan itu sampai malam berakhir.