Malam itu, Gama menunggu Diandra di ruang makan. Ia tidak bertanya apakah ibunya sudah memutuskan menerima Dea. Ia hanya meminta waktu yang jelas untuk membahas masa lalu.
Diandra mengatakan ia bisa berbicara pada akhir pekan, setelah mengunjungi Geraldi. Ia akan menjelaskan apa yang ia ketahui, tetapi tidak menjanjikan semua masalah selesai dalam satu percakapan.
"Aku tidak meminta Ibu menyelesaikan semuanya malam itu," kata Gama. "Aku cuma tidak mau keputusan pertunangan dibuat tanpa tahu hal yang mungkin penting."
"Itu permintaan yang wajar." Diandra meraih tangan putranya sebentar. "Aku juga ingin kamu mendengar dari sumber yang tepat, bukan dari kabar orang lain."
Gama setuju. Ia tidak tahu bahwa Farel baru saja berbicara dengan ibunya. Diandra pun tidak menyebutnya. Percakapan itu milik Farel dan Diandra, dan sejauh ini belum ada hal yang harus disampaikan sebagai fakta baru kepada Gama.
Keesokan harinya, Farel kembali ke katalog publik. Ia memeriksa syarat permohonan dan menuliskan langkah yang hanya dapat dilakukan oleh pihak perusahaan terkait. Ia tidak mencoba mencari salinan melalui jalur lain. Jika Gama ingin memahami proyek itu, ia perlu meminta dokumen melalui perusahaan atau penasihat hukumnya sendiri.
Aya mengirim pesan bahwa ia ingin berbicara setelah kantor tutup. Farel membaca pesan itu dan mengetik bahwa ia akan menjelaskan semuanya malam nanti.
Sebelum waktu pulang, Giana datang untuk mengambil daftar vendor yang masih ditahan. Gama sudah memberi kabar bahwa tidak ada tanggal baru. Giana memeriksa bahwa semua status bertanda “menunggu” dan meminta Aya menyimpan salinan cadangan.
"Kamu nggak penasaran sama sekali?" tanya Aya.
"Penasaran, tentu. Tapi itu bukan alasan untuk menghubungi orang-orang tanpa diminta." Giana menutup map. "Kalau mereka ingin aku membantu, mereka bisa mengatakannya."
Aya tersenyum bangga. "Kamu benar-benar belajar."
"Jangan terlalu cepat memujiku. Aku bisa kambuh." Giana mengangkat bahu. "Tapi kali ini aku mau menepati janji."
Giana pulang. Farel melihatnya pergi dan merasa semakin sulit menyimpan rahasianya. Ia belum menceritakan pertemuannya dengan Diandra, meskipun Aya sudah memberinya kesempatan untuk jujur.
Setelah pintu kantor terkunci, Aya berdiri di dekat meja Farel. "Sekarang ceritakan urusanmu."
Farel mengambil napas. "Aku bertemu Bu Diandra kemarin. Sendiri. Aku tidak memberi tahu kamu atau Giana."
Wajah Aya berubah. Ia tidak langsung marah, tetapi kecewa. "Padahal aku bilang jangan bergerak sendiri."
"Aku tahu. Aku salah karena menyembunyikannya. Aku tidak meminta dokumen atau menekan beliau. Aku cuma menanyakan soal satu proyek yang tercatat di katalog publik."
"Kenapa kamu tidak bilang sebelum pergi?"
"Karena aku takut kamu akan melarang, dan aku terlalu ingin memastikan apakah kecurigaanku punya dasar." Farel meletakkan catatan di meja. "Aku tidak akan memakai informasinya untuk menuduh siapa pun. Tapi aku seharusnya jujur kepadamu."
Aya membaca catatan itu. Ia melihat bahwa tak ada nama baru atau tuduhan, hanya uraian bahwa pernah ada sengketa pengadaan dan perawatan kendaraan, selesai secara bisnis, tetapi meninggalkan hubungan keluarga yang retak.
"Ini masih jauh dari bukti kecelakaan," katanya.
"Betul. Bu Diandra malah mengingatkan supaya tidak menghubungkan keduanya tanpa bukti."
Aya menutup catatan. "Aku marah karena kamu menyembunyikan pertemuan, bukan karena kamu bertanya. Kalau ada langkah lagi, kita putuskan terbuka. Dan Giana harus diberi tahu sebelum informasi ini memengaruhi pekerjaannya."
Farel mengangguk. Mereka belum sepenuhnya berdamai, tetapi pembicaraan itu membuka ruang untuk memperbaiki kepercayaan. Farel berjanji menunggu sampai mereka sepakat sebelum melakukan langkah lain.
Di rumah, Diandra memikirkan percakapan dengan Farel. Ia tidak merasa Farel mengancam atau memaksa, tetapi ia tidak menyukai gagasan bahwa informasi publik dapat berubah menjadi tuduhan baru. Ia membuka lemari dokumen dan mulai memisahkan berkas yang masih menjadi milik perusahaan dari catatan keluarga.
Beberapa berkas lama memiliki tanda tangan pihak lain. Ia tidak berhak membagikannya tanpa persetujuan. Ia menulis daftar apa yang mungkin dapat dijelaskan kepada Gama sendiri: kronologi umum proyek, keberatan yang pernah diajukan, dan keputusan bisnis yang telah ditandatangani. Ia tidak menulis dugaan yang hanya pernah ia dengar.
Ia lalu menghubungi Gama dan mengonfirmasi bahwa percakapan akhir pekan masih jadi. Gama menjawab bahwa ia akan datang bersama Dea jika Diandra tidak keberatan. Diandra meminta Gama datang sendiri terlebih dahulu, kemudian keluarga Dea dapat diundang setelah mereka menyepakati hal yang aman untuk dibagikan.
Gama menerima usulan itu. Ia mengabari Dea bahwa ibunya ingin berbicara dengannya dulu. Dea menjawab ia mengerti dan tidak akan memaksakan diri hadir.
Di tempat lain, Farel mengetik pesan kepada Aya: “Aku ingin bicara tentang langkahku kemarin. Aku tahu aku seharusnya memberitahumu sebelum menghubungi Diandra.” Ia menatap kalimat itu lama, lalu mengirimnya.
Aya membaca pesan tersebut tetapi tidak langsung menjawab. Farel tidak mengirim pesan kedua. Ia memberi Aya waktu, meskipun bagian dirinya ingin segera menjelaskan bahwa ia hanya berniat membantu.
Ia tahu niat baik tidak menghapus pilihan yang ia buat. Ia sudah mengambil jalan sendiri setelah Aya memintanya tidak bergerak tanpa bicara. Kalau ia ingin memperbaiki kepercayaan, ia harus menerima bahwa Aya mungkin kecewa.
Pagi berikutnya, Farel menghubungi pengelola arsip melalui alamat publik dan menanyakan syarat akses umum. Jawabannya jelas: dokumen yang menyangkut kontrak perusahaan hanya bisa diminta oleh pihak yang berhak atau kuasa hukum mereka. Farel menyimpan jawaban itu dan tidak mencoba mencari jalan pintas.
Ia akan menyampaikan batas tersebut kepada Aya dan Giana. Jika Gama ingin memeriksa dokumen, ia perlu melakukannya sendiri melalui jalur yang sesuai.
Ia menutup lemari dan menyimpan daftar pertanyaan untuk percakapan akhir pekan. Daftar itu tidak berisi tuduhan. Ia hanya ingin mendengar dari ibunya tentang apa yang benar-benar terjadi, dokumen mana yang bisa dibagikan, dan siapa lagi yang berhak memberi penjelasan.
Gama menyimpan pesan itu dan meneruskan pekerjaannya, menunggu waktu yang sudah disepakati tanpa menghubungi ibunya berulang kali.
Ia membiarkan kesepakatan waktu itu tetap berlaku.