Pada hari ketiga, Giana menerima pesan dari Gama bahwa ibunya bersedia berbicara akhir pekan nanti. Ia bertanya apakah Giana dapat membantu mengatur tempat netral untuk pertemuan keluarga, tetapi belum meminta ia hadir.
Giana membalas bahwa ia dapat mengirim beberapa pilihan tempat. Ia menambahkan bahwa peserta perlu menyetujui lokasi sendiri dan bahwa ia tidak akan ikut dalam percakapan kecuali diminta secara jelas.
Gama menjawab, "Aku mengerti. Kali ini aku akan mengurus pembicaraan itu sendiri. Tolong kirim pilihan tempat saja."
Giana mengirim tiga pilihan yang tenang dan mudah dijangkau, lengkap dengan biaya sewa ruang privat. Ia tidak memesan apa pun. Dea dan Gama perlu memilih bersama, lalu mengonfirmasi kepada Diandra.
Sementara itu, Aya berbicara dengan Farel lagi sebelum mereka pulang. Farel meminta maaf karena menyembunyikan pertemuan dengan Diandra. Ia tidak memaksa Aya segera memaafkan. Aya menjawab bahwa ia menerima permintaan maafnya, tetapi ingin melihatnya menepati janji untuk tidak bergerak sendiri lagi.
"Aku akan begitu," katanya.
"Aku tidak mau jadi orang yang harus memeriksa ponselmu untuk tahu apa yang kamu lakukan."
"Kamu tidak perlu melakukannya. Aku akan memberi tahu sebelum mengambil langkah yang menyangkut orang lain."
Mereka belum membahas semua perasaan, tetapi setidaknya batasnya jelas. Aya menyimpan catatan percakapan Farel dalam map pribadinya, bukan arsip kantor. Mereka tidak akan menggunakan informasi itu sebagai dasar untuk mendekati keluarga Dea atau Gama.
Sore hari, Giana bertemu Dea untuk menyerahkan beberapa opsi kain dan vendor penjahit. Pertemuan berlangsung singkat di tempat umum. Dea berkata ia tidak nyaman memilih gaun saat tanggal pertunangan belum pasti.
"Kita bisa menunda semuanya," kata Giana. "Tidak ada biaya pemesanan yang harus dibayar sekarang."
Dea terlihat lega. Ia mengatakan ayahnya meminta agar acara segera ditetapkan, tetapi ia sendiri ingin menunggu pembicaraan keluarga. Giana mendengarkan tanpa memberi penilaian.
"Aku bisa memberitahu Gama bahwa kamu memilih menunggu, kalau kamu mau. Atau kamu bisa menyampaikannya langsung."
"Aku akan bicara sendiri. Terima kasih karena tidak mencoba menenangkanku dengan janji bahwa semuanya akan baik-baik saja."
Giana mengangguk. Ia tahu kalimat yang menenangkan kadang justru menutup ruang untuk jujur. Ia menawarkan air minum, lalu menutup urusan vendor setelah Dea menyatakan belum ada pilihan final.
Dalam perjalanan pulang, Giana membaca pesan dari Aya yang menanyakan bagaimana pertemuan itu. Ia menjawab hanya membahas vendor dan keputusan ditunda. Ia tidak membahas dugaan baru karena memang belum ada hal yang bisa ia sampaikan.
Malamnya, Gama menelepon Dea. Ia mengajak Dea hadir pada pertemuan akhir pekan, bukan untuk menyetujui pertunangan, melainkan untuk mendengar penjelasan Diandra. Dea setuju dan berkata ia juga akan meminta ayahnya membawa dokumen yang bisa dibagikan.
Mereka sepakat tidak meminta Giana mengatur percakapan itu. Ia akan mengurus lokasi bila mereka memintanya, tetapi pembicaraan keluarga menjadi tanggung jawab mereka sendiri.
Giana membaca pesan itu di kantor dan mengirim balasan bahwa ia hanya akan mengatur tempat. Ia meminta Gama menyebutkan siapa yang akan hadir, kebutuhan akses, serta batas biaya. Ia juga mengingatkan bahwa ruang privat perlu dipesan atas nama pihak yang menyelenggarakan pertemuan, bukan atas nama dirinya.
Gama mengirim daftar sementara: dirinya, Dea, Diandra, dan orang tua Dea. Ia belum tahu apakah ayahnya dapat hadir. Giana menandai satu tempat yang punya ruang kecil, namun tidak menghubungi pemilik sampai Gama menyetujui rincian biaya.
"Kamu selalu berhati-hati soal reservasi," kata Aya ketika melihat tabelnya.
"Aku pernah membayar uang muka tempat acara yang akhirnya tidak jadi dipakai. Sekarang semua harus ada persetujuan tertulis."
Aya membantu memeriksa syarat pembatalan. Mereka menemukan biaya reservasi tidak dapat dikembalikan jika pembatalan dilakukan kurang dari sehari sebelumnya. Giana mengirim syarat itu kepada Gama, bukan memutuskan sendiri.
Gama menelepon dan berkata ia akan menunggu jawaban dari ayahnya. Ia berterima kasih karena Giana tidak menyebarkan undangan atau membuat reservasi dulu.
"Aku tidak ingin masalah keluarga berubah jadi tagihan baru," katanya.
"Aku juga tidak. Kalau tempat belum pasti, kita belum membayar." Giana menyimpan tabel. "Aku akan menunggu kabar darimu."
Ia menyelesaikan pekerjaan kantor lain sebelum pulang. Tidak ada alasan untuk duduk menunggu pesan Gama sepanjang hari. Saat jam kerja selesai, ia pergi membeli bahan makan untuk Rahma dan Gufta.
Di rumah, Rahma bertanya apakah Giana sudah mengetahui urusan keluarga Gama. Giana menjawab belum. Ia menjelaskan bahwa pertemuan keluarga akan diadakan akhir pekan jika semua pihak bersedia.
"Kamu akan hadir?" tanya Rahma.
"Belum tahu. Mereka hanya minta aku menyiapkan tempat. Aku tidak perlu berada di ruangan kalau pembicaraannya bersifat pribadi."
Rahma mengangguk. "Itu keputusan yang baik. Kadang orang perlu bicara tanpa merasa ada yang mencatat setiap kata."
Giana setuju. Jika ia diminta hadir sebagai Putri, ia akan memastikan perannya jelas. Tetapi jika tidak diperlukan, ia akan membiarkan keluarga itu berbicara sendiri.
Malamnya, Gama mengirim pesan bahwa ayahnya belum mengonfirmasi. Giana membalas bahwa pemesanan tetap ditunda. Ia tidak bertanya apakah Gama dan Dea bertengkar atau apakah Diandra sudah mengubah pikirannya.
Giana mulai melihat bahwa menjalankan kontrak dengan baik kadang berarti tidak melakukan apa-apa sampai klien memberi keputusan. Menunggu bukan kegagalan. Itu cara menjaga agar tak seorang pun terikat pada rencana yang belum mereka setujui.
Sebelum mengirim pilihan tempat, Giana menelepon pengelola ruang untuk memastikan tidak ada biaya tersembunyi. Ia bertanya tentang uang muka, batas waktu, akses masuk, dan kebijakan pembatalan. Ia menuliskan jawabannya dalam tabel, lalu meminta Aya memeriksa ulang hitungan.
Aya menemukan bahwa biaya layanan belum termasuk pajak. Giana memperbaiki tabel dan mengirim versi baru kepada Gama. Ia tidak meminta persetujuan hanya melalui telepon; semua keputusan harus tercatat agar tidak ada yang salah ingat.
Gama berterima kasih karena Giana menemukan biaya tambahan sebelum pemesanan. Ia berkata akan membicarakan hal itu dengan Dea dan ibunya. Giana mengarsipkan pesannya, lalu kembali mengurus pekerjaan kantor.