Pagi hari keempat, Farel datang ke kantor lebih awal dari Aya. Ia meletakkan dua cangkir teh di meja, tetapi tidak menyodorkan satu pun sebelum Aya masuk. Mereka belum sempat bicara setelah percakapan singkat malam sebelumnya.
Aya berhenti saat melihat cangkir itu. "Kalau kamu berharap teh menyelesaikan semuanya, aku minum dulu baru memutuskan."
"Aku nggak berharap begitu. Aku cuma tahu kamu belum sarapan." Farel berdiri. "Aku mau menjelaskan dari awal, lalu kamu boleh marah kalau memang perlu."
Ia menceritakan pesan dari kenalan lama, pencarian katalog publik, dan pertemuan singkat dengan Diandra. Ia tidak melebih-lebihkan yang disampaikan. Aya mendengarkan tanpa menyela sampai ia selesai.
"Kamu bilang tidak akan bergerak sendiri," kata Aya. "Lalu kamu tetap pergi dan baru cerita setelahnya."
"Iya. Aku melanggar kesepakatan kita. Aku takut kamu akan melarang, padahal mungkin aku bisa menjelaskan alasanku dan kita menyusun batas bersama." Farel menarik napas. "Aku minta maaf. Bukan karena kamu marah, tapi karena aku menyembunyikan keputusan yang memengaruhi kita bertiga."
Aya memutar cangkirnya perlahan. "Aku bukan ingin melarang semua hal. Aku ingin tahu kapan kamu mengambil langkah yang bisa menyeret Giana atau kantor. Aku juga ingin melindungimu dari bertindak seolah kecurigaan adalah bukti."
Farel mengangguk. Ia menawarkan untuk mengirim catatan pertemuan kepada Aya dan Giana, tetapi tidak akan membagikan detail pribadi Diandra di luar yang telah ia sampaikan. Mereka sepakat menyimpan ringkasan faktual secara terpisah dari kontrak klien.
Giana tiba beberapa menit kemudian. Farel menjelaskan bahwa ia telah bertemu Diandra tanpa memberi tahu mereka. Ia menyampaikan apa yang boleh diketahui: ada sengketa bisnis lama terkait pengadaan dan perawatan kendaraan, tetapi tidak ada bukti yang menghubungkannya dengan kecelakaan.
Giana membaca catatan itu. "Terima kasih sudah menjelaskan. Ini belum cukup untuk mengubah tugasku atau menghubungi keluarga Dea. Kita simpan sebagai informasi yang belum terverifikasi, bukan kesimpulan."
"Setuju," kata Farel. "Tidak ada langkah berikutnya sebelum kita bicara bersama."
Aya mengangguk, meskipun ia masih tampak kecewa. Ia meminta Farel berjanji tidak menyembunyikan pertemuan lain. Farel berjanji, dan kali ini ia tidak mencoba membela tindakannya dengan niat baik.
Giana kembali bekerja. Ia mengecek pesan Gama, tetapi belum ada perubahan jadwal. Ia menandai tugas kontrak sebagai menunggu dan beralih ke laporan layanan lain. Ia tidak mencari nama perusahaan di katalog yang dibuka Farel.
Sore hari, Giana pulang lebih cepat untuk membantu Rahma menyiapkan makan. Gufta belum pulang. Jam di dinding menunjukkan hampir pukul tujuh ketika suara kunci terdengar.
"Maaf telat, Kak. Ada tambahan pelajaran gratis di sekolah," kata Gufta sebelum Giana bertanya.
Giana menahan diri untuk tidak langsung menginterogasi. Ia hanya bertanya apakah Gufta sudah makan. Gufta menggeleng dan duduk di kursi.
Rahma menyendokkan nasi. "Kalau ada tambahan pelajaran, kabari dulu. Kami bukan melarang, hanya ingin tahu kamu aman dan tidak menunggu sendirian terlalu lama."
Gufta mengangguk. "Iya, Nek. Besok aku kabari."
Giana melihat wajah adiknya yang lelah. Ia tidak tahu apakah pelajaran itu benar-benar alasan satu-satunya, tetapi belum punya bukti untuk meragukannya. Ia memilih menanyakan jadwal yang jelas besok, bukan menuduh malam ini.
Sebelum Giana meninggalkan kantor, Aya meminta ia duduk sebentar. "Kamu gimana setelah dengar Farel bertemu Diandra?"
Giana menjawab jujur bahwa ia tidak suka informasi itu datang terlambat, tetapi ia menghargai Farel sudah menyampaikan dan menerima batas. "Aku tidak mau percakapan itu dijadikan alasan untuk mengubah kontrak atau menghubungi keluarga tanpa persetujuan."
Aya setuju. Ia juga meminta Giana mengatakan langsung jika ada bagian cerita yang membuatnya tidak nyaman, alih-alih menunggu sampai rasa curiga menumpuk. Giana berjanji akan melakukannya.
Farel mendengar pembicaraan mereka dan meminta maaf sekali lagi. Kali ini ia tidak menambahkan penjelasan baru. Ia menerima bahwa dua sahabatnya perlu waktu untuk mempercayainya kembali.
Giana kembali ke mejanya dan menyelesaikan tagihan kontrak Gama. Ia memeriksa bahwa perpanjangan sudah masuk sistem, jam tambahan dicatat, dan tidak ada biaya acara yang belum disetujui. Pekerjaannya tampak membosankan, tetapi justru catatan itu menjaga mereka dari salah paham.
Menjelang tutup, ia mengirim status singkat kepada Gama: belum ada pemesanan, menunggu keputusan keluarga. Gama membalas terima kasih dan mengatakan ia sedang mencoba berbicara dengan Diandra. Giana tidak meminta kabar lebih lanjut.
Sebelum pulang, Giana menerima telepon singkat dari Gama. Ia mengabari bahwa ia meminta Diandra berbicara langsung dengannya, bukan melalui Giana atau Dea. Giana mendengarkan, lalu bertanya apakah ada tugas kerja yang berubah.
"Belum. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku akan mengurus pembicaraan keluarga sendiri," kata Gama.
"Baik. Kalau ada kebutuhan kontrak, kirim secara tertulis supaya tidak ada yang salah paham."
Gama berterima kasih. Ia tidak meminta Giana menilai ibunya atau menenangkan Dea. Panggilan itu berakhir dengan jelas, tanpa janji bahwa semua akan segera selesai.
Di perjalanan pulang, Giana menuliskan bahwa klien meminta semua urusan keluarga ditangani sendiri. Ia menyimpan catatan itu bersama berkas kontrak, bukan sebagai bukti konflik, melainkan pembaruan ruang lingkup pekerjaan.
Saat tiba, ia melihat Gufta baru duduk di meja makan. Giana menanyakan apakah kelas tambahan membuatnya lelah. Gufta berkata sedikit, tetapi pelajaran gratis itu membantunya memahami materi yang sebelumnya tertinggal. Giana mengatakan ia bangga pada usahanya, lalu membantu menyiapkan makan tanpa meminta rincian yang belum ingin ia ceritakan.
Rahma bertanya apakah Giana akan datang ke pertemuan akhir pekan jika diminta. Giana menjawab ia akan menanyakan tujuan kehadirannya lebih dulu. Jika hanya untuk mengatur ruangan, ia bisa menunggu di luar; jika keluarga meminta ia hadir sebagai Putri, semua pihak perlu mengetahui bahwa peran itu bagian dari kontrak.
"Kamu tidak harus menolak semua bantuan," kata Rahma. "Kamu hanya perlu tahu bantuan apa yang sedang diminta."
Giana mengangguk. Ia mencatat pertanyaan itu untuk disampaikan kepada Gama bila undangan datang, bukan untuk memutuskan sendiri malam ini.