Sabtu siang, Gama bertemu Diandra di ruang privat yang dipesan lewat Giana. Giana tidak hadir. Ia berada di rumah bersama Rahma, membantu mengatur belanja, ketika ponselnya bergetar dengan pesan bahwa reservasi telah dimulai dan tidak ada kebutuhan tambahan.
Diandra membawa satu map tipis. Ia menjelaskan bahwa di dalamnya hanya ada salinan kronologi umum proyek lama dan surat keberatan yang boleh dibagikan. Dokumen perusahaan yang terbatas tetap berada di tangan pihak yang berhak.
Gama membaca kronologi itu perlahan. Ia melihat bahwa keluarga Dea dan keluarganya pernah terlibat dalam kerja sama pengadaan kendaraan operasional. Perselisihan muncul mengenai jadwal perawatan serta tanggung jawab atas beberapa biaya. Surat tersebut menunjukkan ada perbedaan pendapat, tetapi tidak menyebut adanya sabotase.
"Apa ini ada kaitannya dengan kecelakaan Paman Geraldi dan orang tua Giana?" tanya Gama.
Diandra menggeleng. "Aku tidak tahu. Aku tidak akan mengatakan iya atau tidak tanpa dokumen yang menghubungkan. Kecelakaan itu ditangani melalui proses berbeda."
Gama menahan diri untuk tidak menuduh siapa pun. Ia bertanya mengapa ibunya menolak Dea.
"Karena ayah Dea pernah memilih menyimpan sebagian informasi dari keluarga kita saat proyek itu bermasalah. Aku tidak tahu apakah Dea mengetahui hal tersebut. Aku juga tidak tahu apa yang terjadi setelah aku berhenti terlibat. Aku takut kamu masuk ke pernikahan tanpa memahami bahwa ada ketidakpercayaan yang belum selesai."
"Ibu bisa bilang begitu dari awal."
"Aku tahu. Aku mencoba melindungimu dengan diam, dan ternyata membuatmu merasa tidak dipercaya." Diandra menutup map. "Aku minta maaf untuk bagian itu."
Gama menerima permintaan maafnya, tetapi belum merasa semua pertanyaannya terjawab. Ia meminta izin membawa salinan kronologi agar dapat dibaca bersama Dea. Diandra setuju, asalkan ia tidak menyebarkannya ke orang yang tidak berkepentingan.
Gama berjanji. Ia tidak mengatur tanggal pertunangan. Ia akan menunjukkan dokumen itu kepada Dea dan meminta cerita dari ayahnya sebelum mengambil keputusan.
Di tempat lain, Gufta pulang tepat pukul enam setelah kelas tambahan dan satu jam belajar di ruang baca. Ia mengirim pesan sebelum meninggalkan sekolah, lalu mengabari Rahma saat sudah sampai di kendaraan.
Giana membaca rangkaian pesan itu dan membalas bahwa makan malam sudah siap. Gufta datang dengan wajah lelah namun lega. Ia berkata jadwal baru terasa lebih mudah karena tidak perlu memikirkan apakah Giana akan marah.
"Kalau jadwal berubah, kabari. Kalau kamu perlu belajar, bilang. Kita cari cara yang cocok," kata Giana.
Gufta mengangguk. Ia duduk bersama Rahma untuk makan dan menceritakan pelajaran hari itu.
Malamnya, Gama mengirim pesan kepada Giana bahwa pertemuan berlangsung dan tidak ada kebutuhan tambahan. Ia berterima kasih karena ia bisa bicara tanpa ada orang yang mengatur percakapan.
Giana menjawab bahwa ia senang tempatnya sesuai. Ia tidak menanyakan isi map atau apa yang dikatakan Diandra. Ia hanya memperbarui status reservasi dan menyimpan kuitansi.
Babak ini belum membuka kaitan kecelakaan dan proyek lama. Namun, Gama kini memiliki kronologi awal, Diandra mengakui kesalahannya memilih diam, dan Gufta tidak perlu lagi menyembunyikan kebiasaan belajarnya. Untuk sementara, itu cukup untuk bergerak ke hari berikutnya tanpa membuat dugaan menjadi keputusan.
Gama menanyakan mengapa Diandra baru memilih berbicara sekarang. Ibunya mengakui bahwa selama bertahun-tahun ia takut membuka persoalan itu akan membuat Gama menyalahkannya atau membela keluarga Dea sebelum memahami faktanya.
"Aku memang mungkin akan marah," kata Gama. "Tapi aku lebih marah karena diminta percaya tanpa diberi kesempatan memahami."
Diandra menerima kalimat itu. Ia tidak meminta Gama langsung memihak atau memaafkan. Ia menjelaskan bahwa perselisihan bisnis dulu berkaitan dengan jadwal pemeriksaan dan penggantian kendaraan operasional. Ada perbedaan catatan antara dua perusahaan, tetapi ia tidak tahu apakah semua dokumen masih lengkap.
"Apakah ada yang sengaja merusak mobil?" tanya Gama.
Diandra menggeleng. "Aku tidak punya bukti seperti itu. Jangan menyebut sabotase hanya karena ada perselisihan. Kalau ada dugaan, perlu pemeriksaan dan bukti, bukan cerita keluarga."
Gama mengerti. Ia bertanya apakah ayah Dea mengetahui seluruh sengketa. Diandra berkata ia tidak bisa memastikan; sebagian komunikasi dilakukan oleh orang-orang yang tidak lagi bekerja di kedua perusahaan. Ia tidak akan menebak apa yang diketahui ayah Dea.
Mereka sepakat bahwa langkah berikutnya adalah berbicara dengan Dea dan ayahnya dalam pertemuan yang sudah disiapkan. Diandra akan menyampaikan kronologi umum, dan Gama akan meminta dokumen yang boleh dibagikan melalui jalur resmi.
Setelah pertemuan, Gama mengirim pesan singkat kepada Giana bahwa tempat yang dipesan sesuai dan tidak ada perubahan biaya. Ia tidak mengirim isi percakapan. Giana mengarsipkan pembaruan tersebut dan kembali ke urusan rumah.
Gufta sedang mengerjakan tugas di meja yang baru ditata. Ia mengirim pesan kepada Rahma bahwa ia akan pulang dari ruang baca pukul enam. Giana melihatnya dan tidak bertanya lagi.
Ia menyadari dua urusan yang berjalan hari itu sama-sama mengajarinya hal serupa: orang berhak memahami keadaan yang memengaruhi hidupnya, tetapi tidak semua orang berhak membuka atau memaksa jawaban. Ia menutup buku catatan dan membiarkan keluarganya makan malam tanpa membahas Gama.
Diandra memberikan satu salinan kronologi kepada Gama untuk dibaca di rumah. Ia meminta putranya tidak mengirimkan salinan kepada orang lain sebelum mereka tahu dokumen mana yang boleh dibagikan.
Gama berjanji. Ia menyadari bahwa memperoleh satu map bukan berarti seluruh persoalan selesai. Ia perlu membaca perlahan dan bertanya kepada ibunya tentang bagian yang tidak dipahami.
Saat keluar dari ruang itu, ia mengirim pesan kepada Dea bahwa ia sudah menerima penjelasan awal dan ingin membicarakan dokumen bersama. Ia tidak menuduh ayah Dea dan tidak menyebut informasi Farel. Dea menjawab bahwa ia akan mendengarkan serta meminta ayahnya membawa catatan yang dapat dibagikan.
Gama tidak menetapkan tanggal pertunangan. Ia memilih menunggu percakapan keluarga berikutnya dan menyampaikan hal itu kepada Giana hanya sebagai pembaruan status. Giana mengarsipkan pesan tanpa meminta rincian map.
Pada malam hari, Giana memeriksa jadwal Gufta. Adiknya mengirim pesan bahwa kelas tambahan dibatalkan, jadi ia akan pulang lebih awal. Giana membalas bahwa makan malam sudah tersedia. Ia senang melihat kesepakatan mereka bekerja tanpa membuat Gufta merasa sedang diawasi.
Rahma bertanya apakah ada kabar dari Gama. Giana menjawab bahwa pertemuan keluarga berjalan dan ia tidak tahu isi pembicaraan. Rahma mengangguk, menghargai bahwa Giana tidak berusaha mendapatkannya.