Sepulang dari kantor layanan, Gama mengirim pesan kepada Dea. Ia mengatakan Giana mencatat dua hal yang belum ia pahami: ayah Dea menyebut kerja sama lama, dan ibu Dea mengenali nama Aninta. Ia menegaskan bahwa ia tidak sedang menuduh Dea.
Dea menelepon. "Aku tahu ayah pernah bekerja sama dengan perusahaan keluargamu, tapi aku tidak tahu rincian sengketanya. Soal Aninta, ibuku mungkin pernah mendengar namanya dari acara dokter. Aku tidak tahu pasti."
Gama mendengar nada lelah dalam suaranya. "Aku tidak ingin kamu merasa harus membuktikan diri. Aku hanya perlu tahu apakah ada sesuatu yang sengaja disembunyikan dariku."
"Aku juga perlu tahu apa yang ibumu tahu. Kita bisa bertanya bersama, tapi aku tidak mau semua kesalahan diarahkan kepada orang tuaku sebelum ada bukti."
Gama setuju. Mereka membicarakan pertemuan akhir pekan dan siapa yang akan hadir. Dea menegaskan ia bersedia mendengar Diandra, tetapi meminta agar Gama tidak mengundang orang tambahan tanpa persetujuan semua pihak.
"Setuju. Pertemuan itu bukan interogasi," kata Gama.
Mereka memilih agenda sederhana: Diandra menjelaskan apa yang ia ketahui, ayah Dea menjelaskan sisi keluarganya, lalu mereka menentukan dokumen apa yang dapat diperiksa lebih lanjut. Tidak ada keputusan pertunangan pada pertemuan itu.
Diandra menerima agenda tersebut. Ia meminta agar setiap dokumen yang dibawa tetap berada di ruangan dan tidak difoto sebelum pemiliknya memberi izin. Gama menyampaikan syarat itu kepada Dea, yang menyetujuinya.
Giana menerima pembaruan jadwal dan memastikan ruangan menyediakan tempat penyimpanan aman selama pertemuan. Ia tidak bertanya isi dokumen. Ia hanya mencatat bahwa tim layanan bertugas dari pukul dua sampai empat dan akan berada di area tunggu.
Malam itu, Gama menelepon ibunya. Ia mengatakan Dea bersedia mendengar dan meminta pertemuan tetap terbatas pada keluarga yang berkepentingan.
"Aku akan datang," kata Diandra. "Tapi aku tidak akan menuduh keluarga Dea. Aku hanya akan menjelaskan apa yang kuketahui dan bagian mana yang belum bisa kupastikan."
"Itu yang aku minta."
"Gama, kamu masih mencintainya?"
Ia terdiam sejenak. "Iya. Tapi aku tidak mau rasa cinta membuatku mengabaikan pertanyaan penting."
Diandra menghela napas. "Kalau begitu, dengarkan. Jangan datang dengan keputusan yang sudah dibuat."
Gama berjanji. Ia tidak membatalkan hubungannya dengan Dea, tetapi juga tidak mengumumkan pertunangan. Ia memilih menunggu bukti dan percakapan.
Di rumah Giana, Gufta mengirim pesan bahwa kelas tambahannya selesai lebih cepat. Ia akan pulang langsung. Giana membalas agar ia berhati-hati. Setelah pesan terkirim, ia menutup ponsel dan melanjutkan membantu Rahma.
Setelah telepon berakhir, Dea duduk cukup lama di ruang tamu rumahnya. Ayahnya baru pulang dari kantor dan ibunya sedang menyiram tanaman di teras. Dea tidak menyembunyikan bahwa Gama ingin membahas kerja sama lama itu. Ia juga tidak menambahkan dugaan yang belum terbukti. Ia hanya menjelaskan bahwa pertemuan akan membahas catatan yang boleh dibagikan, lalu meminta mereka tidak membawa dokumen asli bila belum siap.
Ayah Dea mengangguk, walau wajahnya tegang. Ia mengatakan beberapa perkara lama memang membuat namanya dan keluarga Pradipta pernah berada dalam satu ruangan, tetapi tidak semua pembicaraan berakhir menjadi sengketa. Ada kontrak yang selesai baik-baik saja dan ada catatan yang dibuat oleh orang lain tanpa sepengetahuannya. Ia bersedia membawa kronologi pribadi, bukan berkas kantor yang dilindungi. Ibu Dea setuju, lalu menambahkan bahwa nama Aninta pernah ia dengar karena kegiatan sosial rumah sakit, bukan karena hubungan rahasia dengan keluarga mereka.
"Kalau itu saja yang kita tahu, katakan itu saja," ujar Dea. "Jangan mengisi bagian yang belum jelas karena takut terlihat bersalah."
Kalimat itu membuat suasana rumah sedikit mereda. Mereka sepakat menuliskan tiga pertanyaan yang ingin dijawab: hubungan kerja apa yang benar-benar pernah terjadi, siapa yang mengetahui kecelakaan masa lalu, dan mengapa nama Aninta muncul dalam pembicaraan keluarga. Tidak ada pertanyaan tentang siapa yang pantas menikah dengan siapa. Dea menolak menjadikan pertunangannya sebagai alat tukar agar keluarganya didengar.
Di sisi lain, Gama membuat salinan agenda pertemuan untuk ibunya. Diandra memeriksanya satu per satu. Ia mencoret bagian yang terdengar seperti tuntutan dan menggantinya dengan pertanyaan yang dapat dijawab berdasarkan dokumen. Ia juga meminta Gama memberi kesempatan ayah Dea menjelaskan bila ada catatan yang tidak dapat dibawa keluar dari kantor. Gama menyadari ibunya sedang menahan diri agar tidak menjadikan luka lama sebagai vonis.
Sebelum tidur, Gama mengirim agenda akhir kepada Dea. Dea membalas bahwa keluarganya akan hadir tepat waktu dan menghormati batas dokumen. Pesan itu tidak menyelesaikan kecurigaan Gama, tetapi cukup untuk membuatnya berhenti mencari jawaban dari bayangan. Ia menaruh ponselnya dan memilih menunggu pertemuan yang sudah mereka sepakati.
Giana menerima salinan agenda hanya untuk mengetahui waktu layanan. Ia memeriksa daftar tamu, memastikan tidak ada nama tambahan, lalu menyimpan berkas itu di folder acara. Saat Rahma bertanya apakah pekerjaannya akan berat, Giana menjawab bahwa tugasnya hanya mengatur ruang dan menjaga batas kerja. Mengatakan "hanya" membuatnya tersenyum; pekerjaan yang jelas memang terasa lebih ringan daripada peran yang penuh pura-pura.
Diandra juga mengirim pesan kepada Giana, hanya untuk memastikan apakah tim layanan membutuhkan pengaturan khusus. Giana menjawab bahwa kursi dekat pintu dan air minum sudah cukup; isi pertemuan tetap urusan keluarga. Diandra tidak meminta lebih jauh. Jawaban singkat itu membuat Giana lega karena pihak lain mulai menghormati batas tanpa perlu diingatkan berulang-ulang.
Malam semakin larut. Giana membantu Rahma menyiapkan makan malam, lalu mematikan notifikasi acara. Ia tahu kecemasan tidak akan membuat dokumen menjadi lebih jelas. Besok ia cukup datang sesuai jadwal, menjalankan yang disetujui, lalu pulang ketika tugas selesai.
Ia mengingat bahwa ia tidak bertugas menentukan siapa yang benar. Ia hanya perlu memastikan ruang, jadwal, dan perannya tidak dipakai untuk menyembunyikan persoalan yang harus dijawab langsung oleh keluarga Gama dan Dea. Dengan keyakinan itu, Giana dapat tidur tanpa membawa konflik orang lain ke dalam mimpinya.