Farel dan Aya mendiskusikan rencana kehadiran mereka saat makan siang. Aya masih tidak nyaman dengan tindakan Farel yang menghubungi Diandra diam-diam, tetapi ia tidak ingin masalah itu membuat Giana harus hadir sendirian dalam situasi yang rumit.
"Kita datang sebagai tim layanan," kata Aya. "Kita tidak ikut bicara tentang sengketa keluarga, tidak mencatat isi percakapan, dan tidak mengambil dokumen."
Farel setuju. Ia akan menangani daftar kebutuhan dan waktu, sementara Aya menjadi kontak jika Giana ingin keluar dari ruangan. Mereka meminta Giana mengonfirmasi bahwa kehadiran mereka memang masuk dalam persetujuan klien.
Giana membaca revisi kontrak. Biaya tambahan mencakup tiga staf selama dua jam, transportasi, dan waktu persiapan. Tidak ada biaya untuk peran sebagai saudara atau konsultan medis. Ia menyetujui dan mengirimkan salinan kepada Gama.
Gama membalas bahwa ia menerima semua ketentuan. Ia juga menyetujui bahwa mereka akan berada di ruang tunggu, bukan duduk sebagai anggota keluarga. Jika ada kebutuhan teknis, ia akan meminta bantuan.
Aya merasa lebih tenang setelah melihat persetujuan tertulis itu. Ia tidak ingin mengulangi pengalaman ketika batas tugas berubah di tengah acara dan Giana harus menanggung akibatnya.
Mereka menyiapkan perlengkapan: daftar vendor, salinan reservasi, alat tulis, dan tanda nama layanan. Tidak ada kostum atau atribut keluarga. Giana memilih pakaian kerja biasa.
"Rasanya aneh, ya," kata Aya sambil memeriksa perlengkapan. "Dulu kita mungkin berpikir harus membuat semua orang percaya kamu kakaknya. Sekarang kita justru memastikan semua orang tahu kamu bukan."
"Mungkin itu lebih profesional," jawab Giana.
"Dan lebih sedikit kemungkinan bikin kita dituntut karena salah mengaku," tambah Farel.
Mereka tertawa, tetapi kemudian membahas risiko jika keluarga mulai bertengkar. Farel menyarankan mereka tidak mencoba mendamaikan semua pihak. Jika suasana berubah tidak aman atau ada permintaan di luar kontrak, mereka dapat mengakhiri tugas dan meninggalkan ruang.
Giana setuju. Ia tidak ingin mereka membatalkan pertemuan hanya karena tegang, tetapi juga tidak akan memaksakan diri berada di tengah konflik.
Sore itu, Dea mengirim daftar kebutuhan makan dan minum. Giana meneruskan kepada pengelola tempat, lalu mengonfirmasi biaya. Ia tidak menambahkan menu mewah atau dekorasi yang tidak diminta.
Farel memeriksa semuanya dan mengirim konfirmasi kepada Gama. Aya menutup berkas persiapan. Untuk pertama kalinya, kehadiran mereka bukan sandiwara rahasia; semua orang tahu mereka datang sebagai penyedia jasa.
Keesokan paginya, ketiganya melakukan pemeriksaan singkat ke tempat pertemuan. Pengelola menunjukkan ruang utama, area tunggu, serta jalur menuju toilet dan pintu keluar. Aya mencatat bahwa pintu ruang utama dapat dibuka dari dalam tanpa kunci khusus. Farel memeriksa kuitansi reservasi dan menanyakan apakah minuman dapat diletakkan di meja samping, bukan di dekat map keluarga. Hal kecil itu penting agar tidak ada barang pribadi yang tersenggol saat pelayan masuk.
Giana melihat daftar tanda nama yang disiapkan pengelola. Ia meminta satu perubahan: tanda nama tim cukup bertuliskan nama depan dan "Layanan Siap Bantu". Tidak perlu jabatan palsu, nama keluarga Pradipta, atau keterangan yang memberi kesan mereka bagian dari salah satu pihak. Pengelola menyetujui tanpa banyak bertanya. Giana merasa keputusan sederhana itu menghapus kegelisahan yang sempat ia bawa sejak awal kontrak.
Di kantor, Aya membuat pesan singkat yang akan dikirim pada pagi pertemuan. Pesan itu berisi alamat, waktu kedatangan, aturan bahwa dokumen tetap dibawa pemiliknya, serta nomor yang dapat dihubungi bila ada perubahan jadwal. Farel menyarankan pesan dikirim kepada Gama dan Dea bersamaan agar tidak ada versi informasi yang berbeda. Giana memeriksa lagi sebelum menekan kirim. Semua kalimatnya bersifat teknis; tidak satu pun menyinggung pertunangan atau keluarga.
Saat makan siang, Aya akhirnya menanyakan mengapa Giana tetap menerima tugas itu setelah kontrak awal begitu melelahkan. Giana menjawab jujur bahwa ia tidak ingin terus-menerus lari dari pekerjaan yang pernah salah batas. "Kalau aku berhenti hanya karena takut, aku tidak belajar membetulkannya," katanya. "Tapi kalau aku kembali memakai identitas orang lain, itu bukan memperbaiki apa-apa."
Farel mengangguk. Ia mengakui ia juga pernah terlalu cepat mencari jalan pintas dengan menghubungi Diandra tanpa membicarakannya dengan tim. Ia meminta maaf sekali lagi dan berkata ia akan membiarkan semua komunikasi keluarga melewati orang yang berhak. Aya menerima permintaan maaf itu, meski ia tidak membuat suasana menjadi manis secara mendadak. Yang penting, perubahan tersebut terlihat dalam tindakan mereka pada hari pertemuan.
Sore menjelang, Giana memeriksa daftar perlengkapan untuk terakhir kali: pena, kuitansi, nomor pengelola, salinan jadwal, dan formulir penyelesaian layanan. Tidak ada alat perekam, kamera, atau map kosong untuk mengambil dokumen. Ia sengaja mencoret saran lama untuk menyiapkan album keluarga sebagai pemecah suasana. Pertemuan itu bukan pesta yang harus dibuat tampak bahagia. Cukup ada tempat yang aman, waktu yang jelas, dan orang-orang yang bersedia mendengar.
Saat kantor mulai sepi, Aya menyerahkan satu salinan formulir kepada Giana. Di bagian akhir terdapat pilihan sederhana: pekerjaan selesai sesuai ruang lingkup atau dihentikan karena ada permintaan di luar kesepakatan. Giana berharap mereka hanya perlu menandai pilihan pertama, tetapi ia senang pilihan kedua tersedia. Keberadaan pilihan itu mengingatkan mereka bahwa menolak bukan kegagalan.
Farel memastikan pembayaran akan diterima melalui rekening layanan, bukan langsung sebagai hadiah pribadi. Giana mengiyakan. Ia tidak mau kebaikan atau rasa bersalah keluarga mana pun mengaburkan batas yang baru mereka susun. Setelah semua berkas tersimpan, mereka pulang lebih awal agar datang ke pertemuan dengan pikiran jernih.
Pagi berikutnya mereka tidak perlu mencari kostum atau menghafal cerita keluarga. Mereka hanya membawa daftar kerja dan kesediaan untuk berkata tidak bila diminta melampaui pekerjaan itu. Giana memandang Aya dan Farel, lalu merasa mereka akhirnya bekerja sebagai satu tim yang saling menjaga, bukan tiga orang yang menanggung kebohongan yang sama. Mereka sepakat datang tepat waktu, menyelesaikan tugas sesuai catatan, lalu memberi ruang kepada keluarga untuk menentukan keputusan mereka sendiri.