Seminggu setelah pertemuan keluarga itu, Giana sedang merapikan jadwal layanan ketika seorang perempuan berdiri di ambang pintu kantor. Perempuan tersebut mengenakan kemeja putih sederhana dan membawa tas kerja, tanpa rombongan atau pengawal. Ia mengamati papan nama Layanan Siap Bantu, lalu menatap Giana cukup lama sampai Aya berhenti mengetik.
"Saya mencari Giana Edrelin," katanya.
Giana mengangkat wajah. "Saya sendiri. Ada yang bisa saya bantu?"
Perempuan itu seperti hendak menjawab, namun matanya sempat jatuh pada berkas bertuliskan nama Putri Pradipta di meja. Tatapannya berubah, bukan terkejut sepenuhnya, lebih seperti menemukan sesuatu yang ia khawatirkan akan benar.
"Nama saya Aninta Putri Pradipta. Boleh kita bicara sebentar?"
Suara itu membuat tangan Giana berhenti di atas kertas. Di dalam kepalanya, sebuah lorong rumah sakit yang lama dan lampu putih yang menyilaukan bergerak tanpa urutan. Ada seseorang memanggilnya dengan nada tenang di tengah tangisnya. Ada tangan yang menyentuh bahunya. Namun gambarnya tidak utuh; yang tinggal hanya bunyi suara dan rasa dingin di lantai.
Aya bangkit. "Mbak Aninta, kalau ini soal pekerjaan, kami bisa—"
"Bukan urusan kantor kalian," potong Aninta, lalu segera melunakkan suaranya. "Maaf. Saya tidak datang untuk membuat keributan. Saya ingin bicara dengan Giana sebagai diri saya sendiri. Kalau dia tidak nyaman, saya akan pergi."
Giana mendorong kursinya mundur. Jantungnya berdetak tak rata, tetapi ia tak ingin membiarkan orang lain memutuskan apakah ia mampu mendengar. "Kita bisa bicara di ruang rapat kecil. Aya, tolong temani dulu."
"Aku di luar pintu," kata Aya. Ia menatap Giana seakan memastikan keputusan itu benar-benar miliknya. Giana mengangguk.
Di ruang rapat, Aninta duduk di sisi yang dekat pintu. Ia tidak membuka tasnya dan tidak mengeluarkan berkas. Giana memilih kursi seberang, menyisakan meja di antara mereka.
"Saya minta maaf karena muncul tanpa janji," kata Aninta. "Saya baru tahu ada orang yang menggunakan nama saya dalam pertemuan keluarga Gama. Saya perlu memastikan siapa yang diminta memainkan peran itu."
"Saya dikontrak Gama untuk berpura-pura sebagai kakaknya, memakai nama Putri," jawab Giana. "Saya bukan keluarga kalian. Saya sudah menetapkan batas supaya pekerjaan saya tidak dipakai sebagai dokter atau untuk urusan pribadi."
Aninta mengangguk, tapi ekspresinya belum ringan. "Gama seharusnya memberi tahu saya sebelum memakai nama saya. Saya tidak ingin menyalahkanmu. Saya ingin tahu bagaimana semua ini dimulai."
Giana menjelaskan kontrak, tugas yang semula terbatas pada persiapan lamaran, dan bagaimana ia bertemu keluarga Dea. Ia menyebutkan bahwa beberapa orang mengenali nama Aninta, tetapi ia tidak mengarang alasan untuk itu. Ia juga mengatakan peran tersebut sudah dihentikan dalam pertemuan terakhir; semua orang tahu dirinya pekerja jasa.
Aninta mendengarkan tanpa menyela. Ketika Giana menyebut ia pernah tinggal di rumah sakit setelah kecelakaan orang tuanya, wajah Aninta berubah.
"Kamu Giana yang datang bersama nenekmu sepuluh tahun lalu?" tanyanya pelan.
Giana merasakan telapak tangannya basah. "Saya tidak ingat nama orang yang bicara dengan saya saat itu."
"Saya dokter muda yang menangani adikmu. Saya yang memberitahumu bahwa Gufta selamat."
Ruangan terasa mendadak sempit. Giana mengingat seorang dokter muda dengan suara yang hampir sama, mengatakan bahwa hanya orang tuanya yang berada di dalam. Ingatan itu bukan rekaman; ia berupa kilatan: pintu UGD, napas tersengal, lengan nenek yang melingkar di pundaknya.
"Jadi dokter itu kamu," katanya.
"Ya. Tapi saya tidak akan meminta kamu mengingat semuanya sekarang."
Giana menunduk, mencoba menyelaraskan nama, wajah, dan suara. Ia bisa saja meminta Aninta pergi. Sebaliknya, ia mengangkat wajah lagi. "Kenapa baru sekarang?"
Aninta menjelaskan bahwa ia baru melihat jadwal pertemuan dan mengetahui identitas Giana beberapa hari sebelumnya. Ia menghubungi Gama, tetapi belum memperoleh kesempatan bicara. Ia tak ingin pembahasan keluarga mengubah pertemuan kerja menjadi tempat pengungkapan yang tak disepakati.
"Saya minta satu hal," kata Giana. "Jangan ceritakan ini kepada Gama atas nama saya. Saya perlu tahu dulu apa yang saya ingat dan apa yang belum."
"Saya tidak akan melakukannya tanpa persetujuanmu." Aninta meletakkan kedua tangan di pangkuan. "Kalau kamu bersedia, kita bisa bicara lagi. Kalau tidak, saya tetap akan menghormati batas itu."
Giana tidak menjanjikan pertemuan kedua. Ia meminta waktu. Sebelum pergi, Aninta berkata satu hal lagi: mobil yang dikendarai Geraldi adalah mobil lain yang terlibat dalam kecelakaan itu. Ia tidak menyebutnya penyebab; penyelidikan sabotase mobil Geraldi masih belum selesai.
Giana tidak bertanya lebih jauh. Informasi itu sudah cukup untuk membuat ruangan berubah bentuk. Saat Aninta keluar, Aya segera mendekat.
"Kamu mau cerita?" tanyanya.
Giana menatap papan nama kantor, lalu pintu yang baru saja tertutup. "Belum sekarang. Tapi aku mengenal suaranya."
Di ambang pintu, Aninta berhenti sebelum Aya sempat mengikutinya. "Saya ingin mengucapkan terima kasih karena kamu mau mendengarkan, meski saya tahu kedatangan saya bisa terasa mengganggu." Giana tidak menyahut. Aninta mengangguk kecil, menerima diam itu sebagai jawaban yang cukup, lalu pergi tanpa meminta nomor pribadi atau memaksa pertemuan lanjutan. Aya menunggu sampai langkahnya menjauh sebelum bertanya apakah Giana ingin ditemani. Giana memilih tetap di kantor; pekerjaan sederhana memberinya pegangan sementara pikirannya menyusun ulang nama-nama yang baru didengar.
Ia membuka catatan kontrak dan menemukan nama Aninta tertulis berkali-kali sebagai identitas yang harus ia tiru. Selama ini huruf-huruf itu tampak seperti bagian dari tugas. Kini nama itu terasa punya bobot lain. Giana menutup berkas tersebut dan memberi tahu Aya bahwa tak seorang pun boleh memakai salinan foto atau profil Aninta untuk materi berikutnya. Aya segera mengambil map itu, mencoret daftar kebutuhan acara yang sudah tidak berlaku, dan menulis keterangan bahwa klien harus hadir dengan identitas sendiri. Perubahan kecil itu membuat Giana kembali merasa punya kendali atas pekerjaan yang sempat menjauh dari batasnya.
Di meja resepsionis, Aya memastikan Aninta benar-benar pergi sendiri. Giana mengangguk; ia tak ingin mengubah kepeduliannya menjadi pengawasan. Ia meminta Aya mencatat hanya bahwa pertemuan berlangsung, bukan isi percakapan.