Giana tidak pulang setelah Aninta pergi. Ia duduk di ruang kerja dengan secangkir teh yang tak disentuh, mencoba menyelesaikan daftar pengeluaran klien. Angka-angka di layar berpindah-pindah tanpa masuk ke pikirannya. Aya tidak mendesak. Ia hanya meletakkan air putih di dekat siku Giana dan memindahkan panggilan masuk ke Farel.
Menjelang siang, Giana meminta nomor Aninta. Aya mengangkat alis, namun menyerahkannya tanpa komentar. Giana menulis pesan singkat: ia bersedia bicara lagi, tetapi hanya tentang kejadian lama dan tidak untuk direkam atau disebarkan. Aninta membalas bahwa ia mengerti dan menawarkan tempat netral esok sore.
Mereka memilih kedai kecil yang tidak jauh dari kantor. Giana membawa Aya sampai pintu, lalu masuk sendiri. Ia ingin dukungan tetap dekat, tetapi tidak ingin seorang saksi membuat percakapan terasa seperti pemeriksaan.
Aninta sudah duduk di sudut. Kali ini ia membawa sebuah amplop tertutup, namun tidak langsung mendorongnya ke arah Giana.
"Saya tidak membawa rekam medis," katanya. "Saya tahu dokumen itu bukan untuk dibuka begitu saja. Saya hanya ingin menjawab hal yang saya ingat sebagai orang yang ada di rumah sakit. Kalau ada bagian yang tidak saya ketahui, saya akan mengatakannya."
Giana duduk. "Ceritakan bagaimana kamu tahu nama saya."
Aninta menerangkan bahwa malam itu ia bertugas di unit gawat darurat. Giana dan Rahma datang setelah menerima kabar tentang kecelakaan. Orang tua Giana dinyatakan meninggal; Gufta selamat dan perlu diperiksa. Aninta mengingat Giana berlari memeluk adiknya, meskipun tubuhnya sendiri hampir tak kuat berdiri.
"Saya ingat kamu menanyakan berkali-kali apakah Gufta benar-benar hidup," ujarnya. "Saya tidak ingat kata-kata lain dengan tepat. Sudah terlalu lama, dan saya tidak ingin berpura-pura punya ingatan sempurna."
Giana menatap cangkirnya. Bagian itu sesuai dengan ingatan yang tersisa: suara perempuan, sebuah anggukan, lalu Gufta berlari ke arahnya. Ia bisa melihat dirinya yang berusia lima belas tahun dari kejauhan, tapi tidak mampu masuk ke dalam gambar itu.
"Lalu kamu menyebut mobil Geraldi?"
"Bukan malam itu. Saya baru tahu setelah petugas menjelaskan kendaraan yang dibawa ke rumah sakit. Geraldi adalah pengemudi mobil lain. Ia suami Diandra dan ayah Gama. Ia juga menjadi korban dalam kecelakaan itu, dan sejak saat itu masih dirawat dalam keadaan koma."
Aninta memilih kata-katanya dengan cermat. Ia tak menyebut siapa yang menyebabkan tabrakan. Berdasarkan keterangan awal yang ia dengar, mobil Geraldi diduga mengalami kerusakan rem akibat sabotase, tetapi dugaan itu harus dibedakan dari hasil pemeriksaan resmi. Giana merasakan marah dan bingung bercampur, namun menahan diri untuk tidak mengisi celah dengan kesimpulan sendiri.
"Apa kamu tahu ibuku meninggal di lokasi?" tanya Giana.
"Saya tahu kedua orang tuamu tidak tertolong. Saya tidak berada di lokasi kecelakaan. Saya tidak bisa menjelaskan detik-detik sebelum tabrakan."
Kejujuran itu terasa lebih sulit diterima daripada jawaban pasti, tetapi Giana menghargainya. Ia tak ingin seseorang menghiburnya dengan cerita yang terdengar lengkap tetapi tak dapat dibuktikan.
Aninta kemudian menyebut Diandra. Ia mengatakan ibu Gama datang ke rumah sakit malam itu, dengan wajah tertutup sebagian selendang. Perempuan itu meminta maaf karena kendaraan suaminya terlibat dalam kecelakaan yang merenggut nyawa orang lain. Aninta ingat Diandra menangis, namun tak tahu apakah Giana mendengarnya.
Giana memejamkan mata. Bukan ingatan utuh yang muncul, melainkan potongan: kain gelap di depan wajah, suara serak yang berkata maaf, dan Rahma menariknya menjauh ketika ia tak sanggup berdiri. Ia tidak dapat memastikan apakah semua itu bagian dari malam yang sama atau tercampur dengan hari-hari berikutnya.
"Saya mengenali suaranya," kata Giana. "Tapi saya belum yakin dengan wajahnya."
"Kamu tidak harus yakin hari ini."
"Dan aku tidak harus memaafkan siapa pun hanya karena mereka juga kehilangan sesuatu?"
Aninta terdiam sebentar. "Tidak. Saya tidak datang untuk meminta itu. Kehilangan Geraldi dan kehilangan orang tuamu tidak saling menghapus."
Giana menggenggam pegangan cangkir, lalu melepaskannya lagi. Pertemuan itu tidak membuatnya lega. Setidaknya, ia tahu pertanyaan mana yang belum terjawab: siapa yang meminta maaf kepadanya, kapan ucapan itu terjadi, dan apa yang benar-benar diketahui penyidik saat itu.
Ia meminta Aninta tidak mengirim apa pun kepada Gama dulu. Aninta setuju. Mereka berpisah tanpa jabat tangan. Di luar kedai, Aya masih menunggu di bangku dekat jendela.
"Aku perlu pulang," ujar Giana. "Aku mau tanya Nenek, tapi kalau beliau tak sanggup menjawab, aku tidak akan memaksanya."
Aya berdiri. "Aku antar sampai rumah."
Giana mengangguk. Hari itu, ia tak kembali ke kantor.
Sebelum berpisah, Giana bertanya apakah Aninta pernah bertemu keluarganya setelah malam kecelakaan. Aninta menggeleng. Ia hanya mendengar kabar umum dari catatan tugas dan tidak menghubungi Rahma atau Giana di luar urusan rumah sakit. Ia mengatakan keluarga Pradipta juga mengurus Geraldi dalam keadaan koma, dan setelah hari-hari pertama berlalu, ia kembali pada pekerjaannya. Tidak ada hubungan pribadi yang terjalin di antara mereka selama bertahun-tahun itu.
"Kalau begitu, kamu tidak tahu apa yang terjadi pada kami setelah pulang," kata Giana.
"Benar. Saya tidak tahu bagaimana kalian menjalani pemakaman, sekolah, atau hari-hari setelahnya. Saya tidak akan berpura-pura memahami bagian itu hanya karena saya ada di rumah sakit malam itu." Aninta melipat tangan di atas meja. "Saya hanya bisa memberikan hal yang benar-benar saya saksikan dan mengakui batas ingatan saya."
Giana menanyakan apakah ada catatan yang bisa ia minta secara resmi. Aninta menyarankan agar permintaan apa pun disampaikan melalui jalur yang berwenang, bukan lewat dirinya. Ia tidak membawa dokumen dan tidak berhak membuka rekam medis. Giana menuliskan saran itu di ponsel tanpa membuat janji untuk mengurusnya sekarang. Percakapan berakhir dengan kesepakatan bahwa Aninta tidak akan menghubungi Rahma atau Gufta tanpa persetujuan Giana.
Aninta mengulang bahwa ia tidak dapat menjanjikan akses pada dokumen rumah sakit. Ia menyarankan Giana memulai dari catatan yang memang dimiliki keluarga sendiri.