Di perjalanan pulang, Giana hanya berbicara seperlunya. Aya tidak bertanya ulang tentang rincian percakapan. Ia tahu jika Giana ingin menceritakannya, ia akan memulai sendiri. Setibanya di rumah, mereka menemukan Rahma sedang memilah pakaian bersih di ruang tengah, sementara Gufta belum pulang dari sekolah.
Rahma tersenyum saat melihat cucunya. "Lho, kok pulang cepat?"
"Ada yang perlu aku tanyakan, Nek." Giana duduk di kursi dekatnya. Ia menyampaikan bahwa Aninta datang dan mengaku sebagai dokter yang menangani Gufta setelah kecelakaan. Ia menyebut Geraldi sebagai pengemudi mobil lain, lalu menceritakan bahwa Diandra diduga pernah meminta maaf di rumah sakit.
Tangan Rahma berhenti melipat baju. Tidak ada keterkejutan besar; hanya napas panjang dan pandangan yang jatuh ke tumpukan kain.
"Kamu ingat perempuan yang menutup wajahnya dengan selendang?" tanya Giana.
Rahma mengangguk perlahan. "Aku ingat ada perempuan datang. Dia menangis dan berkali-kali bilang menyesal. Tapi malam itu semua orang bicara, polisi datang, dokter memanggil, Gufta menangis. Nenek tidak tahu pasti kalimatnya ditujukan kepada siapa."
"Apa Nenek tahu namanya?"
"Tidak. Waktu itu kita tidak bertukar nama. Nenek cuma tahu suaminya adalah pengemudi mobil satunya dari penjelasan petugas. Setelah itu Nenek mengurus pemakaman, kamu, dan Gufta. Tidak ada tenaga untuk mencari tahu keluarga mereka."
Giana menahan napas. Selama bertahun-tahun, ia mengingat seorang perempuan yang menangis, tetapi tak punya nama atau wajah. Yang ia tahu hanyalah rasa kehilangan. Kini nama keluarga itu memiliki wajah yang selama beberapa minggu muncul dalam pekerjaannya.
Aya, yang duduk agak jauh, bertanya, "Nek, apa ada sesuatu yang bikin Giana harus merasa bertanggung jawab atas kondisi Geraldi?"
Rahma menatap Aya, kemudian Giana. "Tidak. Kecelakaan itu bukan kesalahanmu. Kamu masih anak-anak. Tapi itu bukan berarti kamu harus berhenti marah atau sedih hanya karena keluarga mereka juga mengalami musibah."
Giana mengangguk tipis, meski dadanya tetap berat. Ia tak mengira akan tiba-tiba merasa lebih baik. Rahma tidak memintanya menerima keluarga Pradipta. Ia hanya memastikan Giana tidak mengubah rasa sakit menjadi kesalahan dirinya sendiri.
Gufta pulang ketika matahari mulai turun. Ia menyapa semua orang, lalu merasa suasana rumah agak berbeda. "Ada apa? Kalian rapat tanpa aku? Kalau ada makanan, aku keberatan kalau rapatnya dirahasiakan."
Aya tersenyum kecil. "Rapat keluarga. Agendanya memastikan kamu makan sebelum belajar."
"Nah, itu agenda yang aku dukung." Gufta meletakkan tas dan mengambil piring, tetapi matanya masih memeriksa wajah Giana. Setelah makan, ia mendekati kakaknya di teras. "Kak, kamu kenapa?"
Giana mempertimbangkan apakah harus menjelaskan semuanya. Ia akhirnya memilih bagian yang dapat dipahami tanpa membebankan detail. "Aku baru tahu orang yang terlibat dalam kecelakaan Mama dan Papa adalah suami dari ibu klienku. Aku belum tahu semua faktanya. Aku sedang mencoba memahami."
Gufta duduk diam. Ia terlalu kecil saat kecelakaan terjadi untuk mengingat banyak hal, dan Giana tidak ingin memintanya menggali sesuatu yang belum tentu ia simpan. "Kakak nggak salah, kan?"
"Tidak. Kamu juga tidak. Kita cuma sedang mengetahui hubungan yang rumit."
"Kalau Kakak butuh berhenti kerja sebentar, berhenti saja. Aku bisa belajar sendiri. Nenek juga masih bisa menyuruhku nyapu." Ia berusaha tersenyum. "Walaupun hasilnya mungkin tidak sesuai standar kebersihan nasional."
Giana tertawa pendek. "Kamu tetap harus sekolah dan belajar. Jangan mengambil tanggung jawab orang dewasa."
"Siap, Bu Ketua Rumah Tangga." Gufta bangkit dan kembali ke dalam, sengaja membiarkan mereka berdua berbicara.
Aya menyarankan Giana tidak mengambil keputusan besar malam itu. Giana setuju soal keputusan besar, tetapi satu hal sudah jelas baginya: ia tidak bisa melanjutkan kontrak dengan nama Aninta seolah tak terjadi apa-apa. Besok ia akan memberi tahu Farel dan meminta penghentian sementara.
Rahma merapikan baju yang tadi tertunda. Ia tidak memberi petuah panjang. Sebelum masuk kamar, ia hanya berkata, "Kalau ingatanmu datang sedikit-sedikit, biarkan. Kamu tidak harus memaksa dirimu membuka semuanya sekaligus."
Giana memandang halaman yang mulai gelap. Untuk pertama kalinya, masa lalu itu bukan lagi sekadar kisah kecelakaan yang berakhir di lorong rumah sakit. Ada nama, wajah, dan keluarga di baliknya—tetapi belum ada jawaban tentang penyebabnya.
Rahma kemudian menjelaskan bahwa ia tak pernah menceritakan perempuan itu karena waktu itu Giana sudah melihat terlalu banyak hal. Ia khawatir detail yang belum pasti akan menambah beban cucunya, bukan membantu. Rahma tidak menyembunyikan nama yang diketahui; ia memang tak pernah mendapatkannya. Giana berkata ia tidak menyalahkan neneknya. Ia hanya berharap sejak dulu mereka dapat mengatakan, "Ada seseorang yang datang meminta maaf, tapi kita tidak tahu siapa." Kalimat sederhana itu mungkin tak mengubah apa pun, tetapi akan memberinya ruang untuk bertanya.
"Kamu benar," ujar Rahma. "Nenek terlalu sibuk bertahan sampai mengira diam selalu lebih baik. Mungkin ada hal yang seharusnya Nenek ceritakan, walau jawabannya cuma bahwa Nenek tidak tahu." Ia meminta maaf tanpa meminta Giana segera menghiburnya.
Giana meraih tangan neneknya. "Aku tahu Nenek melakukan yang Nenek bisa. Aku juga sedang belajar bertanya tanpa menganggap semua orang punya jawaban."
Aya pamit setelah memastikan Giana tidak ingin ditemani malam itu. Sebelum pergi, ia mengingatkan nomor teleponnya tetap aktif. Giana berterima kasih dan berjanji mengabari jika pikirannya mulai terasa terlalu ramai. Ia tak mengucapkan janji bahwa semuanya akan baik-baik saja; untuk saat ini, cukup ada orang yang bersedia mendengarkan tanpa menyimpulkan.
Rahma mengingat mereka pulang dengan taksi yang sama, Gufta tertidur di pangkuannya. Ia tak ingat apakah perempuan itu bicara sebelum mereka keluar atau setelah dokter menyelesaikan urusan administrasi. Giana menulis dua kemungkinan itu, bukan memilih salah satu. Ia bertanya apakah neneknya ingin berhenti membicarakan malam tersebut. Rahma menjawab iya untuk hari ini. Giana menutup buku catatannya dan tidak melanjutkan pertanyaan.
Giana juga berkata bahwa catatan itu bukan kesimpulan hukum dan tidak akan ia sebarkan sebagai tuduhan. Rahma menyetujuinya; mereka hanya menyimpan pertanyaan untuk diperiksa kelak melalui saluran yang sah.