Pagi berikutnya, Giana tiba di kantor lebih lambat dari biasanya. Ia meminta waktu bicara dengan Farel dan Aya sebelum membuka daftar klien. Farel menutup laptopnya, sementara Aya menggeser kursi untuk memberi ruang. Giana menceritakan pertemuan dengan Aninta, pengakuan bahwa ia dokter yang bertugas malam kecelakaan, serta potongan ingatannya tentang perempuan yang meminta maaf.
Farel mendengarkan tanpa menyela. "Kamu yakin mau menghentikan kontrak?"
"Aku yakin peranku sebagai Aninta harus berhenti. Aku belum memutuskan soal seluruh pekerjaan administratif yang tersisa. Aku tidak mau keluarga Gama membayar seolah aku masih bisa hadir sebagai kakak palsu."
Aya menyandarkan punggung. "Kita cek isi perjanjian dan jam kerja yang sudah dijalankan. Hak kamu tetap dibayar. Kalau ada tugas yang tidak bisa kamu teruskan, kita sampaikan dengan jelas."
Farel setuju. Ia menegaskan bahwa tidak seorang pun di kantor akan menghubungi Gama lebih dulu dengan cerita tentang masa lalu Giana. Informasi itu milik Giana; ia berhak menentukan kapan dan bagaimana membagikannya. Untuk sementara, Farel akan menahan semua permintaan baru dari keluarga Pradipta.
Giana memeriksa salinan kontrak yang sudah ia pegang. Pekerjaan yang tersisa berkaitan dengan jadwal acara yang belum diputuskan dan komunikasi vendor. Karena pertemuan keluarga selesai tanpa tanggal pertunangan, sebagian tugas memang belum dikerjakan. Ia menandai jam kerja yang sudah terlaksana, biaya transportasi, dan pekerjaan persiapan yang dapat dibuktikan.
"Kita jangan menulis alasan pribadi terlalu detail di surat penghentian," kata Aya. "Cukup katakan perubahan batas peran dan kondisi yang membuatmu tidak bisa menjalankan bagian itu. Kalau kamu ingin menjelaskan lebih jauh ke Gama, itu keputusanmu sendiri."
Giana menatap daftar, lalu mengangguk. Ia tidak ingin rahasia masa lalunya menjadi gosip kantor. Namun, ia juga tidak akan menyembunyikan alasan profesional yang relevan: nama Aninta bukan kostum kerja biasa bagi dirinya; nama itu terkait dokter yang merawat adiknya dan mengenal keluarganya pada malam paling buruk dalam hidupnya.
Mereka menyusun surat penangguhan layanan sementara. Farel membaca ulang agar kalimatnya tak terdengar seperti ancaman atau tuntutan tambahan. Isinya menyatakan bahwa Giana tidak dapat lagi menjalankan peran yang memakai identitas Aninta/Putri. Pekerjaan teknis yang belum dilakukan dihentikan, sementara pembayaran akan dihitung sesuai kontrak dan layanan yang benar-benar sudah diberikan.
Sebelum surat dikirim, Giana meminta waktu satu jam. Ia menelepon Aninta dan mengatakan bahwa ia sedang menghentikan perannya. Ia tidak meminta Aninta menyampaikan pesan kepada Gama. Aninta berjanji akan menahan diri dan tidak menjadikan percakapan mereka bahan pembicaraan keluarga.
"Saya perlu bilang satu hal," ujar Aninta. "Kalau kamu merasa saya seharusnya bicara lebih cepat, saya akan mendengarnya. Saya memang tahu nama keluargamu saat pertama membaca catatan kecelakaan, tetapi saya tidak tahu bahwa kamu yang bekerja untuk Gama sampai belakangan. Saya tidak menghindar karena ingin menyembunyikan fakta."
Giana tidak langsung menjawab. "Aku belum bisa menilai semuanya. Untuk saat ini aku cuma tahu kamu dokter yang memberitahu Gufta selamat. Aku perlu memisahkan itu dari hal lain."
"Saya mengerti."
Setelah menutup telepon, Giana mengirim surat melalui saluran resmi perusahaan. Ia menyalin Aya dan Farel, tidak memasukkan rincian kecelakaan. Gama belum membalas selama beberapa menit. Giana menaruh ponsel menghadap ke bawah dan kembali bekerja, meski ia tahu tak semua hal dapat dihindari hanya dengan mematikan layar.
Ketika balasan masuk, isinya singkat: Gama meminta waktu untuk membaca surat dan menghormati batas layanan yang ditetapkan. Ia tidak bertanya kenapa. Giana belum merasa lega; setidaknya tidak ada permintaan agar ia tetap memainkan peran itu.
Farel membantu mengalihkan jadwal tugas yang tersisa kepada staf lain. Ia memastikan tak ada biaya yang dibebankan kepada Giana atas pekerjaan yang belum dilakukan. Aya mengurus komunikasi kepada vendor dengan keterangan netral bahwa acara belum memiliki tanggal.
Menjelang siang, seorang klien lama menelepon meminta kantor mereka mengaku sebagai kerabat saat kunjungan rumah sakit. Aya menolak dan menawarkan pendampingan administratif saja. Setelah panggilan berakhir, ia melirik Giana. "Mungkin beberapa aturan ini memang telat kita pasang."
"Yang penting kali ini kita tidak menyuruh orang lain menyamar," kata Giana.
Farel menyimpan surat penghentian di berkas kontrak. Hari itu tidak menyelesaikan apa pun tentang kecelakaan, tetapi mengubah sesuatu yang berada dalam kendali Giana: ia bukan lagi bagian dari sandiwara keluarga Pradipta.
Farel mengirimkan salinan hitungan itu kepada Giana untuk diperiksa sebelum kantor menutup tagihan. Tidak ada angka yang dikaitkan dengan penderitaan atau informasi keluarga. Yang tercantum hanya jam persiapan, biaya perjalanan, dan layanan yang betul-betul diberikan. Giana menemukan satu jam tambahan belum masuk, menunjukkannya kepada Farel, lalu mereka membetulkannya sebelum surat final dikirim. Ia ingin batas itu berlaku dua arah: tidak dibayar untuk pekerjaan yang tak dilakukan, tetapi juga tidak menghapus kerja yang sudah ia berikan hanya karena situasi menjadi rumit.
Aya mengusulkan agar kantor memperbarui formulir persetujuan klien. Peran yang menyangkut penyamaran identitas harus diperiksa langsung oleh semua pihak yang namanya dipakai, dan pekerjaan apa pun di lingkungan medis hanya boleh bersifat pendampingan nonklinis. Farel mencatat usulan itu untuk dibicarakan bersama tim. Mereka tidak berpura-pura bahwa aturan baru akan menghapus keputusan buruk masa lalu, tetapi setidaknya ada langkah konkret yang bisa mencegah staf lain menerima permintaan serupa tanpa memahami akibatnya.
Giana membaca ulang surat penghentian sebelum meninggalkan kantor. Ia merasa takut akan reaksi Gama dan juga lega karena tidak lagi harus menimbang setiap kata seolah dirinya benar-benar anggota keluarganya. Kedua perasaan itu hadir bersamaan, dan ia tidak harus memilih salah satunya.
Sebelum pulang, Farel mengingatkan Giana bahwa ia boleh meminta salinan semua perhitungan. Giana menyimpannya di folder pribadinya, bukan sebagai bukti tentang kecelakaan, melainkan bukti bahwa urusan kerjanya diselesaikan dengan jelas.
Di kantor, Aya menyimpan formulir baru sebagai usulan, bukan aturan yang sudah berlaku. Mereka akan membahasnya bersama staf setelah semua jadwal klien hari itu selesai.